Selasa, 08 September 2026 | 00:18
LIFESTYLE

Catatan Ringan Pakde Aji Surya (2)

Di Pesantren Dapat Apa?

Di Pesantren Dapat Apa?

KAIRO: Pertanyaan diatas sering mengemuka. Kadang terlihat jadul, kuno dan tidak milenial. Izinkan saya secuil bercerita pengalaman pribadi.

Saya memang “diprogram” oleh ortu saya menjadi seorang “kyai”. —Pls jangan tertawa ya. Ini serius.— Makanya, saya sejak lulus SD, umur 12 th, dimasukkan di kawah Condrodimuko yang bernama Pondok Pesantren dan berhasil lulus pada tingkatan SMA. Alhamdulillah.

Pesantren memang bukan tempat yang enak. Bukan dunia anak-anak bemain, apalagi bermanjaria. Bagaimana tidak, hingga kelas 4 SD saya makan kadang masih disuapi —maklum anak bontot— tiba-tiba setiap makan di Pondok harus antri. Panjang banget kayak ular pithon.

Bukan hanya itu, lauknya pun hanya tewel dan tahu yang rasanya super asin. Kalaupun ada yang spesial, seminggu sekali disediakan lauk lele goreng yang lagi aktif diet.

Yah, semua serba penuh “perjuangan”. Mandi pun harus di sungai yang jaraknya kisaran satu kilometer dr pondokan. Pertama kali, waduh, bingung juga, mau ambil air yang di sisi mana ya. Ada yang agak butek, ada yang bercampur lumut, bahkan tidak jarang ada “barang” lewat. Karena diburu-buru harus masuk sekolah, ya sudah, merem saja. Cebar-cebur, yang penting mandi.

Paling repot saat gunung Merapi lagi “batuk-batuk”. Air sungai jadi demikian keruh. Coklat warnanya. Bahkan, mata air di dekat sungai juga terkoyak dibuatnya. Urunglah kita mandi. Kita malah asyik melihat banjir air yang bercampur batu dan pasir. Bergemuruh!

Kamar saya juga bukan tempat yang nyaman ala rumahan. Bayangkan, satu kamar kecil kisaran 10x5 meter dengan dinding gedek, dihuni tidak kurang 30 anak. Seru banget. Kalau tidur benar-benar berdempetan seperti ikan asin. Maklumlah, kamar tersebut juga berisi perabot seperti almari, jemuran, tempat penyimpan lampu (petromak), dan kasur-kasur.

Yang paling seru, setiap malam kami semua berjihad melawan banyaknya kepinding. Mereka bagaikan pasukan artileri yang menyusup dari sela-sela kayu tempat tidur dan siap menyedot darah kita. Mereka pakai strategi khusus: Hit and run. Susah dikejar. Cepat ngumpetnya. Kalau sudah ngantuk kita hanya bisa “tawakkal” alias menyerah.

Sebagai lulusan SD yang masih bau kencur, hidup di pesantren benar-benar penuh tantangan. Bangun sebelum subuh, rebutan tempat wudlu, mandi di sungai, makan pagi, sekolah, mengaji, hingga shalat isya dan belajar malam. Tepat jam 21.00 listrik dimatikan. Semua siap untuk gerilya melawan kepinding hingga pagi buta.

Dengan perjuangan bertahun-tahun seperti itu, ternyata saya tidak jadi kyai, penceramah, pengkhotbah, apalagi ulama. Kelakuan saya ya mirip-mirip orang umum yang tidak mengenyam pesantren saja. Bahkan, banyak yang menyangkal kalau saya bilang bahwa saya adalah alumni sebuah pesantren. Ya wis, ora opo-opo.

Tapi ini bukan berarti bahwa pesantren tidak memberi dampak apapun dalam hidup saya. Banyak dan super banyak. Salah satunya adalah tentang “perasaan nyaman”. Sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan dari zaman batu hingga zaman now.

Saya masih ingat, dulu saya seorang anak kecil yang introvert, atau “clingus” dalam istilahnya bahasa Jawa. Namun dengan gemblengan kawah Condrodimuko itu, saya merasa nyaman bergaul dengan siapapun. Tidak pernah merasa lebih top, tidak juga “miskin-miskin” amat.

Belajar dari antri makan, lauk seadanya, mandi di sungai, bangun pagi buta hingga perang badar melawan kepinding, rasanya jadi mudah menyesuaikan keadaan. Saya bisa jadi gampang tidur tanpa alas hingga diatas kasur hotel bintang lima. Nyaman-nyaman saja diajak makan di warteg maupun di resto. Adaptif saja mau naik angkot atau Mercedes.

Pesantren membuat saya selalu punya harapan termasuk rasa tawakkal. Hidup menjadi lebih gampang dijalani. Enjoy.

Itulah pesantren di mata saya yang bagi orang lain tentu bisa berbeda. Semua punya sudut pandang yang berbeda sehingga kesimpulannya pun tidak sama. Walalahu a’lam bisawab.

Salam dari Kairo

Komentar