Selasa, 08 September 2026 | 00:17
LIFESTYLE

Let’s Talk About Money

Let’s Talk About Money

NETHERLAND: Sebelumnya mata uang Gulden beredar secara luas di Hindia Belanda masih ada mata uang Sumatera yang diberi nama Dollar Sumatera yang masih digunakan hingga tahun 1824.

Begitu di Jawa; pada saat itu mereka juga memiliki mata uang sendiri yang diberi nama Javanse Rupie yang beredar hingga tahun 1816.

Setelah itu diganti dengan Gulden.

Nama Gulden itu sendiri diserap dari bahasa Belanda Kuno yang berarti Emas.

Nama ini mulanya digunakan untuk menyebut uang yang berbentuk kepingan emas, namun kemudian menjadi nama umum untuk kepingan perak atau logam dasar lainnya.

Nama lain untuk Gulden adalah Florin (f atau fl).

Maka dari itu singkatand dari Gulden adalah huruf f.

Namun nama Florin itu pada awalnya adalah nama mata uang yang beredar di Firenze- Itali.

Satu Gulden di tahun 1916 – 1920 adalah setara Rp 75.000 mata uang sekarang.

Gaji buruh pria per hari pada saat itu 22 sen sedangkan buruh perempuan 11 sen.

Ketika Mang Ucup masih kecil beredar koin Gulden.

½ sen = Peser; 1 sen; 2,5 sen = Benggol / Gobang; 5 sen = Ketip; 10 sen = Picis; 25 sen = Talen; 1 Gulden = Perak; 2,5 Gulden = Ringgit.

Koin Ringgit beratnya 24,8 gr perak dengan kadar perak diatas 90%.

Banyak anak peranakan Tionghoa diberi nama panggilan sesuai dengan nama mata satuan uang misalnya Picis, Gobang, Talen, Perak ataupun Ringgit.

Konon nama itu mencerminkan jumlah uang yang dibayarkan waktu seorang anak yang sakit-sakitan di-Kuepang bahasa Mandarin Guofang (Diruat).

Agar sang anak bisa bebas terhindar dari sakit-sakitan.

Maka secara simbolik sang anak tersebut dijual kepada keluarga dekatnya.

Misalnya seharga Satu Picis; mulai dari saat itulah anak tersebut diberi nama panggilan Picis.

Mang Ucup

Komentar