Senin, 07 September 2026 | 18:35
LIFESTYLE

Tradisi Makanan Imlek

Tradisi Makanan Imlek

NETHERLANDS: Sedangkan makanan yang berkaitan erat dengan hari raya Tahun Baru Imlek adalah kue keranjang (nian gao).

Kata "kue" atau gao memberikan makna yang sama dengan kata dan arti "tinggi", sedangkan kata nian berarti "tahun", jadi secara simbolis diharapkan jabatan maupun kemakmuran semakin tahun dapat naik semakin tinggi.

Oleh sebab itulah juga di Kelenteng banyak kueh keranjang yang dijadikan sesajen disusun secara bertingkat.

Kue keranjang mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, enam hari menjelang Tahun Baru Imlek (Jie Sie Siang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang Tahun Baru Imlek.

Kue keranjang yang dijadikan sesaji sembahyang ini, biasanya dipertahankan tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15).

Di malam Tahun Baru Imlek orang-orang biasanya bersantap di rumah atau di restoran.

Setelah selesai makan malam mereka bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rejeki bisa masuk ke rumah dengan leluasa.

Disamping itu berdasarkan mitos atau dongeng Dewa yang paling bisa mengetahui keadaan kita di rumah adalah Dewa Dapur "Zao Wang Ye" (Ciao Ong Ya = Hokkian) sebab segala macam gosip banyak disebar-luaskan pada saat sedang kongkouw di dapur.

Dari makanan yang disajikan kita bisa mengetahui keadaan keluarga tersebut, apakah mereka keluarga mampu ataukah miskin.

Setahun sekali sang Dewa Dapur ini pulang mudik cuti untuk sekalian laporan ke Sorga.

Sang Dewa Dapur ini terkesan reseh dan bawel, maka dari itu untuk menghindar agar ia tidak memberikan laporan yang ngawur.

Oleh sebab itu sebaiknya mulutnya disumpal terlebih dahulu dengan "kue keranjang" agar mulutnya jadi lengket dan akhirnya tidak bisa banyak bicara dan kalau bisa bicara sekalipun pasti hanya hal yang manis-manis saja.

Oleh sebab itulah juga di atas altar dari Dewa Dapur sering diletakkan kertas yang bertuliskan: "Dewa yang mulia, ceritakanlah hanya kebaikan kami saja di langit dan bawalah berkat kembali apabila anda turun dari langit".

Makanan lainnya yang sering disajikan menjelang Tahun Baru Imlek adalah ikan bandeng, sebab ikan ini melambangkan rejeki.

Dalam logat Mandarin, kata "ikan" sama bunyinya dengan kata "yu" yang berarti rejeki.

Selain ikan bandeng yang juga kudu disuguhkan adalah jeruk kuning yang lazim disebut sebagai "jeruk emas" (jin ju). Kalau bisa dicarikan jeruk yang ada daunnya sebab itu melambangkan kekayaannya akan bertumbuh terus.

Kata "jeruk" dalam bahasa Tionghoa bunyinya hampir sama dengan "Da Ji", sedangkan arti kata dari "Da Ji" itu sendiri berarti besar rejeki.

Sedangkan untuk buah "apel" (pin guo) mempunyai arti "ping ping an an" sama artinya dengan " Da li" yang berarti besar kesehatannya dan keselamatannya dan untuk buah pear melambangkan kebahagiaan yang artinya " Sun Sun li li".

Oleh sebab itu ketiga macam buah ini selalu menghiasi meja sembahyangan yang mengartikan " Da Ji Da Li Sun sun li li" = "Besar rejeki, besar kesehatan dan keselamatannya, dan besar pula kebahagiaannya"

Begitu juga dalam memberikan entah itu uang ataupun barang maupun buah-buah sebaiknya dalam kelipatan dua, jadi angka genap begitu.

Maklum terdapat sebuah pepatah Tionghoa terkenal yang berbunyi "Hao Shi Cheng Shuang", yang secara harafiah dapat diartikan "semua yang baik harus datang secara berpasangan".

Mang Ucup

Komentar