Rabu, 17 Juni 2026 | 22:51
NEWS

Tidak Ada Kepanikan Warga Sekitar RSPI Sulianti Saroso

Tidak Ada Kepanikan Warga Sekitar RSPI Sulianti Saroso
Darmini, penjual makanan di sekitaran RSPI Sulianti Saroso (Askara/Aprilia Rahapit)

ASKARA - Pasca ditetapkannya dua warga Indonesia terjangkit virus corona (Covid-19) pada Senin kemarin (2/3), masyarakat seketika mengalami panic buying. Segala kebutuhan dibeli untuk memenuhi stok di rumah lantaran khawatir meluasnya penularan virus. 

Namun di sisi lain, kondisi panik tersebut berbeda 180 derajat dengan situasi di sekitaran RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara. 

Pantauan Askara, nampak di bagian depan RSPI berjajar warung dan beragam tempat makan. Mereka tidak merasakan kepanikan atau memilih untuk menutup toko. 

Bahkan mereka yang berjualan nampak santai melayani pembelinya baik dari pegawai RSPI maupun lainnya, jarang juga yang mengenakan masker. Apalagi lokasi mereka sangat dekat rumah sakit yang menampung pasien positif corona maupun pasien yang masih dalam pemantauan dan pengawasan. 

Salah satu penjual makanan Darmini mengaku cukup kaget dengan hadirnya virus corona di Indonesia. Namun, kehadiran virus menurutnya tidak jauh situasinya seperti beberapa tahun lalu. Di mana, RSPI juga pernah menangani kasus serupa seperti virus SARS, MERS, hingga flu burung atau H5N1. 

"Saya (berjualan) di sini mungkin sudah 10 tahun. Virus-virus lain yang ditangani rumah sakit ini seperti SARS ya saya ngalamin," jelasnya saat ditemui Askara, Selasa (3/2).

Darmini mengaku, hingga saat ini dirinya masih beraktifitas seperti biasa dan tidak ada ada upaya melakukan pencegahan khusus untuk terhindar dari virus. Terlebih pihak RSPI sendiri juga belum memberikan peringatan darurat kepada warga sekitar. 

Meski begitu, Darmini berharap agar RSPI untuk tetap menjaga virus berbahaya itu agar tidak berdampak pada sekitar lingkungannya atau perumahan warga.

"Kalau kita sebagai warga ya berharap sih menjamin. Ya gimana sih mudah-mudahan rumah sakit usaha untuk bisa menyembuhkan penyakit itu, menjamin tidak tersebar ke mana-kemana," harapnya.

Dirut RSPI Mohammad Syahril berharap masyarakat yang sedang panic buying untuk tetap berpikir rasional. Dia juga menyayangkan banyaknya informasi bohong (hoax) yang membuat masyarakat menjadi panik sehingga berdampak pada mahalnya harga sejumlah barang seperti masker serta antiseptic.  

"Rasional saja ya. Jangan tidak beralasan dan terpengaruh hoax," katanya kepada Askara. 

Menurut Syahril, warga di sekitaran RSPI maupun di sejumlah tempat lain untuk menekankan kewaspadaan, bukannya dengan kepanikan. Terlebih, penyebaran virus corona bukanlah melalui udara. 

"Penularan Covid-19 ini melalui droplet (percikan dahak dan bersin), bukan beterbangan melalui udara yang jaraknya jauh-jauh. Juga bukan melalui makan, minuman, buah-buah atau barang-barang elektronik seperti banyak disebarkan melalui media sosial," paparnya.

Dia menambahkan, cara mencegah penyebaran virus adalah dengan menjaga imunitas tubuh melalui makanan bergizi hingga menjaga kebersihan.

"Jangan ketakutan dan panik yang berlebihan tetapi tetap waspada. Untuk menghindari tertular lakukan dengan gerakan masyarakat hidup sehat yaitu makan yang cukup dan bergizi, jaga kebersihan lingkungan, olah raga dan tidur cukup," tutur Syahril.

"Sering cuci tangan, hindari berhubungan (kontak langsung) dengan pasien, pakai masker di tempat-tempat yang polusi," tambahnya.

Komentar