Senin, 13 Juli 2026 | 14:53
TRAVELLING

Jadi Rektor Dadakan Di Ketinggian 3265 mdpl

Jadi Rektor Dadakan Di Ketinggian 3265 mdpl

KARANGANYAR: Ternyata saya adalah seorang penakut, sangat takut berada di Gunung sendirian. Dan mulailah diri ini bertanya-tanya, bukankah selama ini saya sangat yakin pada Illahi, akhirnya jadi berpikir keras, berarti ada yang salah pada diri ini . Maka kuajak diri ini untuk mencari tahu dan berteman dengan rasa takut itu.

Mulai menyusun rencana, pertama memilih gunung, kedua memilih hari, lalu mempersiapkan diri. Pilihan jatuh pada Gunung Lawu via Cetho dan mendaki pada hari kerja yaitu Selasa, dan bukan musim liburan.

"Sangu Niat Bondo Tekad" (lagi-lagi saya mengikuti falsafah orang jawa).

Saatnya pun tiba, saya menuju Karanganyar. Via jalur ini bisa ditemukan Candi Cetho dan Candi Kethek. Jalur memang benar-benar sepi. Tapi di pos 3 saya jumpa beberapa anak muda dari Garut yang sedang turun. Ngobrol sebentar lalu saya lanjutkan ke pos 4, disini ada 3 tenda berdiri, sungguh bahagia hati saya, meski niatnya mendaki sendiri kalau ketemu orang lain di atas berarti bonus donk.

Hmmm, ternyata bahagia itu semu, tenda-tenda ini sepi tanpa penghuni. Tidak lama terdengar derap gedebug-gedebug berlarian dari atas, dan ternyata mereka rombongan anak muda dari Tangerang, habis muncak dan akan segera turun. Ya sudahlah, memang nasib yang sudah di niatkan. Belum puas sambil berharap, saya bertanya pada mereka, "Masih adakah pendaki diatas?", jawab mereka secara serempak "Tidak ada bu, rombongan kami yang terakhir".

Du du du du, perjalanan sudah sejauh ini, apakah saya harus kembali? Ada keraguan, timbang-timbang lagi, tapi saya harus melanjutkan niat dan tujuan ini. Apapun yang terjadi akan saya hadapi (fuih, sok berani nih ye, padahal dalam hati ketakutan itu menggoda tiada henti).

Berpisahlah kami, mereka turun dan saya lanjut naik. Sesuai saran anak-anak muda itu, sebaiknya saya ngecamp di Pos 5, di Pos 4 ini terlalu banyak angin.

Beban saya sangat berat, jalan licin sehabis hujan karena mendaki di akhir Februari, maka Pos 5 rasanya sangat jauh dan belum ketemu, haripun mulai gelap. Saya mendongak keatas, ternyata bulan terang benderang (Purnama), dengan mengucap puji syukur, saya tetap melangkah dengan pasti. Tanpa di sadari, ternyata salah jalan kawan, alias nyasar, hahaha.

Untung segera menyadari dan memutuskan berhenti. Saya duduk di batang pohon roboh dan termenung, tidak tahu lagi jalur mana yang pasti. Karena memang belum pernah ke sini. Saya ambil senter dan mulai periksa, dimana kira-kira yang aman untuk mendirikan tenda.

Dalam kesendirian, diam di gelapnya malam, lalu saya teringat akan rasa takut itu, yang mulai menggerayangi. Mulailah sibuk berdialog antara hati dan pikiran. Dalam dialog mereka mulai berteman, apa yang bisa kulakukan kalau sudah dalam kondisi seperti ini, mau teriak siapa yang akan dengar, mau menangis siapa yang akan peduli. Mau lari kemana? Turun jelas jauh, ke atas belum tahu seberapa jauh bisa ketemu warung Mbok Yem yang banyak saya baca di blog pendaki.

 

Nah ini pengakuan dosa saya, saya memilih Lawu untuk solo Hiking dan menantang diri sendiri bukan tanpa pertimbangan, namun sayangnya target sampai di warung mbok Yem tidak tercapai, dan tantangan itu berlaku sempurna dan harus dihadapi, wkwkwk.

Sungguh tidak ada yang bisa diperbuat selain menenangkan diri, pasrah dalam doa dan harapan, agar diberi perlindungan. Tetap tenang, di saat tenang bercandalah saya dengan diri sendiri, apa sebenarnya yang saya takutkan. Oke, andaikata tiba-tiba ada makhluk yang muncul dan menakutkan, paling juga pingsan. Ini pasrah apa putus asa ya, dan andaikan ada seekor macan menghampiri, pasrah dah meski di jilati. Hahahaha. Candaan dengan diri sendiri ini sangat menghibur hati, meski benernya takut setengah mati. Jadi senyum-senyum, menertawakan diri sendiri.

