Senin, 07 September 2026 | 21:34
LIFESTYLE

'Lupa Diri' Demi Sesuap Nasi

'Lupa Diri' Demi Sesuap Nasi

JAKARTA: Saya tiba-tiba kaget. Shock! Pak Driver itu mengejutkan saya. Saat itu saya sedang menemani anak kami yang tak mau berhenti berjalan keliling di Mall Pejaten Village.

Tepat di depan DCrepes mata saya melihatnya tidur di sana dengan posisi terduduk. Saya merasa kuatir dengan kondisinya. Wajahnya tampak lelah sekali. Juga agak pucat. Tapi mungkin karena faktor cahaya lampu.

Dia tampak nyenyak sekali. Cukup lama. Saya sempat berpikir, jangan-jangan dia sedang sakit. Bahkan, kuatir dia sedang mengalami sesuatu yang lebih buruk. Sempat terpikir membangunkannya atau meminta tolong petugas sekuriti membangunkannya. Tetapi saya urungkan. Menunggu perkembangan.

Sekitar 10 menit kemudian, saya melihat kelopak matanya bergerak membuka dan menutup. Saya lega.

Tetapi, dia tidak langsung bangun. Dia lanjut tidur lagi. Tampaknya lelahnya cukup akut. Lalu lalang orang dan cahaya lampu tak menghalanginya tidur begitu saja, meski tidur seadanya di pojokan itu.

Tak berapa lama kemudian, dia bangun dan mengusap matanya. Lalu berdiri. Tak lama, makanan orderannya diterimanya. 3 porsi. Dia pun kemudian mengotak-atik HPnya dan berlalu pergi.

Dia tampak lebih segar setelah tidur darurat selama sekitar 15 menit itu.

***

Beberapa orang dianugerahi kesempatan menikmati hidup tanpa harus berlelah-lelah. Sebagian besar lainnnya melakoni ritual lelah dan bahkan menderita demi bertahan hidup.

Demi bertahan hidup, ada banyak pula cara melakoni yang disebut dengan usaha atau upaya.

Ada yang memilih jalan lurus dan sepi. Tak peduli hasil sedikit asal bersukacita. Intinya, berpuas diri dengan apa yang dapat dihasilkan yang mereka sebut sebagai rezeki dari Sang Ilahi. Mereka mencukupkan diri dengan apa yang ada. Mensyukuri apa yang ada.

Yang lainnya, dan tampaknya sebagian besar penghuni bumi ini, memilih jalan menghalalkan segala cara. Baik dengan cara-cara halus dan putih a la maling kerah putih maupun dengan cara-cara kasar dan gelap.

Misalnya, di antaranya, ada yang mengatasnamakan rakyat untuk memperkaya diri. Tepatnya sih menjual rakyat. Menggunakan jabatan dan kekuasaannya untuk memenuhi libido materialismenya. Memakan apa yang bukan haknya.

Mereka mencuri/mengkorupsi uang rakyat habis-habisan namun tetap merasa(bahkan menuntut) atau diperlakukan sebagai "yang terhormat." Memberi makan keluarga, menyekolahkan anak-anaknya dan menikmati kebangaan dan kehormatan atas semua kebanggaan itu meski berasal dari hasil penipuan dan menyalahgunaan jabatan dan kekuasaan.

Yang lainnya, menggunakan cara-cara keras dan kasar. Misalnya: Penipuan. Pemerasan. Penyerobotan hak-hak orang lain. Membunuh atau menjadi pembunuh bayaran. Menggadaikan nasib orang dengan menyuap/menerima suap dalam proses hukum. Mengkhianati kepercayaan. Menjual anak, istri dan diri sendiri. Atau, menjual orang lain.

Ada juga yang dengan sengaja merancang penghancuran harkat dan martabat hingga kesuksesan orang lain lalu menguasainya.

Bahkan, ada yang menyerobot istri atau suami orang lain tanpa merasa bersalah apalagi merasa terhina sama sekali.

Saat melihatnya tidur di sana dalam kelelahan, saya teringat kelelahan serupa yang pernah saya alami pada masa kecil. Dan terutama kelelahan orang tua kami sendiri.

