Senin, 07 September 2026 | 22:37
LIFESTYLE

Hidup Bagaikan Bidak Catur

Hidup Bagaikan Bidak Catur

JAKARTA:  Semua juga tahu kalau ini catur. Menarik karena kutemukan begitu besarnya di halaman sebuah tempat makan. Yang terbayang adalah bagaimana memainkannya. Geser aja perlu tenaga ekstra. Mikir dan memperhatikan langkah lawan, pastinya juga ekstra.

Hidup ini semacam bidak-bidak catur, ada pion yang siap maju, ada Peluncur, Kuda, Benteng, Raja dan Ratu. Semua memiliki tugas dan fungsi masing-masing. Semua terkait satu sama lain. Dan semua dibutuhkan dalam satu sessi.

Jangan pernah meremehkan sebuah Pion, memang nampak tidak banyak pengaruh, Pion hanyalah sebagai prajurit, tapi dialah yang bisa menarik kembali seekor kuda, benteng dan teman-temannya bila dia dijaga dan sanggup sampai di seberang.

Sama halnya pada kehidupan ini, sekecil apapun posisi seseorang, dia tetap sangat berharga, dan hargailah sebaik-baiknya.

Sering kita dengar, atau mungkin baca bahwa "Ojo Dumeh" ini merupakan salah satu falsafah orang Jawa dalam menjalani hidupnya. Jangan pernah meremehkan apalagi merendahkan siapapun. Semoga masih banyak yang paham artinya.

Selain itu permainan catur ini bagiku mengajarkan beberapa hal, pertama mengajarkan berpikir dan berhati-hati dalam melangkah, kedua mengajarkan untuk memperhatikan dan selalu waspada, ketiga mengajarkan strategi dan ke empat menghargai apapun yang dimiliki. Mungkin ada master catur yang ingin menambahkan?

Dalam permainan tentunya ada menang dan kalah, dan hal itu biasa saja. Yang paling penting adalah jiwa sportif untuk menerimanya.

Bahkan semua permainan yang kita lakukan saat anak-anak banyak memberikan arti dalam kehidupan. Contohnya permainan go back to door (lebih dikenal go bak so dor) mungkin di daerah lain beda sebutan. Permainan ini mengajarkan strategi, kerjasama team dalam mencapai satu tujuan. Dan masih banyak lagi bentuk permainan.

Nampaknya memang hanya sebuah permainan dalam melatih fisik dan bergembira, nyatanya banyak hal bisa kita dapatkan.

Yanni Krishnayanni

Pendaki Gunung Komunitas SIABI

Komentar