Mendorong Diksi Baru Gantikan Kalimat "Janda"
ASKARA - Penggunaan kalimat "janda" sering digunakan di berbagai media massa. Baik media televisi, cetak hingga online. Representasi janda dalam pemberitaan memuat kesan yang sensualitas. Stigma yang melekat pada janda akibat pengaruh produk budaya populer.
Kesan yang dibangun terhadap sosok janda merupakan stereotipe dari status janda tersebut. Kalimat "janda" semestinya tidak lagi menjadi kata dengan konotasi negatif.
Komunitas Perempuan Ungu, yang mewakili para wanita tidak bersuami mendorong media massa dalam penggunaan istilah janda mengubah menjadi ibu orangtua tunggal. Hal itu dinilainya terdengar lebih positif.
"Kami kebetulan mewakili untuk bisa menitipkan. Apakah media bisa mempublikasikan kata "janda" itu sebagai "ibu orangtua tunggal". Rasanya itu lebih indah buat anak kita," ujar Wakil Ketua Komunitas Perempuan Ungu, Wenny Suhendra kepada Askara, Jumat (13/3).
Seperti penggunaan istilah difabel, berasal dari kata differently able, maksudnya memiliki kemampuan yang berbeda. Istilah ini dirasa lebih berkonotasi positif daripada istilah disable atau cacat yang bermakna memiliki kekurangan fisik maupun mental.
Mengingat mereka peduli dan memikirkan kondisi para ibu orangtua tunggal. Memberikan dukungan satu sama lain dalam menjalani hidupnya sehari-hari untuk menghidupi anggota keluarganya.
"Kita sering kumpul. Semangat itu kan dari kita sebagai role model karena kita sendirian tidak ada sosok ayah. Bagaimana kita menjadi sosok ayah terutama bagi anak lelaki. Makanya harus menunjukkan juga diri kita diterima," ucap Wenny.
Belum lagi istilah janda kerap menjadi bahan guyonan yang konotasinya negatif. Menjadi seorang janda bukanlah perkara mudah dan memang tidak ada yang menginginkan.
"Sering kali kata-kata janda itu menjadi bahan candaan yang konotasinya negatif. Kadang kita kasihan sama anak-anak, kalau kita sebagai orangtua sudah kuat," kata Wenny.
Komunitas ini terdiri dari berbagai macam profesi. Ada yang menjadi dosen maupun karyawan swasta. Mereka memberikan bantuan hukum dan perlindungan psikolog.
"Terkadang mereka kalau sudah terpuruk butuh banget kita rangkul. Bahkan mereka sudah kita anggap sebagai anak. Kadang mereka tidak bisa menceritakan kepada keluarga," tutur Wenny.
Jurnalis senior, Desi Anwar mengatakan, mungkin istilah tersebut perlu didorong supaya semakin banyak penggunaanya di masyarakat. Umumnya media memberitakan istilah yang sudah lazim digunakan masyarakat.
"Jadi, seharusnya kita coba mengedukasi masyarakat untuk lebih menggunakan kata itu sendiri. Tidak mungkin media menyebutnya tapi tidak ada yang menyebutnya. Jadi dimulai dari komunitas itu," terang Desi.

Komentar