Klaim Livi Zheng 'Dibantai' Joko Anwar dan John de Rantau
Jakarta: Sosok sutradara Livi Zheng menjadi kontroversial karena kredibilitasnya dipertanyakan. Film karyanya yang diklaim tembus Hollywood jadi sorotan.
Sejumlah pihak mempertanyakan pemahaman Livi soal makna tembus Hollywood, yang dianggap keliru. Salah satunya sutradara Joko Anwar yang pernah mencuit di akun twitternya soal deretan festival film internasional, mulai dari kelas hingga cara untuk masuk seleksinya.
Alhasil, Livi Zheng dan Joko Anwar pun bertemu dalam program Q&A bertema 'Belaga Hollywood' di Metro TV, yang tayang Minggu, 1 September 2019. Saat itu Joko tampill sebagai panelis.
Dalam kesempatan tersebut, selain Joko Anwar, panelis lain yang hadir di antaranya Andibachtiar Yusuf, Adrian Jonathan Pasaribu, Nadine Alexandra Dewi Ames, John de Rantau, dan Maman Suherman.
"Jadi memang lagi heboh ya di media sosial," kata Livi membuka perbincangan itu.
Livi Zheng pun mulai menjelaskan kalau dua karyanya yang berjudul Bali: Beats of Paradise dan Brush with Danger memang masuk seleksi nominasi Oscar. Dari ribuan film di Amerika yang diproduksi, sambungnya, hanya beberapa saja yang memenuhi kriteria masuk seleksi nominasi Oscar. "Dan, film Livi di antaranya."
Livi Zheng membuktikan klaimnya dengan memperlihatkan hasil cetak laman 347 Feature Films in Contention for 2018 Best Picture Oscar di oscar.org. Kemudian, Livi menegaskan jika semua film punya kesempatan untuk mengikuti seleksi tersebut dan tidak dipungut biaya, asal memenuhi kriteria yang ditetapkan.
"Dari ribuan film yang dibuat tiap tahunnya, hanya akan disaring hingga ratusan saja," jelas Livi.
Baca juga: Trending, Klaim Livi Zheng Tembus Hollywood
Penjelasan itupun memancing perdebatan. Joko Anwar mengemukakan pandangannya, apakah masuknya film Livi di deretan seleksi nominasi Oscar itu layak dibanggakan atau tidak.
"Saya nggak pernah denger namanya tembus masuk seleksi Oscar, itu enggak ada sebenarnya. Yang ada adalah in contention, artinya eligable. Eligable artinya berhak untuk ikut serta Oscar. Eligable artinya memenuhi syarat administrasi, bukan syarat kualitas," kata Joko Anwar.
Dia mencontohkan, film berjudul Misteri Kuntilanak Beranak Ngesot Pocong Ketawa Ngakak juga bisa masuk, asal sudah ditayangkan di bioskop Indonesia dengan jangka waktu yang ditentukan, kemudian mendaftarkannya.
Jadi, kata Joko, sesuatu yang eligable untuk Oscar itu bukan sebuah pencapaian. Semua bisa ikut, bahkan film dengan kualitas buruk sekalipun.
Pernyataan Joko pun memancing Livi Zheng untuk unjuk kualitas. Menurut Livi, tidak semua film bisa diputar di bioskop Amerika yang kemudian juga jadi salah satu syarat untuk masuk dalam 'in contention' Oscar tersebut.
Sebab, sambung Livi, dalam persyaratan itu jelas tertulis, film yang berhak ikut pertimbangan Oscar adalah film yang ditayangkan di bioskop komersial di Los Angeles, minimal 7 hari berturut-turut.
"In contention itu kan artinya bersaing untuk ajang Oscar dan itu enggak semua film. Untuk masuk bioskop Amerika saja itu enggak gampang. Dan di Amerika itu saingannya bukan hanya di Amerika saja, tapi seluruh dunia," ujar Livi Zheng.
Alhasil, panelis lain yang juga sutradara film John de Rantau menanggapi satire penjelasan Livi. "Saya kagum dengan kepercayaan diri Livi yang sangat tinggi. Seharusnya seorang sutradara seperti ini memang," kata John. "Cuma, saya kembali lagi bilang bahwa karyanya enggak sebesar omongannya sekarang. Saya menangkap itu. Maaf ya Livi, saya melihat anda jauh lebih besar bacotnya daripada apa yang anda bikin."
Sejak perdebatan itu media sosial kembali ramai memperbincangkan Livi Zheng. Alhasil, nama Livi Zheng masuk dalam jajaran frasa yang paling banyak dicari di mesin pencari Google pada Selasa pagi, 2 September 2019.

Komentar