Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran, Cerahnya Pelangi dan Nuansa Jawa
ASKARA - Gereja Ganjuran dulunya bagian dari pabrik gula milik saudara Joseph dan Julius Schmutzer, dua orang Belanda. Pada tahun 1912 mereka mulai menjaga hak buruh sebagaimana ditentukan dalam Rerum Novarum, sebuah ensiklik yang diterbitkan oleh Paus Leo XIII pada 15 Mei 1891. Sebuah surat terbuka yang diedarkan kepada semua uskup yang membahas kondisi kelas pekerja. Paus Leo XIII mendukung hak-hak buruh untuk membentuk serikat buruh, tetapi ia menolak sosialisme dan mengukuhkan hak milik pribadi.
Mereka juga mulai mendirikan sarana pendidikan di wilayah tersebut. Tujuh sekolah untuk laki-laki dibuka pada tahun 1919 dan sekolah perempuan dibuka pada tahun 1920. Dengan hasil dari pabrik mereka, keluarga Schmutzer mendirikan Rumah Sakit St Elisabeth di Ganjuran. Mereka juga mendirikan Onder de Bogen (kini Rumah Sakit Umum Panti Rapih) di kota Yogyakarta. RS St Elisabeth diurus oleh Tarekat Carolus Borromeus.
Pada tahun 1920 pula, Pastor Van Driessch, seorang Yesuit yang pernah mengajar di Kolese Xaverius di Muntilan, mulai berkhotbah di Ganjuran dan mendirikan komunitas Katolik. Pada tanggal 16 April 1924, keluarga Schmutzers mendirikan gereja di tanah mereka, dengan van Driessch sebagai pastor pertama. Ukiran dan bagian gereja lain dikerjakan oleh seorang seniman Jawa bernama Iko.
Tiga tahun kemudian, masyarakat membangun sebuah candi setinggi 10 meter, mirip candi yang ada di Prambanan. Iko membuat patung Maria dan Yesus yang menggambarkan mereka sebagai penguasa dan guru Jawa. Patung diukir dengan motif batik. Batu diambil dari kaki Gunung Merapi di bagian utara, sementara pintu masuk diarahkan ke Selatan; orientasi ini mencerminkan kepercayaan orang Jawa pada harmoni utara dan selatan. Candi ini diresmikan pada tanggal 11 Februari 1930 oleh Uskup Batavia Antonius van Velsen.
Pastor Van Driessch meninggal pada tahun 1934 dan diganti oleh Pastor Albertus Soegijapranata. Keluarga Schmutzer kembali ke Belanda pada tahun yang sama.
Selama Revolusi Nasional Indonesia pabrik gula dibakar habis, tetapi sekolah, gereja, dan rumah sakit selamat. Pada tahun 1947 Pastor Justinus Darmojuwono mulai menjabat sampai tahun 1950.
Pada tahun 1988, di bawah pimpinan Pastor Gregorius Utomo, gereja ini mulai lebih menekankan pengaruh Jawa-nya.
Gereja Hati Kudus Yesus terletak di Ganjuran, Bambanglipuro, Bantul, 17 kilometer di sebelah selatan kota Yogyakarta. Gereja ini dibangun di lahan seluas 2,5 hektare dan termasuk tempat parkir, candi, gereja, pastoran, dan beberapa bangunan lain.
Gedung gereja yang hancur pada tahun 2006, dibangun kembali dengan gaya joglo dan dihiasi dengan ukiran gaya Jawa yang menutupi 600 meter persegi. Ini termasuk ukiran nanas dari kayu serta ukiran berbentuk jajar genjang yang disebut "Wajikan". Altarnya dihiasi dengan malaikat yang berbusana tokoh wayang orang. Karena gaya arsitektur ini, ilmuwan Belanda M. C. Ricklefs menyatakan bahwa gereja di Ganjuran mungkin merupakan manifestasi penyesuaian gereja Katolik di Jawa yang paling menonjol. Sementara, ilmuwan Jan S. Aritonang dan Karel A. Steenbrink menyatakan bahwa gereja itu merupakan "produk paling spektakular dari kesenian pribumi yang dibantu orang Eropa".
Bukan hanya sisi religi Kristiani dan budaya Jawa yang menyeruak di lingkungan gereja ini. Kesejukan dan kedamaian selalu hadir saat Anda bersimpuh di depan candi. Setelah membasuh diri di mata air yang ada di sisi timur candi atau Anda juga dapat membasahi diri di pancuran Siloam di yang sisi selatan candi.
Apapun agamanya, Anda bisa mendapatkan kedamaian di tempat ini. Sejarah candi ini mengajarkan bahwa budaya apapun bisa dipersatukan, demikian pula dengan diri dan Sang Pencipta.
Percaya atau tidak, banyak orang yang menyatakan bahwa permohonannya terkabul saat ia berserah di tempat ini. Tapi bukan semata permohonan yang sebaiknya Anda hadirkan di sini. Serahkan dan pasrahkan perjuangan Anda di sini.
Bukan doa hafalan yang perlu dinyatakan. Bukan keahlian Anda merangkai kata pada Sang Khalik yang perlu Anda utarakan. Hanya cukup diam dan terpejam. Menikmati hembusan angin sepoi yang akan membelai kulit tubuh Anda. Menikmati kicau burung atau suara jangkrik, katak, atau binatang yang ada di sekitar Anda. Diam dan berserah. Berserahlah pada hak prerogatif Sang Esa yang akan membawa Anda pada kedamaian. Membawa Anda pada keyakinan bahwa Dia akan memberikan apa yang Anda butuhkan. Saat Anda membuka mata, Sang Pelangi pun akan muncul. (leong/lov)

Komentar