Oleh: Hafisz Tohir | Pengamat Ekonomi Politik | Anggota DPR RI 2014-2024
ASKARA - Setelah MSCI, sekarang Fitch Ratings kasih peringatan untuk Indonesia. Status kita masih BBB (layak investasi), tapi outlook negatif sejak 4 Maret 2026. Dua langkah lagi kita bisa masuk kategori JUNK — tidak layak investasi.
Kenapa pasar ragu? Fitch catat 3 hal: 1) Kerangka kebijakan ekonomi melemah 2) Beban utang naik tajam 3) Cadangan devisa turun dari US$156,5 Miliar (Des 2025) ke US$146,3 Miliar (Sep 2026) — turun US$10,2 Miliar, setara 5,3 bulan impor.
Kondisi hari ini 28 Okt: Rupiah Rp18.165 per US$ (+8,7% dalam setahun), mendekati Rp18.200. Yield obligasi 10 tahun naik ke 7,4%. IHSG pagi ini turun 1,03% ke 5.211. Asing net sell Rp2,03 Triliun (26 Okt) dan total Rp11,98 Triliun sejak MSCI umumkan konsultasi 15 Okt.
Apa artinya buat kita?
Utang pemerintah Rp10.300 Triliun. Kalau bunga naik 1% saja, APBN harus bayar bunga tambahan Rp100 Triliun per tahun. Uang itu bukan buat sekolah atau jalan.
Kalau sampai Junk? Dana pensiun dan asuransi global dilarang pegang surat utang kita. Mereka harus JUAL. Investor kabur, Rupiah makin tertekan, bunga KPR naik, harga impor makin mahal. UMKM yang paling duluan kena.
BEI sudah bergerak: 82 saham konsentrasi tinggi akan dikeluarkan dari IHSG mulai 2 Nov, batas auto-reject 7%. Tapi MSCI masih konsultasi sampai 30 April 2027, keputusan final Juni 2027. Pasar menunggu bukti, bukan janji.
Rating belum turun. Ini baru peringatan. Tapi ini alarm kolektif bahwa pasar menunggu langkah konkret pemerintah untuk memulihkan kepercayaan.
Indonesia ini negara Sultan. SDA melimpah, pasar besar, anak muda kreatif. Kita terlalu berharga untuk disejajarkan dengan Zimbabwe.
Saatnya perkuat kolaborasi untuk UMKM, bukan saling menyalahkan.