Pernah beberapa kali merasakan seperti itu. Waktu SD, saat usai sekolah, saya pergi menjual kue buatan Mama. Namun hingga sore pembeli sangat sedikit. Akhirnya kue itu di bawa pulang ke rumah. Sedih sekali karena tidak menghasilkan uang. Sedih ketika mengingat betapa capeknya mama membuat kue itu di sela tanggungjawab utamanya mengurus keluarga.

Lalu, saat menemani Bapak berjualan di pinggir jalan di tengah pasar kota Teluk Dalam, Nias Selatan menjual hasil kebun untuk membeli kebutuhan kami di rumah dan biaya sekolah.

Seringkali, Bapak sendirian pergi berjualan, setelah sebelumnya singgah dulu di ladang untuk mengambil atau memetik hasil kebun yang akan dibawa ke pasar.

Pernah beberapa kali, pekerjaan berbulan-bulan dari membuka lahan, mengolah lahan, menanam benih, menanam, menyiangi, memberantas hama dan mengusir burung pipit. Namun, pada suatu pagi ketika kami tiba di sawah yang sangat jauh dari rumah dan harus ditempuh dengan berjalan kaki saban hari itu, kami hanya menemukan dan melihat pemandangan hamparan beberapa petak sawah yang telah rata dengan tanah. Tikus-tikus berjamaah membabati seluruh padi sejak malam.

Pernah juga sudah capek-capek bekerja, ternyata harga hasil pertanian di pasaran tiba-tiba anjlok atau ditawar sangat murah. Rasanya kelelahaan berbulan-bulan terasa sia-sia.

Tetapi, setiap kali, saya melihat Bapak dan Mama seperti tak pernah pusing sama sekali. "Tuhan akan memelihara kita", "Tuhan akan mencukupkan kebutuhan kita, yang penting kita bekerja apa yang seharusnya kita kerjakan."

Itulah kalimat antik, klasik dan magis yang sampai sekarang memengaruhi cara saya melihat dan melakoni kehidupan, yang say adengar dari mereka ketika memaknai realitas hidup serba sulit yang mereka hadapi.

Saat melihat Pak Driver itu tertidur lelah di sana, saya ingat betapa Bapak dan Mama saya sebenarnya sering merasakan kelelahan yang sama demi kami bisa makan hingga sekolah. Seperti banyak orang tua lainnya, termasuk yang berlelah di kampung guna membiayai kehidupan anak-anak mereka yang dikirim untuk sekolah di perkotaan. Meski tak sedikit dari anak-anak mereka hidup dalam cara yang rusak, sia-sia dan tak menghargai jerih perih orang tua mereka. Orang tua yang mengabaikan dan melupakan diri mereka sendiri demi anak-anak mereka agar bisa menikmati apa yang sepantasnya disebut sebagai hidup.

Melihat Pak Driver itu tertidur lelah di sana, saya membayangkan anak-anak dan istri yang berbahagia di rumah menanti kumpulan hasil jerih lelah hari ini untuk menyambung hidup mereka.

Apakah Anda sedang merasakan hidup ini susah belaka? Sesekali lihatlah orang-orang yang berjuang sampai lupa diri demi orang-orang yang mereka kasihi.

Lihatlah orang-orang yang hanya bisa melihat dan merasai aroma makanan dan minuman orderan tanpa bisa membayangkan seperti apa enaknya makanan dan minuman itu.

Lihatlah pada diri Anda sendiri. Mungkin Anda telah dengan sengaja memilih laku hidup yang menargetkan kepuasan tanpa kelelahan, kekayaan tanpa kerja keras, kenikmatan hanya dengan tidur-tiduran, dan hal-hal lain semacamnya.

Kalau itu yang Anda sedang lakoni, maka itu benar-benar lupa diri yang nyata dan paling menyedihkan. Dan tidak ada masa depan bagi orang seperti itu.

Dan bila Anda kini berada dan menikmati hidup yang nyaman, sesekali ingat kisah lampau ini. Mungkin ada orang tua yang sangat lelah bahkan sampai lupa diridemi apa yang Anda nikmati saat ini.

Jangan lupakan dan abaikan kelelahan mereka. Buatlah monumenkelelahan mereka. Dengan hidupmu!

Etis Nehe

Pejaten Village Mall, Jakarta Selatan

Komentar