Terakreditasi WHO, Alasan RSPI Menjadi Rujukan Penanganan Covid-19
ASKARA - Dua pasien yang positif terjangkit virus corona (covid-19) menjadi kasus pertama di Indonesia. Kedua pasien yang merupakan ibu dan anak ini kini telah ditangani di RSPI Prof Dr Sulianti Saroso. Lalu apa keistimewaan RS ini?
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan, rumah sakit penanganan infeksi ini merupakan salah satu rujukan yang telah terakreditasi World Health Organization (WHO), yang terjamin dengan peralatan canggih, khususnya di ruang isolasi.
"Ya, di sini sudah terakreditasi WHO, di sini sudah sangat lengkap. Ruang isolasinya sudah sangat baik, posisinya sudah sangat sesuai dengan standar dan kita lakukan semuanya dengan cara-cara SOP yang sudah disepakati," ujarnya, usai memantau dua pasien positif corona, di rumah sakit tersebut, Senin (2/3).
Terawan mengatakan, Indonesia dikenal dengan negara yang telah memfungsikan Joint Joint External Evaluation tool (JEE Tool). JEE tool ini menjamin Indonesia mampu menghadapi segala kejadian tak terduga akibat wabah virus.
"Kita ini dikenal dengan negara yang sudah memakai JEE tool Joint External Evaluation dari WHO tool, toolnya dari sana. Kita sebenarnya dari 2017 sudah dinilai salah satu negara yang sudah dinilai kesiapannya menghadapi wabah dengan JEE tool itu di sini," ungkap Terawan.
Sementara itu, Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, Mohammad Syahril mengatakan, rumah sakit yang dipimpinnya tersebut telah menerima pasien berbagai virus yang sebelumnya tidak ada, seperti beberapa tahun lalu adanya wabah SARS, MERS, hingga flu burung.
"Ini kan rumah sakit rujukan khususnya rumah sakit menerima rujukan manapun untuk infeksi yang sebelumnya tidak ada. Contoh dulu SARS tidak ada kan. Flu burung enggak ada kan, nah sekarang Covid-19. Jadi rumah sakit ini jadi RS rujukan," tutur Syahril.
RSPI Sulianti Saroso juga memiliki alat khusus untuk mengisolasi pasien yang terinfeksi agar tidak terjadi atau mudah terjadinya penularan kembali.
"Karena begitu pasien masuk ruang itu kita punya alat agar suasana di sana kondusif agar tidak terjadi penularan virus," ujarnya.
Alat tersebut bernama Negative Pressure atau tekanan negatif yang berfungsi untuk meminimalisir penyebaran virus langsung dari bagian sumber, dimana para perawat maupun dokter mengenakan seragam atau komponen antivirus lainnya secara ketat. Adapun air handling unit yang keberadaannya adalah untuk mengatur sirkulasi udara, yang fungsinya sama yakni agar virus dari pasien tidak menyebar.
Untuk dua pasien yang baru saja dirawat akibat Covid-19, disebutkan tidak ada penanganan khusus. Sebab kedua pasien tersebut tidak dalam kondisi yang payah, atau tidak memiliki gejala yang berat. Sehingga saat ini pasien tersebut tengah menjalani upaya self disease.
"Bagus, seperti saya katakan jadi pasien yang positif pun belum tentu punya gejala yang berat. Pengobatannya tidak ada yang khusus. Self disease. Jadi nanti pasien akan sembuh sendiri daya tahan tubuh yang bagus kemudian meningkatkan imunitas dan juga dia tidak terlalu capek dan stress fisik berlebihan," tegasnya.
Syahril menjelaskan, dalam mekanisme perawatan ada beberapa kriteria. Setiap pasien yang masuk pengawasan pasti terpantau seluruh rumah sakit termasuk Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).
Kemudian jika pasien dalam pengawasan tersebut mengalami gejala yang menguat pada virus seperti batuk, pilek, demam, kemudian melakukam kontak dengan orang positif dan melakukan kunjungan ke wilayah pandemik, maka pasien tersebut wajib untuk dirujuk ke RSPI Prof Dr Sulianti Saroso.
"Kalau terlanjur (masuk) rumah sakit swasta, mereka sudah tahu, maka dia tidak mau merawat karena risikonya sangat tinggi. Langsung ke sini (RSPI Prof Dr Sulianti Saroso) dan langsung ke ruang isolasi," ungkapnya.
Syahril menyebut, saat ini kedua pasien tersebut berada di satu lantai dengan ruang isolasi terpisah, adapun dua orang lainnya namun sebagai pasien dalam pengawasan dengan status negatif. Disebutkan, jika seseorang telah dinyatakan negatif maka diperlukan lima hari sebagai masa pemantauan sebelum akhirnya dipulangkan.
"Nanti setelah lima hari bisa pulang, kalau negatif bisa pulang," tandasnya.

Komentar