Senin, 13 Juli 2026 | 19:29
TRAVELLING

Anies Baswedan Apresiasi Pagelaran Etno Musik Festival di TIM

Anies Baswedan Apresiasi Pagelaran Etno Musik Festival di TIM

JAKARTA: Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan mengaoresiasi pagelaran Etno Musik Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Minggu, 8 September 2019.  Etno Musik Festival 2019 menghadirkan kelompok-kelompok musik dari berbagai wilayah di nusantara yang masih jarang tersentuh masyarakat luas.

Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta menghadirkan 21 kelompok musik dari berbagai wilayah, meliputi DKI Jakarta, Banten, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Bali, Jawab Barat, NTT, Jawa Timur, Sulawesi Tengah. Etno Musik Festival 2019 juga menghadirkan tiga kelompok musik tradisi asal Malaysia, Filipina, dan China.  

Etno Musik Festival ini diprakarsai oleh Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Etno Musik Festival 2019 akan berlangsung pada tanggal 8-12 September 2019, di seputaran Graha Bhakti Budaya (Plaza, Lobby, dan Auditorium), Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Dalam pernyataannya, Gubernur DKI Jakarta sangat mengapresiasi Ethno Music 2019. “Kegiatan ini diprakarsai dan diselenggarakan sebagai bagian dari ikhtiar melestarikan & memperkenalkan musik-musik tradisi yang hampir dilupakan khalayak banyak. Pada titik ini negara wajib hadir. Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini’.

Sebelumnya, dalam perkenalan peserta dengan insan pers, PLT Ketua DKJ, Danton Sihombing  yang didampingi Anto Hoed dan Otto Sidharta, menyatakan: “Program ini dibuat untuk merawat dan meningkatkan kualitas musik nusantara. Etno Musik Festival juga merupakan sebuah ruang bertukar gagasan antar seniman musik nusantara”.

Etno Musik Festival 2019 menghadirkan kelompok-kelompok musik dari berbagai wilayah di nusantara yang masih jarang tersentuh masyarakat luas. Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta mengundang 21 kelompok musik, antara lain: SMITH dari Palu, Erlika dari Tenggarong, Kaltim, Madrak dari Trenggalek. Hitwan dari MInang Sakato, Indri dari Banten, Agustina dari Keroncong Betawi Irama Jakarta, Ade dengan Ronggeng Deli, Dalif dari Sulbar dengan Macalong, Dari Kebun Mandar untuk Nusantara, Andi Tenri dari Dewan Kesenian Manggarai Barat dengan  tari Dundungdakke, Herman Slung dari Kaltim, Tio Jeng Seng dari Malaysia.

Khusus Sanggar seni Swalas Gunaq dari Kab Kutai Barat, Kaltim akan membawakan Belian Bawo. Kelompok ini dipimpin Herman S. Pd, M. Si, Kadis Pariwisata Kutai Barat, bersama Dekranasda, UPT Taman Budaya, ibu sekda Kresensia rikam beserta Kabid Pengembangan Destinasi ibu Seki MPD.

Belian Bawo adalah salah satu tarian tradisional suku Dayak di Kalimantan Timur. Nama Belian Bawo berasal dari kata “belian” yang artinya menyembuhkan orang sakit, dan “bawo” yang berarti gunung atau bukit. Tarian ini termasuk yang bersitat mistis, hanya dibawakan oleh para dukun atau pawang Belian Bawo dijumpai dalam berbagai acara adat, biasanya digelar untuk mengobati orang sakit, dibawakan oleh para dukun yang bertindak sebagai medium dari roh yang nantinya akan memberitahukan sakitnya dan cara-cara pengobatannya.

Selain itu suku Dayak menggelar tari Belian Bawo sebagai ungkapan terima kasih kepada dewata sesuai keyakinan mereka. Dalam melakukan tarian sang dukun/pawang menggunakan bahasa khusus untuk berdialog dengan roh-roh halus (‘memang”) yang akan membantunya mengusir gangguan roh-roh Jahat.

Irama dan ritme musik pada tari Belian Bawo tidak mentolerir adanya kesalahan, karena akan mengakibatkan kegagalan dalam ritual dan kesurupannya para dukun/pawang yang menari. Untuk mengembalikan keadaan menjadi normal maka musik harus dinetralkan seperti semula. Ritual yang dilakukan adalah untuk mengambil penyakit.

Jika penyakitnya disebabkan oleh santet maka pasien dapat memutuskan apakah akan mengirim balik santet tersebut, atau memindahkannya kepada tumbal yang berupa hewan, seperti ayam atau babi. Namun jika bukan karena pengaruh magis dan memerlukan obat-obatan, maka salah satu penari akan menghilang +1 jam untuk mencari obat. Jika ritual pengobatan sudah selesai, biasanya irama dan ritme musik berubah menjadi lebih lembut.

Selain menyajikan pertunjukan musik tradisi, Etno Musik Festival 2019 juga akan diisi dengan pameran “Alat-Alat Musik Tradisi” dari koleksi Anusirwan dan Endo Suanda serta diskusi seputar musik tradisi dengan mengundang para pakar sebagai pemateri dalam diskusi.

Etno Musik Festival 2019 akan menjadi ruang dialog baru antar kelompok musik tradisi baik dalam maupun luar negeri, terjadi pertemuan baru bahwa musik tradisi juga terus berkembang bersama dengan perubahan jaman, serta membuat generasi muda yang hidup di era digital kembali memetakan warisan musik leluhur yang sejatinya adalah sebuah identitas kultur sebuah bangsa.

Komentar