Senin, 02 November 2026 | 21:13
NEWS

Sahrial Enang Enang Wafat, Sosok Inspirator yang Membuka Isolasi Enang Enang

Jalan Arteri yang Viral itu Dibangun dari Modal Sosial Rakyat Aceh

Sahrial Enang Enang Wafat, Sosok Inspirator yang Membuka Isolasi Enang Enang
Sosok inspirator yang membuka isolasi Enang Enang, Sahrial (Dok Barack)

ASKAR - Nama Enang Enang kini dikenal luas. Jembatan dan jalan arterinya viral, dikunjungi banyak orang, dan menjadi simbol keterbukaan Tanoh Gayo.

Namun di balik viralnya jalan itu, ada satu nama yang tidak boleh dilupakan, Sahrial Enang Enang. Ia bukan pejabat. Ia bukan pemilik modal besar. Ia adalah sosok inspirator, penggerak rakyat, yang membuka isolasi Enang Enang dengan kekuatan yang paling mahal di Aceh, modal sosial.

Bapak Sahrial telah berpulang. Kabar duka itu menyebar cepat di Takengon dan di seluruh Tanoh Gayo. Bagi masyarakat, yang pergi bukan sekadar seorang tokoh kampung. Yang pergi adalah penggerak yang pernah membuktikan bahwa rakyat bisa membangun jalannya sendiri, ketika negara belum sepenuhnya hadir.

Membuka Isolasi dengan Gotong Royong

Enang Enang dulu terisolasi. Aksesnya sulit, jalannya terbatas, dan masyarakatnya seolah terpisah dari pusat Takengon.

Sahrial tidak menunggu. Ia menggerakkan warga, mengajak tokoh, pemuda, dan perantau untuk turun bersama. Ia meyakinkan orang bahwa jalan itu bukan sekadar aspal dan beton, tetapi jalan kehidupan.

Tokoh Masyarakat Gayo, Lahat, menjadi saksi langsung perjuangan itu. Ia mengenang Sahrial sebagai sosok yang tidak banyak bicara, tetapi selalu paling depan bekerja.

"Beliau yang menggerakkan. Beliau yang meyakinkan orang untuk ikut. Tanpa beliau, Enang Enang mungkin masih terisolasi sampai hari ini," ujar Lahat di Takengon

Menurut Lahat, Sahrial tidak pernah menganggap jalan itu proyeknya sendiri. Ia selalu berkata, jalan ini milik rakyat, maka rakyatlah yang harus menjaganya.

"Kalau Bapak Sahrial sudah bicara, orang percaya. Karena beliau sendiri yang turun, beliau sendiri yang memikul, beliau sendiri yang paling capek. Itu yang membuat orang ikut," kata Lahat.

Dari gerakan itulah, jalan arteri Enang Enang terbangun, lalu viral. Orang datang bukan hanya untuk melihat jembatan dan pemandangan lembahnya, tetapi untuk melihat bukti bahwa sebuah kampung bisa berubah ketika rakyatnya bersatu.

Jalan itu kemudian menjadi lebih dari sekadar infrastruktur. Ia menjadi cerita. Cerita tentang rakyat Aceh yang tidak menyerah pada isolasi.

Modal Sosial yang Terbangun Saat Itu

Ketua Umum Yayasan Pasak Opat Nenggeri Linge, Zam Zam Mubarak, menyebut apa yang dilakukan Sahrial sebagai pembangunan modal sosial dalam arti yang sesungguhnya.

"Modal sosial rakyat Aceh terbangun saat itu. Kepercayaan, gotong royong, rasa memiliki, dan keberanian untuk bergerak bersama, itu semua terbangun dari Enang Enang," kata Zam Zam.

Lahat mengamini hal itu. Menurut dia, yang terbangun di Enang Enang bukan hanya jalan, tetapi kepercayaan antar warga yang sempat hilang karena lama terisolasi.

"Dulu orang Enang Enang merasa sendiri, merasa jauh, merasa tidak diperhatikan. Bapak Sahrial yang menyatukan lagi. Setelah jalan terbuka, orang merasa punya harga diri lagi, merasa bagian dari Gayo, bagian dari Aceh," ujar Lahat.

Modal sosial itulah yang membuat Enang Enang viral. Bukan viral karena sensasi, tetapi viral karena ketulusan. Orang merasakan ada kejujuran dan kebersamaan di balik jalan itu.

Modal Sosial Gayo yang Tetap Bertahan Pasca Bencana

Kini, setelah Sahrial tiada, ujian terbesar bagi modal sosial itu justru datang pasca bencana.

Jelang satu tahun bencana, Tanoh Gayo masih berjuang. Kebun kopi belum sepenuhnya pulih. Akses dan ekonomi masyarakat masih sulit. Bantuan dan program pemerintah belum sepenuhnya sampai dan dirasakan.

Namun di tengah kesulitan itu, modal sosial yang dimiliki masyarakat Gayo masih tetap bertahan. Lahat menjadi salah satu tokoh yang terus menjaga semangat itu di tengah masyarakat.

"Modal sosial Gayo itu masih ada. Di tengah kesulitan pasca bencana, orang Gayo masih saling menjaga, masih gotong royong, masih tidak saling meninggalkan. Itu warisan terbesar dari sosok seperti Bapak Sahrial," ujar Lahat.

Menurut Lahat, pasca bencana justru membuktikan kekuatan orang Gayo. Ketika bantuan lambat, warga saling membantu. Ketika kebun rusak, warga saling menguatkan. Ketika satu kampung kesulitan, kampung lain datang.

"Kalau bukan karena modal sosial itu, mungkin kami sudah runtuh. Tapi kami masih bertahan, karena kami masih seperti dulu, seperti saat membangun Enang Enang, saling percaya, saling bantu," kata Lahat.

Bagi Zam Zam, inilah pelajaran penting bagi negara. Pembangunan tidak cukup hanya dengan anggaran dan program. Pembangunan membutuhkan modal sosial, dan modal sosial itu sudah dimiliki Gayo sejak lama, sejak Enang Enang dibuka, dan masih dijaga sampai hari ini oleh tokoh-tokoh seperti Lahat.

Akan Selalu Dikenang

Dalam poster duka yang beredar, Sahrial disebut sebagai salah satu tokoh inspiratif Tanoh Gayo yang akan selalu dikenang. Di belakang fotonya, terpampang Jembatan Enang Enang, jembatan yang menjadi saksi perjuangannya.

Doa pun mengalir untuknya. Semoga almarhum ditempatkan di surga-Nya Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Lahat berharap, kepergian Sahrial tidak membuat semangat Enang Enang ikut pergi. Ia berharap, generasi muda Gayo melanjutkan apa yang sudah dimulai Sahrial, menjaga jalan, menjaga jembatan, dan yang lebih penting, menjaga kebersamaan.

"Cara terbaik mengenang beliau bukan hanya dengan doa. Cara terbaik adalah dengan menjaga apa yang ia tinggalkan, jalan Enang Enang, jembatannya, dan semangat gotong royongnya," ujar Lahat.

Selama modal sosial itu masih bertahan, maka Sahrial Enang Enang akan selalu hidup di Tanoh Gayo.

 

Editor: Caecilia Eersta