Sukun dan Syukur
JAKARTA: Di Kepulauan Nias kami menyebutnya "cuku." Banyak tumbuh alami di kebun atau di hutan. Selain buahnya, biasanya manfaat lainnya adalah getahnya untuk digunakan sebagai jerat untuk berburu burung dan hewan kecil lainnya. Waktu kecil, saya dan teman-teman suka menggunakan getahnya.
Buah sukun ini juga menjadi salah satu jenis makanan pokok, yang di bagian selatan kami sebut sebagai "bulehu." Sebuah istilah untuk makanan pokok pendahuluan. Selain buah cuku yang kadang cukup direbus saja, juga ada pisang, ubi jalar dan singkong sebagai alternatif utama. Bisa yang direbus, dibakar atau digoreng. Tetapi, biasanya bila menjadi bagian jadwal makanan utama di rumah, cukup direbus saja.
Bulehu akan lebih dahulu dimakan sebelum makan nasi. Biasanya, nasinya sedikit. Bisa ditaruh di piring yang sama atau ditempatkan terpisah pada piring lain.
Ada beberapa alasan kenapa bulehu itu menjadi pembuka yang penting. Bagi masyarakat tani, butuh makanan yang membuat perut mereka tidak mudah lapar. Jadi, mereka butuh makanan yang keras sebelum bekerja keras. Nah, cuku, gae (pisang), gowi niha (ubi jalar) dan gowi farasi/gowi rio) adalah pilihan terbaik. Pertimbangannya, jenis-jenis makanan itu relatif lama bertahan diperut dibanding nasi.
Alasan lainnya, karena memang beras saat itu (dan sampai kini sih bagi banyak warga di kampung), beras atau nasi itu makanan mewah. Makanya dihemat-hemat. Lebih dari itu, porsi nasi diprioritaskan untuk anak-anak.
Jadi, bulehu itu sebenarnya juga makanan penyelamat bagi warga kampung. Ya, makanan bulehu itu menjadi solusi bagi kemiskinan yang tak mudah mereka lewatkan. Itu sebabnya, seringkali, aneka jenis makanan bulehu itu diidentikan dengan tanda/ciri kemiskinan. Tetapi sepertinya kesan miskin yang diidentikkan dengan makanan itu mewujud sejak pemerintah membudidayakan tanaman padi dan konsumsi beras.
Sebagai orang kampung asli saya sulit terlepas dari makanan ala miskin sejak kecil itu. Ketika pertama kali ke kota besar, di Ibukota bernama Jakarta ini, karena faktor domisili, saya jarang menikmati bulehu ini sebagai sajian utama.
Saya juga sulit melepaskan label yang sudah terlanjur mengakar atas makanan bulehu itu sebagai makanan orang miskin.
Ketika di Jakarta, lagi-lagi sebagai orang kampung dengan ingatan tentang kemiskinan dan bulehu itu, saya terkaget-kaget ketika menemukan orang-orang kota nenikmati aneka jenis makanan bulehu yang sama. Namun, dengan harga yang jauh lebih mahal. Bulehu itu di kota ternyata makanan mewah bagi orang-orang berduit. Di hotel atau di restoran disajikan dengan harga mahal.
Tak cuma bulehu, lauk jenis ikan asin juga bagian dari kelompok menu orang miskin itu. Bahkan, ikan asin dan cabe ulek (bisa diulek bersamaan dengan kepala ikan asing yang telah dibakar) menjadi paduan yang sempurna menikmati bulehu.
Suatu kali, di Jakarta, saya kaget ketika diajak teman ke sebuah acara pertemuan politik di sebuah hotel. Lalu, disodori buku menu untuk memesankan sendiri makanan yang disukai.
Sebagai orang kampung, saya langsung kecantol dengan menu nasi goreng ikan asin. Saya langsung pesan dengan bayangan saya akan mendapatkan potongan ikan asin besar di sisi piring. Soalnya, harganya juga tidak main-main, Rp 52 ribu. Itu harga 15 tahun lalu. Ketika datang, ikan asinnya ternyata cuma beberapa potongan kecil sebesar biji jagung di sela-sela nasi.
