Ada Apa di Gunung Kawi (Kawitan)?
JAKARTA: Gunung Kawi punya nama kuno sebagai KAWITAN yang artinya awal atau paling awal.
Sejak kecil, saya sering mendengar nama Gunung Kawi lengkap dengan cerita miringnya yaitu tempat mencari pesugihan. Entah awalnya dari mana cerita itu hingga menyebar luas, terutama untuk yang di Jawa Timur.
Setelah saya beranjak dewasa, saya sudah melupakan cerita maupun nama Gunung Kawi ini. Tapi jadi teringat kembali karena di pertengahan tahun 2017 tanpa sengaja saya mulai mendaki gunung lagi. Seperti orang kalap lepas kendali, di tahun 2018 ada 8 Gunung yang saya kunjungi.
Dalam penutupan tahun saat Natal, saya mengunjungi Gunung Wilis, yang ternyata punya nama kuno juga, yaitu Pawinihan yang artinya kira-kira Pembenihan. Sambil ngecamp, ngobrol kesana kemari dengan beberapa teman, sampailah cerita pada Gunung Kawi. Saya jadi mengingatnya kembali, dan menjadi lebih ingin tahu lagi, benarkah cerita yang saya dengar di jaman saya kecil?
Dan saatnya tiba, saya berkunjung ke Gunung Kawi yang terletak di desa Balesari, Malang. Di pintu masuk gerbangnya terdapat tulisan Keraton Gunung Kawi. Saya melalui hutan pinus dengan jalan berkelok sedikit panjang untuk sampai pada loket tiket dan tempat parkir. Sesampainya saya di tempat ini, yang ada adalah decak kagum dan bingung.
Di lokasi ini, saya temukan bangunan tempat ibadah lengkap. Ada gereja, mushola, vihara, pura, klenteng, Keraton sanggar pamujan juga punden, semua ada disini. Meski tertulis keraton, kenyataannya tidak ada bangunan keraton di sini. Ada juga sebuah patung yang dibuat yaitu Burung Garuda, lengkap juga dengan semua simbol di dada bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika.
Sangat jelas pesan yang ingin disampaikan, meski kita memiliki beberapa agama dan keyakinan di Indonesia, semua tetap rukun, akur hidup berdampingan dengan tentram dan damai. Maaf kalau saya ikut narsis pada semua tempat ibadah, karena saya sangat bahagia melihatnya, hingga ingin mengabadikan diri saya juga di tempat ini, dan berharap semua warga Indonesia bisa menjaga kerukunan dan hidup berdampingan tentram damai penuh toleransi hingga kapanpun, karena itulah jiwa yang kita miliki sejak dahulu. Tengoklah kembali, apa yang telah diperjuangkan dan menjadi jati diri.
Sempat saya bertanya pada mas Agus pemilik salah satu warung yang berada di lokasi, "ide siapa sebetulnya membuat tempat ibadah semua agama ada dalam satu lokasi?" tanya saya.
"Oh, itu di bangun oleh beberapa orang pengunjung. Ada dari Malang, Jakarta, Bali, Surabaya dan lain-lainnya" jawabnya.
Gunung Kawi ini di yakini sebagai gunung yang penuh berkah, sehingga banyak orang dari manapun berkunjung ke tempat ini, dari berbagai agama dan keyakinan. Baik hanya untuk berkunjung berswafoto, berziarah maupun dengan sebuah doa dan pengharapan. Mungkin karena ada yang berhasil menjadi kaya raya, maka diartikan sebagai tempat mencari pesugihan, atau memang ada yang benar-benar begitu, sayapun belum tahu kebenarannya. Entah juga, siapa yang memulai.
Sesungguhnya, bila hanya berdoa, tanpa usaha yang keras, rajin bekerja, orang tidak akan mungkin menjadi kaya raya.
Berawal dari kisah itu, maka ada yang minta ijin untuk membangun sebuah vihara, pura dan seterusnya. Infonya semua biaya pembangunan berasal dari para pengunjung dan donatur. Saat ini, sedang di bangun pura baru yang lebih besar.
Tempat ini memang tenang dan menyenangkan, bikin kerasan atau betah berlama-lama disini.
Yang hebat menurut saya adalah, masyarakat di seputaran kawasan ini. Dengan hati yang terbuka, menerima dan turut menjaga seluruh tempat ibadah agar tetap bersih dan rapi. Terlepas mereka mendapat imbalan ataupun tidak. Bagi saya, ini sungguh luar biasa.
Sebagai tempat yang punya nama Kawitan, mari kita mengawali kembali, menyusuri apa yang telah kita miliki. Kembali mencari pada awal hidup dan awal perjalanan bangsa ini. Bagaimana terjadinya. Miwiti, memulai dengan baik dan benar.
Dalam kunjungan ini, saya menyempatkan diri untuk mendaki juga, belum sampai di puncaknya sih. Di lain waktu saya akan kembali, dan akan bercerita lebih dalam, tentunya dengan cerita yang berbeda.
Semoga semua makhluk berbahagia, hidup berdampingan dengan sejahtera. Beragam itu indah, indah itu karena kita beragam.
Indonesia luar biasa.
Salam satu jiwa, lestari untuk bumi pertiwi.
Yanni Krishnayanni

Komentar