Senin, 07 September 2026 | 21:34
LIFESTYLE

Filosofi Kupu-Kupu

Filosofi Kupu-Kupu

JAKARTA: Pagi itu saya disambut oleh kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong dan berusaha terbang untuk memulai kehidupan barunya.

Kupu-kupu berasal dari telur menjadi ulat, lalu kepompong dan terakhir jadilah ia kupu-kupu. Sering juga kita lupa dari mana kupu-kupu cantik itu. Lupa bahwa ia pernah menjadi sesuatu yang menjijikkan. Lupa untuk mengetahui proses dari mana asalnya.

Kalau kita telusuri cara metamorposis kupu-kupu, untuk menjadi kupu-kupu dia perlu menjalani proses panjang. Mulai dari telur dan menjadi ulat yang menjijikkan dan tidak disukai, karena sifatnya yang rakus. Dia memakan, merusak dan menghabiskan daun-daun yang ada. Memang sungguh menjengkelkan, Sejak bayi gak ada lucu-lucunya lagi ya.

Maka itu, begitu kita mendengar kata ulat, langsung otak kita mengirimkan rasa jijik, geli dan begidik ngeri.

Setelah Ulat berproses dan menghentikan sifat yang rakus pada satu titik, dia membungkus diri menjadi kepompong.

Langsung yang saya bayangkan adalah ulat sedang menarik diri dan bermeditasi dalam bungkus kepompong dengan waktu tertentu, pada saatnya keluar kembali menjadi bentuk yang lain.

Memiliki sayap, belajar untuk menggunakan sayap, agar bisa membawanya terbang kesana kemari. Jadilah ia yang kita sebut kupu-kupu. Mulai dari bentuk yang tidak kita sukai, dia juga merubah sifatnya yang rakus dengan drastis, dan hanya mengambil sari dari bunga-bunga yang ia temui, bahkan membantu penyerbukan untuk menghasilkan buah maupun kehidupan baru yang lain.

Dengan kepakan sayap, dengan warna yang dimiliki, yang terlihat adalah keindahannya saja, dan akhirnya banyak disukai.

Proses yang dilaluinya menuju perubahan untuk menjadi indah memerlukan waktu tersendiri. Begitu juga dengan diri kita.

Salam satu jiwa, lestari bumi pertiwi.

Yanni Krishnayanni

Komentar