Senin, 07 September 2026 | 16:20
LIFESTYLE

Asal Muasal Lontong Cap Go Meh

Asal Muasal Lontong Cap Go Meh

NETHERLANDS: Yang sudah bisa dipastikan Lontong Cap Go Meh, bukanlah tradisi Tionghoa asli, melainkan perpaduan antara penduduk Tionghoa dan penduduk lokal.

Di Tiongkok sendiri mereka tidak mengenal Lontong Cap Go Meh. Boro-boro di Tiongkok di luar Jawa saja Lontong Cap Go Meh sudah tidak dikenal. Bahkan darimana asal muasal nama Lontong Cap Go Meh pun tidak jelas.

Kemungkinan besar pada saat perayaan Cap Go Meh seluruh keluarga berkumpul untuk menonton arak-arakan Cap Go Meh.

Agar memudahkan nyonya rumah memberi santapan makan kepada para tamu yang berdatangan; mereka masak Lontong Cap Go Meh.

Dipercaya bahwa hidangan ini melambangkan asimilasi atau semangat pembauran antara kaum pendatang Tionghoa dengan penduduk pribumi di Jawa.

Dipercaya pula bahwa lontong cap go meh mengandung perlambang keberuntungan, misalnya lontong yang padat dianggap berlawanan dengan BUBUR yang encer.

Hal ini karena ada anggapan tradisional Tionghoa yang mengkaitkan bubur sebagai makanan orang miskin atau orang sakit, karena itulah ada tabu yang melarang menyajikan dan memakan bubur ketika Imlek dan Cap go meh karena dianggap ciong atau membawa sial.

Orang Tionghoa berpengalaman ribuan tahun membuat Bakcang, jadi dengan mudah mereka bisa membuat Lontong.

Namun Lontong dibuat bulat menyerupai bulan purnama pada hari Cap Go Meh. Bulat melambangkan keabadian yang tidak terputus. Bentuk lontong tersebut dibuat panjang melambangkan panjang umur.

Telur dalam kebudayaan apapun selalu melambangkan keberuntungan, sementara kuah santan yang dibubuhi kunyit berwarna kuning keemasan, melambangkan emas dan keberuntungan. Dari warnanya jelas terlihat kuning.

Sebenarnya opor di Jawa terdiri dari dua macam, opor putih dan opor kuning. Opor putih di sini lebih banyak diminati oleh kalangan emak-emak (sebutan), yaitu para wanita Tionghoa yang sudah membaur dengan kebiasaan setempat mengenakan baju kurung (bukan kebaya) dan sarung selayaknya penduduk setempat.

Sementara opor kuning, biasa dimasak oleh penduduk asli dengan menambahkan kunyit, dengan alasan “luwih ayu” (lebih cantik), tidak pucat dan lebih menyehatkan badan karena kunyit sebagai penyeimbang santan.

Seperti diketahui bahwa fungsi kunyit sangat baik untuk kesehatan tubuh. Makna warna kuning diasosiasikan dengan emas, yang berkonotasi kemakmuran.

Mang Ucup

Komentar