Senin, 07 September 2026 | 19:32
LIFESTYLE

Pengamen Angkot vs Penjual Es Mambo

Pengamen Angkot vs Penjual Es Mambo
Ilustrasi angkot di Bogor

BOGOR; Di tengah perjalanan menuju Bogor dari Ciapus ada pengamen perempuan muda naik di daerah Paswalpres dengan dandanan seperti komunitas tertentu. Pake celana over all pendek (sampai sepaha), tali bajunya yang sebelah sengaja dilepas gitu, ber make up lengkap dengan maskara di bulu matanya. Pokoknya kalah jreng dengan gadis-gadis penumpang yang di angkot itu. Meski dandan menor tetep cirinya kumalnya keukeuh ada.

Saat naik didudukan tangga angkot dengan gayanya yang meyakinkan dia langsung nyanyi atau ngomong yaa, karena tidak ada iramanya. Tapi yang jelas ada prolognya,

Setelah say hello kepada penumpang, dia mulai menyampaikan prolog nya. "Tolong dianggap yaa swara saya ini..suara ini bukan suara binatang atau syetan!!" katanya membuka prolog sembari ketus.

Lalu perempuan itu nyanyi dengan irama tidak jelas, cukup dengan iringan tepuk tangan sendiri. Seperti biasanya isi syairnya menyinggung soal politisi, koruptor. Pokona teu jelaslah, nada-nadanya seperti kebanyakan komunitas mereka.

Setelah nyanyi-nyanyi, dia langsung tadahkan tangannya ke penumpang. Sayangnya hanya satu orang yang memberi uang, itu pun seribuan.

Dia langsng cemberut, terus turun dari angkot. Istilah orang sunda mah ngajengkat kali ya.

Setelah pengamen cewe pergi, tidak lama ada pemuda naik lagi. Dia membawa termos es. Rupanya lelaki muda ini menjajakan es mambo di angkot. "Ayo ibu-ibu, teteh-teteh, beli es mambo. Rasanya bermacam-macam, pasti bikin segar. Buat yang sudah make up an, make up nya bikin awet loh," kata penjual es mambo ini ramah candain gadis-gadis yang ada di angkot.

Rupanya yang beli es mambo hanya satu orang, supir angkot. "Beli satu aja deh!"

"Wah tidak ada kembaliannya kang. Saya tidak punya uang receh 500an. Gimana yaa?" kata penjual es mambo saat ambil uang receh supir yang nilainya 2 ribu rupiah.

"Ya sudah tidak apa-apa, tidak usah dikembaliin kang," ujar supir angkot sembari mengisap es mambo.

"Duh, haturnuhun atuh ya kang..penglaris ni. Mangga ibu, bapak-bapak, teteh sadaya," kata si penjual es mambo ramah, lalu pamitan dengan penumpang angkot seraya turun dari angkot.

Masya Allah, saya kagum dan salut dengan penjual es mambo ini. Meski hanya baru ada yang beli satu orang wajahnya begitu sumringah. "Mudah-mudahan laris manis dagangannya," celetukku spontan.

Dua profesi dan karakter yang berbeda. Gimana frenz?

Herawati Dachlan

Komentar