Lo Ban Teng, Sisi Lain Kekuatan Bela Diri King Gunawan
ASKARA - Siapa sangka King Gunawan yang merupakan ahli foto aura satu-satunya di Indonesia memiliki sisi lain yang kental dengan ilmu bela diri tradisional.
Ilmu bela diri yang diembannya sejak kecil bahkan cukup tradisional dibandingkan dengan bela diri lain yang pernah ada di dunia, yakni Kungfu Lo Ban Teng.
Kedua lengan pria kelahiran Jakarta 1 November 1949 ini nampak kekar, bahkan ada tanda bekas memar menghitam di bagian engsel. King seakan bukan main-main dalam menekuni hobi bela diri asal Tiongkok itu.
Selain didorong oleh ayahnya yang juga menekuni Lo Ban Teng. Tidak di lain tempat, rumah cukup menjadi tempat latihan bela diri sejak King kecil. Kegilaannya dengan Lo Ban Teng bahkan membuatnya tetap mencari ilmu kungfu tersebut setelah sang ayah tiada.
"Soal kungfu sejak saya sekolah dasar, dari ayah saya belajar, dan saya di rumah diajari. Setelah papah saya sudah enggak ada, saya cari gurunya. Dan sampai detik ini saya tekuni dan hobi, sudah mendarah daging," papar King saat berbincang dengan Askara.
King sendiri sudah mencoba berbagai jenis bela diri termasuk karate, namun sayangnya ia merasa kurang cocok hingga akhirnya bersungguh-sungguh mempelajari Lo Ban Teng.
Untuk diketahui, Lo Ban Teng merupakan seorang pria kelahiran Tang Ua Bee Kee, Kota Cio Bee, Provinsi Hokkian, Tiongkok Tengah pada tanggal 1 bulan keenam tahun 1886. Ambisi Lo Ban Teng pada kungfu membuatnya dikirim ke Indonesia untuk tinggal di rumah saudaranya bernama Chin Tong di Kampung Selan, Semarang.
Lantaran tidak betah, ia hanya bertahan tujuh bulan dan kembali ke Tiongkok. Ia kembali belajar dengan seorang guru bernama Yoe Tjoen Gan. Kepercayaan terhadap Lo Ban Teng membuatnya dipercaya memegang resep obat dan ilmu silat Ho Yang Pay sebagai warisan dan wasiat dari Yoe Tjoen Gan. Ia pun kemudian tetap menggali ilmu dengan guru-guru lainnya dalam seperguruan Yoe Tjoen Gan. Hingga akhirnya Lo Ban Teng memutuskan untuk kembali ke Semarang saat berusia 41 tahun.
Menurut King, nama Lo Ban Teng meluas hingga ke seluruh Pulau Jawa. Lo Ban Teng juga berkeliling memperkenalkan ilmu kungfu itu bersama rombongan barongsai yang dibinanya.
"Ini kungfu disebutnya Lo Ban Teng, kungfu ini datang dari Tiongkok pada tahun 1928 yang kemudian datang ke Semarang akhirnya meluas ke Jakarta," ujar King.
Meskipun nama tersebut tidak begitu terdengar umum namun Lo Ban Teng memiliki perbedaan dibandingkan kungfu jenis lain. Di mana, murni tenaga dalam tubuh menjadi kekuatan.
"Kungfu Lo Ban Teng menggunakan tenaga badan, jadi seperti geberan dari dalam tubuh. Jadi soul-nya di situ. Jadi kita enggak tahu atau enggak dikasih tahu ya enggak mungkin bisa," papar King.
Lanjutnya, siapapun yang bisa menekuni Lo Ban Teng akan memahami kekuatan energi dalam diri.
"Di situ banyak rahasia-rahasia tenaga itu dari mana. Kenapa bisa keluarnya kencang, nancep seperti panah," ujarnya.
Saat ini, perkembangan Lo Ban Teng cukup bertahan kuat, khususnya didominasi oleh orang-orang Hokkian Tiongkok. Di mana Lo Ban Teng menjadi perpaduan dengan kungfu jenis lainnya yang ada sejak Dinasti Song.
Penyebaran kungfu ini bahkan sangat bersinggungan dengan Perang Candu pada 1839-1860 yang membuat penyebarannya meluas hingga ke seluruh Asia. Saat ini pengurus besar dari Hokkian Tiongkok belakangan disebut tengah memanggil kembali sang penerus aliran dari berbagai jenis kungfu, salah satunya Lo Ban Teng.
"Belakangan Hokkian Tiongkok itu sumbernya di situ, jadi dia panggil, dia cari negara yang lari ke Singapura, Malaysia karena waktu itu kan perang candu. Dicari candu-candu dibakar, nah pecandu ini ditangkapi dan pada kabur dan akhirnya berkembang. Jadi sekarang dikumpuli lagi sampai ketemu 54 negara yang satu aliran," papar King.
Saat ini King menjabat sebagai penasihat Pengurus Besar Wushu Indonesia (PBWI) Tradisional Kungfu Lo Ban Teng. Ia juga turut berjuang untuk terus menggaungkan Lo Ban Teng di Indonesia, salah satunya dengan menggelar pertemuan di Jakarta pada 25 Agustus 2019 lalu. Sejumlah perwakilan negara tetangga pun turut hadir.
"Tahun kemarin saya dan yang semua seperguruan termasuk suhu saya buat reuni. Jadi saya punya ide mengumpulkan semua untuk saling kenal lagi. Jadi kita memberanikan diri undang dari China sampai Filipina," cerita King.
Saat itu, Filipina membawa 22 orang sementara dari Tiongkok delapan orang dari kuil shaolin. Dalam acara itu semua yang hadir pun menjadi saling kenal. Atas pertemuan tersebut, pengurus Lo Ban Teng dari Tiongkok memuji Indonesia dan menunjuk Indonesia menjadi tuan rumah kejuaraan Lo Ban Teng pada 2021 mendatang.
"Kebetulan acara itu tanggal 25 Agustus dan tanggal 1 November kita kumpul di Tiongkok. 23 negara hadir saat itu kita diundang, dan karena mereka melihat di Emporium sukses kata mereka dua tahun lagi Indonesia jadi tuan rumah," kata King.
Rencananya, kejuaraan kungfu Lo Ban Teng akan mengusung nama Airlangga sebagai nama depan dari Ketua PBWI saat ini yakni Airlangga Hartarto yang juga merupakan menteri perindustrian.
"Kita akan memperebutkan Piala Airlangga, negara semua akan ikut. Kita bukan fight atau berantem tapi kita nanti menampilkan jurus dan nanti juri dari PBWI. Filipina dan semua negara nanti
taruh orang untuk jadi juri. Nanti siapa yang mendapatkan medali emas terbanyak berhak mendapatkan piala," jelas King.
Menuju 2021, Piala Airlangga saat ini masih dilakukan pematangan konsep yang rencananya juga akan menghadirkan sejumlah menteri, diharapkan juga bisa dihadiri oleh presiden. Kehadiran mereka sebagai bentuk penghargaan betapa besarnya kekayaan aset bela diri tradisional Kungfu Lo Ban Teng. Kejuaraan ini juga akan menjadi ajang besar Kungfu Lo Ban Teng yang kali pertamanya di dunia dan diselenggarakan di Indonesia.

Komentar