Dan menariknya, sebelum menikmati makanan besar itu, kami telah mendahuluinya dengan menikmati aneka makanan kecil yang diantaranya ada unsur-unsur bulehu tadi.
Saat semuanya itu terjadi, saya jadi bingung tentang siapa orang kampung, siapa orang kota. Dan siapa orang kaya, siapa orang miskin.
***Momen itu mengingatkan saya [lagi] pada beberapa hal fundamental ini.
Pertama, apa yang membuat seseorang terlihat kaya atau sebaliknya terlihat miskin, kadang cuma bias perspektif strata sosial. Seperti halnya orang miskin, orang kaya butuh makanan. Bahan dasar makanannya juga sebenarnya sama saja. Cuma beda-beda cara pengolahan saja, tempat makan dan cara penyajiannya.
Dan semua itu berkaitan dengan urusan perut belaka. Kalau sudah kenyang, dunia terasa damai. Itu tidak ada kaitannya dengan menjadi lebih manusiawi, manusiwa super, apalagi soal syarat masuk surga.
Saya teringat suatu kali Tuhan Yesus mengingatkan tentang apa yang menentukan seseorang menjadi manusia dan manusia rohani. Dia bersabda,
"... Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu di buang di jamban? Tetapi, yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang...." (Injil Matius 15:17-20).
Kedua, sikap dan perlakuan atas makanan. Kebanyakan orang melihat makanan dan minuman sekadar kebutuhan fisik alamiah yang dapat diperoleh dengan usaha sendiri. Banyak yang memandang makanan dan minuman sebagai hal yang rendah atau sebaliknya seolah segala-galanya.
Meski makanan dan minuman tidak membawa seseorang ke surga, tetapi bukan berarti makanan dan minuman menjadi tidak ada hubungannya dengan Tuhan atau menjadi bernilai rendah. Makanan dan minuman adalah instrumen pemeliharaan Tuhan, bahkan termasuk bagi yang tidak percaya Tuhan sama sekali.
Karena itu, makanan adalah berkat Tuhan. Entah itu dalam wujud atau tampilan yang sederhana atau mewah, itu adalah berkat Tuhan. Kalau Anda tidak bisa makan seperti orang kaya, tidak perlu merasa rendah diri. Nikmati berkat yang Tuhan sediakan bagimu masing-masing.
"Berkat Tuhan mari hitunglah, kau kan kagum oleh kasih-Nya. Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau nicaya kagum oleh kasih-Nya."
Itu adalah potongan refrein lagu yang sangat indah yang sangat menguatkan saya dalam banyak situasi kehidupan (termasuk dalam menikmati makanan dalam berbagai kondisi dan situasi) berjudul "Bila Topang Keras Melanda Hidupmu". (Bisa didengarkan di sini dinyanyikan oleh Herlin Pirena: https://www.youtube.com/watch?v=f1lDRLdvhqM)
Dalam versi aslinya berjudul Count Your Blessing ditulis oleh Johnson Oatman, Jr., dan dipublikasikan pada 1897 (bisa didengarkan di sini dinyanyikan oleh Guy Penrod https://www.youtube.com/watch?v=FZECFq4BvRQ)
Jadi, makanan dan minuman TIDAK MENDEFINSIIKAN SIAPA ANDA sesungguhnya. Sebaliknya, sikap terhadap makanan dan minuman akan menentukan siapa Anda.
Kalau Anda melihat makanan sebagai wujud pemeliharaan Tuhan hari demi hari atas hidupmu, lalu, menyikapinya dengan ucapan syukur, maka tidak peduli apakah wujud makanan itu berupa sukun, singkong, ubi, pisang; lalu, entah Anda menikmatinya di pinggir jalan, di rumah, direstoran atau di hotel mewah; makannya bersama orang susah atau orang kaya; cuma direbus atau dioleh oleh koki berkelas dunia, Anda akan merasakan kepuasan yang sama, serta akan menikmatinya dengan rasa cukup.
Demikianlah sukun itu akan sangat nikmat bila dinikmati dengan rasa syukur.
Jumat, 17 Januari 2020
Etis Nehe
Teratai 3, Jakarta Selatan

Komentar