Ekspedisi Gunung Singgalang, Seribudolok, Simalungun (2508 MDPL)
SIMALUNGUN: Ekspedisi ini bertujuan untuk mengungkapkan seberapa tinggi sebenarnya Gunung Singgalang yang berada di Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun ini. Kemudian untuk membuat jalur yang aman digunakan oleh siapapun pendaki yang berkenan naik Gunung Singgalang ini.
Selain itu juga untuk memperkenalkan kepada masyarakat khususnya pemuda-pemudi desa yang berada di sekitar Gunung Singgalang, tentang tata cara persiapan dan pendakian gunung yang baik dan benar. Hal lain yang sangat penting adalah menyebarkan tentang bahaya yang akan dihadapi dalam sebuah pendakian gunung dimana pun. Dijelaskan pula dalam waktu-waktu rehat tentang bagaimana penyakit Mountain Sickness yang kemungkinan dihadapi oleh seorang pendaki ketika dilakukan pendakian.
Tiga bulan sebelum pelaksanaan, tepatnya pada awal bulan Oktober, telah dilakukan perencanaan ekspedisi ini. Sebagai operator pendakian ini adalah tim dari Fighter Runners yang telah terbiasa melaksanakan trail running di banyak gunung di Jawa. Namun dalam pelaksanaannya dibantu oleh pemuda desa yang berperan sebagai guide. Guide ini bertugas sebagai petunjuk jalan. Karena memang belum ada jalur yang pasti hingga menuju puncak Gunung Singgalang, Simalungun.
Tim operator pun secara rutin berkomunikasi dengan pemuda desa yang berasal dari Desa Purba Tua Rambah. Komunikasi secara rutin ini dimaksudkan untuk menyiapkan secara matang akan kesiapan sebelum dilaksanakannya ekspedisi. Sebagian pemuda dan pemudi dari Desa Purba Tua Rambah juga berperan sebagai peserta pendakian, selain peserta yang berasal dari Medan, Jakarta, Batam dan Surabaya.
Pembelian perlengkapan pendakian yang sesuai standar pun telah dilakukan saat perencanaan untuk menghadapi Awan Jamur yang seringkali terlihat di puncak Gunung Singgalang. Oleh karenanya dalam pencarian perlengkapan masing-masing pendaki dilakukan komunikasi yang erat dan baik.
Sebagai tempat meeting point dilakukan di Desa Purba Tua Rambah, yang sekaligus tempat dilaksanakannya briefing pendakian. Termasuk pengecekan kesehatan terhadap peserta pendakian. Hal ini dilakukan untuk memudahkan operator memantau kesiapan masing-masing peserta.
Dilakukan juga pengecekan kesiapan fisik bagi peserta ekspedisi. Yang diakhiri dengan pemberian pengetahuan tentang bahaya yang dihadapi dalam ekspedisi pendakian gunung serta pengetahuan penyakit mountain sickness. Ditambahkan juga pengetahuan tentang mendirikan tenda dalam kondisi darurat agar seluruh peserta dapat menyiapkan diri masing-masing bila terperangkap dalam awan jamur di puncak gunung. Selain itu diperkenalkan dengan baik tentang adat istiadat yang berlaku di lokasi area pendakian Gunung Singgalang, Simalungun. Seperti hal-hal yang dilarang maupun diperbolehkan, yakni tidak membuang sampah apapun serta memohon ijin manakala akan melakukan "buang air" di sepanjang jalur pendakian. Diperkenankan juga kepada seluruh peserta untuk membawa makanan ringan berupa coklat atau permen.
Setelah seluruh peserta dinyatakan siap, maka diwajibkan melakukan istirahat yang cukup sebelum esok harinya melaksanakan ekspedisi pendakian ke Gunung Singgalang di Simalungun. Peristirahatan disiapkan di rumah-rumah warga yang berada di desa Purba Tua Rambah.
Pada pagi pukul 07.00 WIB seluruh peserta telah siap untuk memulai pelaksanaan ekspedisi pendakian. Selanjutnya peserta pendakian diantar ke pintu jalur pendakian yang berjarak 5 KM dari Desa Purba Tua Rambah.
Tiba di pintu pendakian sekitar pukul 08.00, mengingat jalan menuju pintu pendakian masih berupa jalan batu-batu kerikil lepas. Dan informasi dari penduduk desa, jalan utama dari Desa Purba Tua Rambah ini ke kota terdekat yakni Kota Seribudolok sudah puluhan tahun tak tersentuh dari pembangunan. Oleh karenanya jalanan sangat rawan bagi kendaraan roda empat, kecuali yang memiliki gardan tinggi. Soo.., kemana ya dana desa yang telah digulirkan oleh Sang Presiden..??
