Dua Siswi Ini Sulap Daun Pisang Jadi Produk Perawatan Kulit
ASKARA - Umumnya daun pisang dipakai sebagai pembungkus berbagai macam penganan tradisional. Namun, di tangan dua siswi SMAN 38 Jakarta, Icha Haerunnisha dan Aulia Zahara Meinasya daun pisang dimanfaatkan menjadi body butter.
Buah karya keduanya bahkan berhasil meraih juara dalam Lomba Karya Ilmiah Jakarta Selatan pada 2019. Inovasi membuat body butter bermula saat melihat sekeliling rumah mereka banyak pohon pisang yang lebih sering mengolah buah dan kulitnya.
Tapi tidak semua orang memanfatkan daunnya, terlebih pemanfaatan daun pisang masih sebatas untuk pembungkus makanan. Karenanya muncul ide keduanya untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dari daun pisang.
"Kita coba cari-cari kandungan yang ada di daun pisang, terus menurut literatur yang kami baca, daun pisang mengandung allantoin. Itu zat yang bisa melembutkan dan melembabkan kulit," ujar Icha Haerunnisha, kepada Askara, Minggu (1/3).
Prosesnya cukup sederhana. Pertama menggunakan minyak alami yaitu shea butter, kemudian dilelehkan. Ketika sudah tidak panas dimasukkan ke lemari es.
"Setelah beberapa jam di mixer, terus ditambahin ekstrak daun pisang dan minyak essensial," terang Icha.
Berkat karyanya ini pihak sekolah sangat mengapresiasi dan mendukung. Namun mereka belum memproduksi body butter untuk dipasarkan. Karena untuk produksi produknya itu harus melakukan uji lebih lanjut.
"Dalam pengujian mutu body butter kita udah lulus 3 uji. Kita pas Lomba Karya Ilmiah Jakarta Selatan bikin 2, ukuran 10 mililiter," kata Icha.
Namun, bukan tanpa kendala yakni pengujian allantoin yang merupakan senyawa alami. Keduanya mencari literatur tentang standar pengujian allantoin. Sempat mencoba uji di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tapi tidak bisa karena tidak ada standarisasi allantoin itu.
"Terus kita coba cari-cari lab lain, akhirnya ada lab yang bisa buat uji allantoin tersebut, itu di lab kimia Universitas Indonesia (UI). Tapi kita juga harus ngasih literatur standarisasinya," ucap Icha.
Kendati demikian, keduanya bertekad produk ini bisa dikembangkan lagi, dan melalui tahap uji lebih lanjut sehingga bisa dipasarkan. Lantaran Body butter ini ekonomis untuk masyarakat, karena awet untuk digunakan dan harganya terjangkau.
"Rencana pastinya ada, tapi kita sekarang lagi sibuk dalam akademik dan masing-masing juga lagi mengerjakan karya tulis ilmiah baru untuk opsi 2020," cetusnya.
Aulia Zahara Meinasya menuturkan, kehadiran karya ini diharapkan bisa menemukan body butter yang berbahan dasar lebih mudah ditemukan seperti daun pisang.
"Kebetulan dalam proses pembuatan body butter-nya kami 100 persen menggunakan bahan-bahan alami, sehingga bisa meminimalisir efek samping atau bahaya dari bahan kimia yang terdapat dalam body butter di pasaran," tutur Aul, disapanya.
Dengan adanya karya ini, jiwa inovatif generasi muda saat ini bisa terus berkembang dan meningkat. Pasalnya banyak sesuatu yang bisa diciptakan dari lingkungan sekitar.
"Ternyata bahan-bahan di alam yang tidak terduga dan bahkan sering kali menjadi limbah bisa dimanfaatkan dengan sesuatu yang memiliki nilai jual tinggi dibanding sekedar sampah aja," tandas Aul.

Komentar