Menjelang satu jam kemudian, tiba-tiba ada cahaya dari kejauhan. Secepatnya saya matikan senter dan coba mengusap mata, jangan-jangan saya berhalusinasi karena kelelahan sudah berjalan dari pagi. Saya mencoba tetap tenang dan berpikir apakah mungkin pada hari kerja dan bukan saat liburan, masih ada yang naik gunung?

 

Dengan sabar tidak berani bergerak, saya memperhatikan dengan degup jantung kencang. Tetap berusaha tenang. Tidak lama kemudian cahaya itu makin dekat dan, menjadi dua dan tiga, maka langsung saya berucap syukur kembali, ternyata saya tidak di biarkan sendiri untuk waktu yang lama.

Semakin mereka dekat, semakin yakin bahwa itu manusia. Ternyata 3 anak laki-laki kuliah di Yogya berasal dari Lombok NTB, yang sedang jenuh. Ada saja cara Tuhan menunjukkan kasih sayangNya dan kebesaranNya. Akhirnya kami bergabung, berkenalan, ada Rendy, Lalu dan Fani, dan kamipun bersama melanjutkan perjalanan. Tidak lama Fani merasa kedinginan dan tidak sanggup melanjutkan, tapi kami harus tetap berjalan hingga menemukan lahan sedikit datar untuk mendirikan tenda.

Akhirnya kami temukan dan mulai mendirikan tenda masing-masing, mereka bertiga, saya sendiri. Sebelum istirahat, kami membuat rencana jam untuk muncak, dan saya menyarankan untuk meninggalkan tenda dan membawa yang berharga saja. Seperti tenda yang saya temukan tanpa penghuni tadi.

Pagi pun tiba, kami bersiap menuju puncak, baru beberapa langkah, aiiih ternyata kami ngecamp persis di bawah area Pasar Dieng (Pasar Setan) yang terkenal menyesatkan. Sambil berjalan kami ngobrol dan bercanda, Rendy tiba-tiba berkata "Te, saya bawa Toga, saya ingin pakai foto itu di atas, nanti kalau mau bisa pinjam juga", spontan saya jawab "Haaah, kamu ada-ada saja, niat banget bawanya".

Manusia hanya perlu merencanakan perjalanan hidupnya dan melakukan dengan segala kesungguhannya. Untuk hal apapun, yang penting adalah berusaha. Perkara hasilnya, serahkan pada yang empuNya. Seringkali memang tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan ataupun yang di harapkan. Kadang juga justru mendapatkan hal lebih indah di luar kemampuan berpikir kita. Andaikan tidak tercapai, jangan pernah memaksa, anggaplah belum waktunya, tapi jangan membuatmu putus asa untuk mencobanya kembali.

Diakhir cerita solo hiking saya, yang tak terduga adalah manjadi rektor dadakan di ketinggian 3265 mdpl. Puncak Gunung Lawu, diujung Hargo Dumilah.

Mengapa bisa demikian? Yang tidak kami kira adalah, ada beberapa pendaki di Puncak, mereka lewat jalur Cemoro Kandang dan Sewu. Saat Rendy mengeluarkan Toganya dan siap berfoto, tiba-tiba anak lain menghampiri kami, dan memperkenalkan diri berasal dari Ngawi, lalu mengatakan, "Bu, saya juga membawa Toga, lengkap dengan tempat ijasahnya, silahkan kalau mau dipakai". Nah loh!

Rendy spontan berteriak dengan wajah bersinar sangat gembira, "Te kalau begitu, wisuda saya Te, wisuda saya Te." Maka terjadilah adegan prosesi yang tidak pernah direncanakan.

Begitulah akhir cerita bahwa pernah ada Acara Wisuda di ketinggian, kuliahnya dimana? Saya juga tidak tahu.

Apakah saya sudah menjadi berani setelah itu? Ternyata tidak sepenuhnya takut itu hilang, dan saya mensyukurinya, karena takut adalah bagian dari waspada dan kehati-hatian untuk tiap pribadi, dan menjadi rem agar tidak menjadi jumawa.

Pengalaman yang tidak mudah di lupakan untuk masing-masing pribadi kami. Hadiah terindah dalam kehidupan.

Lakukan apapun dengan kesungguhan, maka akan kau dapatkan keindahan di luar dugaan.

Salam lestari untuk Ibu Pertiwi.

#Kenangan 27-28 Februari 2018.

Yanni Krishnayanni

Komentar