Senin, 07 September 2026 | 17:43
LIFESTYLE

Pengalaman Imlek di Masa Kecil

Terlampir foto Mang Ucup ketika berusia 10 tahun

Pengalaman Imlek di Masa Kecil

NETHERLANDS: Hari Imlek ini adalah hari yang ditunggu-tunggu, sebab pada hari tersebut, kita mendapat sepatu baru maupun pakaian baru.

Bahkan kepala baru, sebab dua hari sebelumnya Ma Anie (ibu) sudah memanggil tukang cukur ke rumah.

Maklum tukang cukur pada saat itu pergi berkeliling sambil membawa koper kecil alat guntingnya.

Setelah mandi anak-anak diwajikan sembayang di depan meja abu Engkong maklum Ema (nenek) masih hidup.

Berdasarkan ajaran Taoisme; manusia itu mempunyai Tiga Nyawa. Pada saat ia meninggal, satu pulang ke Alam Maut, satu berada di Kuburan dan satunya lagi di Meja Abu. Dan roh/arwah Engkong ini dipercayai bisa memberikan perlindungan pada anak cucunya.

Diatas Meja Abu (Hioto) ada tempat Hio (Hiolow) maupun papan kayu (Lingwei) dengan nama engkong berikut sesajen yang terdiri dari buah-buahan maupun kueh keranjang (Tie Kue atau Nien Kao).

Kueh keranjang dibungkus dengan daun pisang melambangkan bahwa hidup ini hanya satu kali saja, seperti juga pohon pisang yang berbuah hanya satu kali saja, oleh sebab itu janganlah sia-siakan semasa waktu hidup ini.

Kami diberi dupa - hio yang berarti harum. Kita anak-anak hanya diberi satu batang hio yang berlaku bagi segala keperluan. Kalau dua batang hanya untuk arwah leluhur, sedangkan tiga batang berarti untuk Tuhan.

Ada tiga jenis warna Hio warna Merah khusus untuk memohon sesuatu atau di hari imlek. Warna Kuning untuk sembahyang biasa dan warna Hijau hanya untuk menghormati orang meninggal.

Bahkan ada pameo bagi penganut agama Buddha: Jangan mengaku sebagai orang Tionghoa apabila belum pernah memegang Hio.

Setelah itu kami pergi ke kelenteng di depan rumah, maklum rumah kami terletak di jalan Kelenteng Bandung.

Apabila mau masuk kelenteng sebaiknya dilakukan dengan kaki kiri terlebih dahulu dengan demikian rejekinya akan lebih mulus.

Di kelenteng sudah banyak sekali lilin-lilin jumbo. Ukuran lilin dihitung dalam kati (600 gram) sedangkan untuk lilin jumbo 1.000 kati dan juga 1.500 kati, harganya bisa mencapai belasan juta Rupiah per lilin. Semakin besar lilin yang disumbangkan ke Kelenteng semakin besar pula Hoki-nya.

Warning, kalau tahun ini kita menyumbang lilin 1.000 kati lain tahun tidak boleh kurang dari dari 1.000 kati juga sebab rejekinya akan turut tersunat pula.

Bagi kami anak-anak Imlek berarti banjir panen Angpauw (Hong Bao) uang dalam sampul Merah sedangkan Pekpauw (Bei Bao) adalah uang dalam sampul Putih adalah uang layatan untuk orang meninggal.

Di hari Imlek yang paling diutamakan untuk dikunjugi oleh Ucup kecil adalah Oom - Toapek maklum ia yang paling banyak memberikan Angpauw.

Kami pergi soja (Pay-Ciah) sambil mengucapkan Sincun Kiong Hie maklum kata Gong Chie Fat Coy belum dikenal pada saat itu.

Kepada para sahabat yang turut merayakan hari Tahun Baru Imlek; Mang Ucup sambil membungkukan badannya & soja rangkap tangan dua; mengucapkan: "Gong Xi Fa Cai - Wan Shi Ru Yi - Shen Ti Jian Kang" yang berarti "Semoga sukses selama-lamanya & selalu dalam keadaan sehat"

Mang Ucup

Komentar