Minggu, 07 Juni 2026 | 21:03
NEWS

Anggota DPR dari PDIP Minta Bulog Tak Lagi Impor Beras

Anggota DPR dari PDIP Minta Bulog Tak Lagi Impor Beras
Ilustrasi Impor Beras (Istimewa)

ASKARA - Indonesia dianugerahi tanah yang subur, tapi sayang sekali budaya impor telah menjauhkan cita-cita negara yang mandiri dan berdaulat di bidang pangan. 

Pernyataan itu disampaikan Anggota Fraksi PDIP DPR RI, I Nyoman Parta saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Wamen 1 BUMN dan BUMN sektor Pangan (Bulog, PT Garam, Pertani, Perikanan) dengan ada 13 BUMN sektor pangan.

Ia menyatakan, petambak garam berkurang karena garam impor masuk hingga ke konsumsi rumah tangga; dengan berbagai alasan termasuk alasan garam lokal kandungan yodiumnnya rendah.

"Kan teknologi begitu maju kalau yodiumnnya rendah, lakukan dong proses tehnologi itu, bukan malah impor, aneh punya laut dan garis pantai paling panjang nomer dua di dunia malah impor garam," ujarnya, Rabu (5/2).

Secara khusus dirinya meminta kepada Bulog tidak impor beras lagi, impor beras bukan saja merugikan petani tapi juga menyakiti petani. 

Mereka yang berjuang mempertahankan kebutuhan setrategis bertahan dengan hujan dan terik matahari. 

"Harusnya mereka di subsidi bukan malah dimusuhi oleh negara sendiri dengan impor beras," cetusnya. 

Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan aspirasi para pengusaha UKM yang bergerak dalam pengolahan hasil laut, bahwa Bali kekurangan bahan baku. 

Sebab ikan tuna yang diturunkan di pelabuhan benoa langsung diolah oleh pemilik kapal. Sekaligus pemilik perusahan pengolahan kemudian di ekspor ke Kepang, yang disisakan hanya kulit dan tulang. 

Untung masih ada ikan dasar seperti kerapu tongkol, kakap, lobster dari jawa. Sehingga bisa mengatasi kebutuhan konsumsi untuk pariwisata. 

"Jadi saya minta kepada seluruh BUMN  khusunya PT Perikanan Nusantara (Perinus) Persero jangan semua diekspor ikan tunannya, agar pengusaha UKM dapat bahan baku," ucapnya. 

Komentar