Senin, 07 September 2026 | 20:35
LIFESTYLE

Ojo Nggumunan Ojo Kagetan

Ojo Nggumunan Ojo Kagetan

JAKARTA: Adegan ini jangan pernah di tiru tanpa didampingi yang ahli. hahahaha.

Pertempuran sengit antara kiri dan kanan (anggap saja begitu ya), nampak kesungguhannya dalam bermusuhan. Kalau bisa sampai titik gerimis terakhir. Ogah kalau sampai titik darah penghabisan.

Kalau melihat adegan ini, apa yang anda pikirkan?

Untungnya adegan dibuat pada jaman milenial. Coba kalau ini di jaman dulu, pastinya pendukung kanan maupun kiri akan ikut terbakar emosi, perseteruan berjamaah kemungkinan besar akan terjadi. Hmmm, tapi ada juga sih dan sudah banyak kejadian yang kita lihat.

Ingat....ingat, ini jaman milenial, apapun bisa dibuat. Cermatlah melihat, karena mata mudah sekali kena tipu muslihat, parahnya terus bikin cerita jadilah hoax.

Penting sekali di jaman sekarang untuk menjadi orang yang teliti dan hati-hati, karena kecanggihan teknologi, apapun bisa jadi. Maka dari itu falsafah Jawa jaman dulu itu menjadi penting "Ojo Nggumunan, Ojo Kagetan"

Begitu melihat, pasti ada persepsi, coba lihat lagi, kalau perlu sepuluh kali atau seratus kalipun harus dilakukan kalau memang diperlukan. Telitilah sebelum membeli, hahaha itu mah motto beli barang di pasar.

Intinya jangan mudah terkecoh dan tertipu, jadi mudah untuk diadu. Benernya pertengkaran, perseteruan itu tidak perlu, karena menang maupun kalah, ujungnya sama nyesel dan nyeseknya.

Apalagi kalau dasarnya membela sesuatu dengan membabi buta tanpa tahu dengan benar duduk permasalahannya. Seringkali peperangan itu, hanya karena "NAFSU"  segelintir orang yang ingin menguasai dan berkuasa. Yang dibungkus sedemikian rupa, dan kalianlah yang mudah dipengaruhi akan di jadikan pion oleh mereka.

Bijaklah menyikapi, agar tidak menyesal di kemudian hari. Karena kalau dulu lidah bagai belati, sekarang jari bagai....sama aja ya, bahkan bisa lebih parah. Tetaplah hati-hati.

Salam satu jiwa.

Mari kita buka pintu no 2020 dengan waspada dan penuh ke hati-hatian.

Eling lan Waspada.

Yanni Krishnayanni

Pendaki Gunung SIABI

Komentar