Minggu, 27 September 2026 | 20:31
LIFESTYLE

Profesor 75 Tahun Mendadak Menggigil, Dua Jam Kemudian Kembali Berjalan

Profesor 75 Tahun Mendadak Menggigil, Dua Jam Kemudian Kembali Berjalan
Ilustrasi Om Piet dan pasien (Dok Askara)

ASKARA - Suasana santai di teras sebuah rumah pada Sabtu (26/9/2026) mendadak berubah menjadi kepanikan. Seorang profesor berusia 75 tahun tiba-tiba pucat, tubuhnya menggigil hebat, tangan dan kaki gemetar, sementara tubuhnya terasa dingin.

Kisah tersebut diceritakan Pieter Dasion atau Om Piet. Saat itu, ia sedang berbincang bersama sejumlah orang ketika seorang ibu memberi tahu bahwa sang profesor tampak gemetar.

“Saya pun bergegas masuk ruangan. Profesor pucat, tangan dan kakinya gemetar, mulutnya juga bergetar,” tutur Om Piet dalam catatannya.

Profesor tersebut datang bersama istrinya dan dua cucu. Anak dan menantunya sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis. Mereka datang menggunakan kendaraan dengan sopir sewaan.

Melihat kondisinya, Om Piet berusaha memberikan pertolongan dengan pijatan pada telapak tangan, betis, serta bagian pundak dan bahu. Saat itu, ia sempat menduga kondisi tersebut berkaitan dengan serangan jantung.

Namun, Om Piet menegaskan bahwa dugaan tersebut bukan diagnosis medis.

“Saya sempat berpikir, apakah mungkin serangan jantung. Itu hanya dugaan,” katanya.

Kondisi profesor saat itu memang membuat keluarga panik. Telapak tangannya terlihat pucat. Pemeriksaan menggunakan oksimeter menunjukkan angka 96 persen, sedangkan ketika tekanan darah hendak diukur, alat tidak memberikan hasil yang terbaca.

Sekitar 10 menit kemudian, menurut pengamatan Om Piet, muncul perubahan. Profesor tersebut dapat bersendawa dan kemudian meminta pergi ke toilet karena ingin buang air kecil. Meski demikian, tubuhnya masih terasa dingin dan gemetar.

Om Piet kembali melakukan pijatan. Ia mengaku memberikan tekanan lebih kuat pada beberapa bagian tubuh yang menurut pemahamannya berkaitan dengan area jantung dan paru-paru.

Pijatan tersebut bahkan terasa sakit hingga membuat adik-adik sang profesor meminta Om Piet menghentikannya.

“Sudah, sakit Piet, cukup,” demikian kenang Om Piet menirukan permintaan keluarga.

Dalam pikirannya saat itu, berbagai kemungkinan sempat muncul. Apakah kondisi tersebut berkaitan dengan jantung, lambung, atau sebab lainnya? Ia bahkan mengaitkannya secara spekulatif dengan kemungkinan makan makanan tertentu dalam keadaan perut kosong.

Namun, semua itu tetap sebatas dugaan pribadi. Penyebab tubuh menggigil, pucat, dingin, atau perubahan kondisi secara mendadak pada seseorang berusia lanjut tidak dapat dipastikan hanya melalui pengamatan atau pijatan. Kondisi seperti itu memerlukan pemeriksaan tenaga medis, terlebih bila dicurigai berkaitan dengan jantung.

Tak lama kemudian, profesor kembali meminta izin ke toilet. Setelah keluar, Om Piet melihat perubahan pada wajahnya.

“Wajah profesor lebih bersinar. Tidak capek, tidak layu. Getaran tubuhnya juga sudah jauh berkurang,” ujarnya.

Sang profesor kemudian dibaringkan untuk beristirahat dan, menurut cerita Om Piet, diberi obat ringan yang disebutnya sebagai Panadol.

Sekitar pukul 17.00, kondisi profesor disebut sudah jauh lebih baik. Ia dapat berjalan dan berbicara normal. Dua jam setelah kejadian yang sempat membuat seluruh penghuni rumah panik itu, sang profesor bahkan berjalan menuju mobil untuk pulang bersama istrinya.

Bagi Om Piet, pengalaman tersebut menjadi pengingat sederhana bahwa perubahan kondisi tubuh perlu diperhatikan dengan serius.

Ia mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda yang muncul pada tubuh, tetapi tidak menjadikan pengalamannya sebagai pengganti pemeriksaan dokter.

“Amati badan Anda,” pesannya.

Om Piet juga menyampaikan dugaan mengenai makanan atau minuman yang dikonsumsi ketika perut kosong. Namun, ia menekankan bahwa hal tersebut hanya kemungkinan yang terlintas dalam pikirannya dan bukan kesimpulan medis.

Pengalaman itu, menurut Om Piet, bukan semata tentang terapi. Ada kepanikan, keluarga yang saling menguatkan, dan kelegaan ketika orang yang mereka sayangi kembali dapat berdiri dan berbicara seperti biasa.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa bila seseorang mengalami gejala mendadak seperti nyeri atau tekanan di dada, sesak napas, pingsan, keringat dingin, pucat, atau gemetar hebat, keluarga sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Pijat atau terapi alternatif tidak boleh menggantikan pemeriksaan dan penanganan dokter.

“Semangat, sehat Prof,” ujar Om Piet menutup kisahnya.

Bagi keluarga sang profesor, sore itu mungkin akan selalu dikenang sebagai beberapa jam yang penuh kecemasan. Tetapi juga sebagai pengingat bahwa kesehatan tidak boleh dianggap sepele, dan bahwa kepedulian orang-orang di sekitar menjadi sangat berarti ketika kondisi tubuh tiba-tiba berubah.

 

Komentar