ASKARA - Perjuangan pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) kembali mendapat energi baru. Kali ini, semangat tersebut datang dari masyarakat Gayo di perantauan melalui Deklarasi Pejuang ALA Bogor–Jakarta yang berlangsung di Kedai Kopi Bambu Kuning, Bojonggede, Bogor, Sabtu (7/11/2026).
Kegiatan yang dikemas dalam diskusi publik bertajuk "Pemekaran ALA dan Spirit Perjuangan" ini bukan sekadar deklarasi, melainkan menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat dukungan, menyatukan pemikiran, dan membangun jaringan perjuangan masyarakat Gayo di luar daerah.
Salah satu pernyataan yang menarik perhatian peserta datang dari Ketua KP3 ALA, Assoc. Prof. Dr. Rahmat Salam, M.Si. Dalam paparannya, ia menyebut perjuangan pembentukan Provinsi ALA telah mencapai sekitar 95 persen.
"Alhamdulillah bisa dibilang sudah 95 persen, lima persennya tinggal tanda tangan Presiden Prabowo," ungkap Rahmat.
Pernyataan tersebut menjadi pemantik optimisme sekaligus membangkitkan kembali semangat masyarakat perantauan untuk terus mengawal aspirasi pemekaran ALA.
Membangun Kekuatan dari Perantauan
Deklarasi ini diinisiasi oleh Miko Salman Gayo, S.H., M.H., dan Putra Gara, S.Sos., dengan dukungan sejumlah tokoh Gayo lainnya, yakni Irwan, Erwintoa, Sulaiman, Harma, Syamsul Bahri, Joul Lenteng Agung, Surya Darma, Miko Sabri, dan Adi Jantar.
Ketiganya juga tampil sebagai narasumber diskusi bersama Ketua KP3 ALA.
Dalam forum tersebut, Rahmat Salam menguraikan perjalanan panjang perjuangan pemekaran ALA sejak awal 2000-an, termasuk berbagai dinamika dan upaya yang telah dilakukan para tokoh serta elemen masyarakat.
Diskusi kemudian berkembang pada persoalan pemerataan pembangunan, efektivitas pelayanan publik, kesiapan daerah, hingga pentingnya menjaga konsistensi perjuangan.
Miko Salman Gayo menekankan pentingnya membangun kebersamaan masyarakat Gayo di perantauan agar memiliki kontribusi nyata dalam mengawal aspirasi daerah asal.
Sementara itu, Putra Gara menyoroti bahwa perjuangan ALA bukan hanya persoalan administratif dan pembentukan provinsi baru, melainkan juga menyangkut sejarah, identitas, martabat, serta harapan masyarakat terhadap masa depan daerahnya.
ALA Bukan Hanya Aspirasi Tanah Gayo
Salah satu pesan penting dari deklarasi ini adalah bahwa perjuangan ALA tidak boleh hanya bertumpu pada masyarakat yang berada di wilayah calon provinsi tersebut.
Masyarakat Gayo di perantauan juga memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga, menyuarakan, dan memperkuat aspirasi tersebut.
Melalui jaringan komunikasi, solidaritas, pemikiran, dan konsolidasi antartokoh, perjuangan dapat memperoleh dukungan sosial yang lebih luas.
Momentum deklarasi yang berlangsung menjelang Hari Pahlawan 10 November 2026 ini sekaligus mengingatkan bahwa perjuangan masa kini tidak selalu dilakukan melalui pertempuran fisik. Perjuangan juga dapat diwujudkan melalui keberanian menyampaikan aspirasi, persatuan, diplomasi, dan kerja kolektif.
Mengawal Lima Persen Terakhir
Optimisme yang disampaikan Rahmat Salam menjadi harapan baru bagi para pendukung ALA. Namun, perjalanan menuju pembentukan provinsi baru tetap membutuhkan kepastian proses administratif, kebijakan pemerintah, serta keputusan sesuai ketentuan perundang-undangan.
Karena itu, konsolidasi masyarakat menjadi bagian penting agar aspirasi tersebut terus mendapatkan perhatian.
Deklarasi Pejuang ALA Bogor–Jakarta diharapkan menjadi awal terbentuknya jaringan perjuangan yang lebih terorganisasi, tidak hanya di Bogor dan Jakarta, tetapi juga di berbagai wilayah perantauan.
Dari Bogor, pesan perjuangan itu kembali ditegaskan: ALA bukan sekadar wacana pemekaran, melainkan aspirasi tentang pemerataan pembangunan, keadilan pelayanan, dan masa depan masyarakat.
Perjuangan belum selesai. Lima persen yang disebut tersisa itu kini menjadi simbol harapan sekaligus tantangan untuk terus mengawal cita-cita Aceh Leuser Antara.