Aksi Kemanusiaan Menuju Jalan Spiritual (1)
ASKARA - Warisan leluhur di penjuru Tanah Air sarat dengan nilai spiritual membuat pria asal Belgia bernama Patrick tergerak mendalami hal itu di Tanah Jawa. Komitmen berbuah manis yang memiliki manfaat besar bagi kehidupannya.
Kisahnya bermula ketika Indonesia mengalami masa sulit, tepatnya tahun 1998 saat terjadi gejolak ekonomi. Kala itu dirinya seorang pebisnis meubel dan pernah menjadi relawan kemanusiaan di Indonesia.
"Terkait tujuan saya di Jawa ini sudah lama, saat tahun 1997 krisis moneter. Jadi sudah 22 tahun saya datang," ujar Patrick dalam dialognya di channel Youtube Surya KKS.
Awalnya wara-wiri dan sejak tahun 2009-2010 Patrick menetap di Indonesia, tepatnya wilayah Bantul, Yogyakarta. Ketertarikannya untuk mengembangkan spiritual tak terlepas dari ilmu filsafat dan ajaran penerapan-penerapan ilmu melalui tokoh pewayangan.
"Jadi sudah hampir 17 tahun saya menetap. Lahiriah bernama Patrick tapi di Jawa saya menemukan tokoh punakawan Petruk. Sangat kagum saya," bebernya.
Selain ingin mendalami spiritualnya, rasa empati terhadap sesama sudah muncul dan tergambar ketika rangkaian bencana melanda Indonesia. Patrick pun ikut membantu masyarakat terdampak bencana.
"Sekitar tahun 2010 terakhir sebagai relawan kemanusiaan di Gunung Merapi. Sekitar setahun hingga tahun 2011 saya sibuk banget di lereng Merapi. Dari klaten, Jogja dan Magelang," jelasnya.
Bersama sebuah kelompok, Patrick membuka praktik pengobatan tradisional seperti mengolah jamu dan memijat masyarakat khususnya pengungsi yang kehilangan harta benda.
"Seni pengobatan timur dengan tim sekitar 30 orang. Kita melayani para pengungsi di kamp pengungsi dari Klaten hingga Magelang selama sebulan," tuturnya.
Di posko pengungsi, selama lima sampai enam jam mereka bisa melayani 300 orang karena 30 orang relawan bisa melayani 10 orang berturut-turut.
"Dapat jamu dan pijitan, semuanya serba lengkap," kata Patrick.
Aksi kemanusiaannya tidak berhenti di situ. Patrick kemudian membantu beberapa komunitas di Deles, Klaten. Setelah mereka pulang menemukan desa yang hancur, ternaknya mati dan banyak kerugian ekonomi.
"Manusianya selamat tapi sumber pemasukan mereka harus mulai dari nol. Karena di selatan sudah dilayani maka saya fokus di Deles," jelasnya.
Mereka bergotong royong membantu masyarakat membangun kembali fasilitas desa yang rusak akibat bencana alam. Masyarakat juga menerimanya dengan senang hati.
"Pokoknya di atas Muntilan, dua titik itu masalahnya krisis air bersih untuk minum. Jadi kita bantu bikin tanggul menarik air dari berbagai sumber tersembunyi saat itu tapi sudah dibuka," beber Patrick.
Tindakan baiknya itu harus mengorbankan uang tabungan yang terkuras. Untuk menggerakkan pelayanan pengobatan alternatif dan proyek berbasis komunitas di desa terdampak bencana itu.
"Iya karena dari gaji saya sebagai konsultan waktu itu. Saya sebenarnya mengeluarkan banyak duit dari dompet saya pribadi tapi tidak ada penyesalan karena semua itu berjalan tiap tempat, diterima dengan sangat besar hati," tandas Patrick.

Komentar