Dulu Sifat Pemimpin Jadi Tuntunan, Sekarang Jadi Tontonan
JAKARTA: Seorang pemimpin, seorang guru maupun sebagai orang yang dituakan atau di hormati, biasanya memiliki sifat kehati-hatian yang tinggi, terutama dalam hal berucap dan bertingkah laku. Karena apa yang di ucapkan akan di junjung tinggi dengan penghormatan.
Beliau-beliau dianggap sebagai tuntunan. Sebutan Guru kata orang Jawa, artinya digugu lan di tiru. Guru bukan berarti hanya guru di kelas sekolah formal. Orang yang dituakan atau orang yang dianggap pemimpin juga bisa disebut sebagai guru. Orang tua kitapun termasuk guru.
Pemimpin, guru dan siapapun itu akan sangat berhati-hati dalam berbicara, karena apa yang keluar dari mulutnya sangatlah berpengaruh pada yang mendengarkan, karena dianggap sebagai tuntunan dan diugemi (dipercaya dan di patuhi).
Banyak hal dipertimbangkan, terutama apa dampak rasa atas tutur kata yang diucapkan, termasuk juga bagaimana berperilaku. Karena akan menjadi contoh.
Sebetulnya menjadi seorang pemimpin dan sejenisnya itu sangat berat kalau betul-betul mengerti dan paham, berat karena tugas yang di emban begitu besar bagi kemaslahatan.
Jadi ingat ada falsafah Jawa tentang "Ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono. Artinya, harga diri seseorang dari lidahnya (omongannya), dan harga diri badan dari pakaian.
Fenomena yang terjadi saat ini sudah bergeser sedemikian rupa, kalau dulu sifat pemimpin itu jadi tuntunan, tapi sekarang justru banyak menjadi tontonan, hanya karena lidah dan perilaku yang tidak terjaga dengan hati-hati.
Yanni Krishnayanni

Komentar