Daki 7 Puncak Gunung Jawa Barat dan 7 Puncak Gunung Jawa Timur
JAKARTA: Setelah dalam kurun waktu 7 tahun menargetkan dapat menggapai 7 puncak gunung di Jawa Barat dan 7 puncak gunung di Jawa Tengah, akhirnya puncak ke 7 di Jawa Tengah, Gunung Bismo, Wonosobo berhasil kami gapai. Semoga tahun depan dapat mulai menggapai 7 puncak gunung di Jawa Timur bersama rombongan petualang Seblaters.
Saya sendiri hampir tidak jadi berangkat karena baru selesai packing sekitar pukul 21.00, sementara jadwal kereta pukul 21.55. Terpaksa nyuruh gojek ngebut untuk mengejar kereta di Gambir yang jaraknya sekitar 17 km dari rumah. Selama di atas gojek yang ngacir, doa-doa terus dipanjatkan agar tidak ketinggalan kereta.
Sampai depan gerbang Stasiun Gambir saya segera bergegas lari masuk peron untuk ambil tiket yang dititipkan di loket karena kereta sudah last call. Begitu berhasil naik ke kereta beberapa menit kemudian kereta langsung berangkat. Nyaris saya ditinggal kereta.
Turun di Stasiun Purwokerto kami lanjut menggunakan shuttle bus milik PT KAI ke Terminal Mendolo. Transportasi yang mudah dan nyaman, lokasi wisata yang banyak di sekitar Wonosobo mungkin membuat daerah ini jadi ramai pengunjung.
Sengaja tidak mengambil tujuan Gunung Prau yang menurut kabar selalu ramai, kami memutuskan mengambil salah satu jalur pintu masuk ke Gunung Bismo yang baru 6 bulan dibuka (rahasia deh, nanti kalau tahu jadi ramai).
Ketika datang dan pulang di Gunung Bismo, kami disambut hujan lebat. Petirnya serasa di atas kepala. Untungnya hal itu berlangsung setelah kami sampai di basecamp.
Sewaktu mendekati pos 1 sempat ada insiden porter yang menyertai perjalanan jatuh pingsan karena malamnya begadang, katanya sudah biasa begadang. Padahal pagi sebelum berangkat dia menolak sarapan yang kami tawarkan karena katanya tidak biasa sarapan. Untungnya tidak terjadi hal yang lebih buruk. Setelah dikasih makan dan minum supaya punya tenaga lagi, sang porter kami biarkan tidur beristirahat.
Trek Gunung Bismo lumayan tipis di beberapa tempat, dimana di kiri kanan terdapat jurang, terutama masuk pos 2 dan ke pos 3. Sebagian longsor juga. Jika longsor berlanjut, dipastikan jalur yang sudah tipis akan putus juga.
Kami membuat flying camp di pos 3. Sempat terbangun karena beberapa pendaki yang baru datang cukup membuat ramai karena main kartu hingga menjelang pagi. Tidur itu penting untuk orang berumur, mohon perhatian dari teman-teman yang suka naik gunung agar tidak membuat keramaian disaat jam tidur.
Rombongan kami terdiri dari berbagai usia. Ada anak berumur 14 tahun bersama ayahnya, ada seorang kawan baru pengikut sekte IUB (ultralight) yang bawa ransel cuma 5 kg, dan seorang sahabat pendaki yang sudah kondang sejak jaman Kaskus. Selain itu ada 3 pendaki wanita berumur 50, 54, 60, dan yang paling tua adalah Om Alip 67 tahun. Luar biasa semangat mereka.
Pukul 04.30 kami mulai melakukan summit. Sekitar satu setengah jam dan melewati pos 4 sampailah kami di puncak. Matahari sudah tinggi dan kabut cepat naik di musim penghujan ini. Puncak Gunung Bismo terasa sempit, sehingga sulit untuk mendirikan tenda kecuali di lereng sempit pada puncak sisi sebelah barat. Oleh sebab itu tidaklah heran bila saat di basecamp sudah dilarang untuk mendirikan tenda disini, karena kalau musim hujan badai, bisa-bisa tenda meluncur masuk jurang.
Lereng dari rim yang menurut salah satu rekan mencirikan sebuah gunung purba cukup memanjakan mata. Saya menyempatkan nembuat video ucapan untuk darling (dadar guling) yang ultah pas di hari itu, (maaf ya ditinggal pergi Cintah. Muah).
Tumbuh-tumbuhan yang ada disekitar Puncak Bismo sempat diabadikan oleh rekan pendaki. Kami mendengar suara binatang yang menurut porter adalah suara Lutung.
Pulang dari Gunung Bismo, porter yang sebelumnya sempat pingsan sudah bisa jadi supir ojek dari gerbang ke basecamp sambil senyum-senyum. Porter ini sekolahnya di kelas 1 SMA, cuma beda setahun di bawah anak bungsu di rumah, jadi kasihan melihatnya.
Sepanjang jalan keramahan penduduk desa khas Jawa Tengah memang bikin hati luluh, mengingatkan betapa santunnya Indonesia yang jejaknya agak hilang di media sosial.
Kebun-kebun cabe yang baru panen membuat salah seorang peserta yang berniat membeli cabe malah dapat jauh lebih banyak dari yang diminta. Semoga ladang-ladang ini tidak merusak lereng-lereng indah ke arah puncak sana.
Pulang dari Gunung Bismo kami naik bis dari terminal Mendolo Wonosobo. Bisnya bagus dan jauh lebih murah dibanding kereta. Wisata Indonesia bakal ramai kalau fasilitasnya nyaman begini. Sampai ketemu lagi di Jawa Timur nanti.
Hery Latu
Pendaki tinggal di Jakarta

Komentar