Jumat, 19 Juni 2026 | 07:51
COMMUNITY

Sekolah Logika: Solusi Pemerintah Atasi Hoaks

Sekolah Logika: Solusi Pemerintah Atasi Hoaks
Para pengurus sekolah logika (Istimewa)

ASKARA - Banyak cara mengembangkan potensi peserta didik dalam belajar. Salah satunya yang diterapkan sekolah logika, yang menggunakan metode berisi pelatihan logika sehingga dapat membantu menentukan penalaran atau argumentasi valid atau tidak. 

Sekolah logika itu dibentuk oleh Muhammad Musfi Romdoni lulusan jurusan filsafat Universitas Indonesia dan seorang temannya Mu’addibi Ashfiya. Pertama kali dilakukan pada 17 Januari 2019 di Universitas Gunung Rinjani.

Terdapat empat sekolah berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan pernah terselenggara di Depok, Jawa Barat. Dalam waktu dekat juga akan mengadakan kuliah secara online bersama unit kegiatan mahasiswa Universitas Indonesia. 

Muhammad Musfi Romdoni mengatakan, pelaksanaanya akhir pekan ini. Durasi kegiatan diperkirakan 2 jam. Mulainya pukul 13.30 WIB. 

"Kegiatan terselenggara dari kerja sama antara KSM Eka Prasetya UI yang merupakan UKM dari Universitas Indonesia dan HMI IAIH NW Pancor, Lombok, NTB," ujar Musfi kepada Askara, Kamis (6/2).

Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya Universitas Indonesia merupakan unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang penalaran dan keilmuan. Pesertanya juga diikuti Himpunan Mahasiswa Islam Pancor, Lombok Timur. 
"Peserta sekitar 15-30 orang anggota HMI IAIH NW Pancor," jelasnya. 

Tujuannya ialah melatih kritis dalam berpikir. Serta menumbuhkan analisis berpikir untuk mengetahui informasi hoaks dengan yang tidak. Kuliah online ini menjadi yang pertama antara Depok-Lombok. 

Biasanya mereka juga menganalisa beberapa berita dan menguji tentang informasinya. Menurutnya, metode ini sebenarnya merupakan solusi pemerintah untuk menangani hoaks. 

"Mengkaji berita saat ini, apakah banyak sesat nalarnya. Seperti waktu itu materinya, melanjutkan sekolah logika yang sudah terlaksana. Ini kuliah online pertama, meliputi ketiga lembaga juga," tandasnya.

Komentar