Pintu masuk yang menjadi patokan pendakian hanyalah berupa tanah lapang yang disebelahnya terdapat kebun jeruk milik warga. Pintu ini berada di desa (nagori) Nangga Raja, yang merupakan pesisir dari Kota Seribudolok. Di lokasi pintu pendakian ini diberikan briefing ulang tentang adat istiadat yang harus dipatuhi oleh seluruh peserta ekspedisi demi keselamatan.
Pada pukul 09.00 WIB peserta tim ekspedisi mulai menyusuri jalanan perkebunan. Mulai melintasi kebun jeruk dan berakhir dengan kebun kopi sebelum akhirnya memasuki area hutan Gunung Singgalang, yang berupa sekumpulan rerumpunan pohon bambu yang besar dan lebat. Ini pertanda bahwa ketentuan pendakian sudah harus dipatuhi.
Menelusuri jalur pendakian mulai dirasakan kesulitannya. Mengingat jalur yang belum ada sama sekali. Tim ekspedisi akhirnya memanfaatkan jalur yang pernah dibuat oleh tim pendaki sebelumnya. Sebab jalanan tertutup oleh dedaunan tua yang berjatuhan.
Proses mendaki Gunung Singgalang pun sangat dibutuhkan kehati-hatian karena jalur yang licin akibat hujan deras sehari sebelumnya. Beberapa kali peserta ekspedisi terlihat terpeleset dan meluncur ke bawah akibat jejak yang diinjak cukup licin. Belum lagi sejak awal pendakian, tim ekspedisi sudah dihadang oleh ketinggian yang hampir 80 derajat. Yang menjadi problem adalah kontur tanah yang menjadi konstruksi jalur sangat lembut, sehingga mudah terpeleset saat diinjak. Satu hal yang memudahkan adalah di sepanjang jalur pendakian berdiri pepohonan besar dan memiliki banyak akar. Nah.., akar-akar inilah yang kemudian dijadikan alat pegangan bagi setiap pendaki.
Beberapa kali tim ekspedisi harus beristirahat untuk memulihkan tenaga yang banyak terkuras. Namun kerjasama tim yang kompak menjadikan ekspedisi ini berjalan dengan baik. Hingga akhirnya mendekat ke puncak, tim ekspedisi benar-benar dihadang oleh kabut tebal. Sesekali kabut meniriskan air bening seperti salju. Semua basah oleh selimut kabut, meski jarak padang masih sekitar 10-15 Meter. Persiapan yang matang membuat tim sudah siap menghadapi kemungkinan yang terjadi.
Sampai dengan pukul 11.45 WIB akhirnya tim ekspedisi berhasil mencapai puncak Gunung Singgalang. Puncak ini berupa pelataran seluas 15 × 20 Meter saja. Dan ditengahnya terdapat patok Trianggulasi yang bertuliskan T.T 2508. Peserta tim ekspedisi sesegera mungkin mendirikan tenda untuk menghindari hypotermia.
Tuntas sudah ekspedisi upaya penelusuran jalur menuju puncak Gunung Singgalang, Simalungun. Seluruh peserta dalam kondisi yang cukup baik. Selanjutnya setelah beberapa jam berada di puncak, tim memutuskan untuk turun dan mengemasi seluruh perlengkapan termasuk tenda. Memang saat akan turun, hujan sudah reda meski kabut tebal masih saja menyelimuti puncak gunung. Tak lupa, mengingat amanah dari tokoh Desa Purba Tua Rambah, maka tim ekspedisi melakukan pembersihan seluruh pelataran puncak untuk menjaga kelestarian alam gunung Singgalang.
Selesai sudah ekspedisi Gunung Singgalang, Simalungun. Banyak pengetahuan yang didapat oleh seluruh peserta. Salah satunya adalah bagaimana menyiapkan diri dalam menghadapi alam yang belum tentu bersahabat.
Satu hal yang pasti adalah seluruh peserta tim ekspedisi lebih memahami bagaimana mencintai alam. Perlu diketahui pula bahwa Gunung Singgalang, Simalungun merupakan gunung yang masih perawan. Dan tentunya ekspedisi ini menjadi lebih berarti karena dapat memberikan sesuatu yang berarti bagi alam sekitar.
Rivelson Saragih
Pendaki Fighter Runners

Komentar