Cacing, Ulat, Menguji Pengawasan MBG Pati
ASKARA - Dua temuan dalam satu hari kembali menguji pengawasan Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Pati. Cacing air ditemukan dalam satu porsi MBG siswa MAN 1 Pati, sementara ulat ditemukan pada buah matoa yang diterima siswa SMK Bhina Tunas Bhakti Juwana. Persoalannya menjadi lebih serius karena sekolah terakhir mengalami kejadian serupa hanya enam hari sebelumnya.
Kamis, 24 September 2026, paket MBG tiba di MAN 1 Pati sekitar pukul 11.00 WIB. Ketika dibuka saat istirahat, seekor cacing air terlihat bergerak dalam salah satu nampan. Kepala MAN 1 Pati Moh. Kodri membenarkan temuan itu. Siswa yang menerima porsi tersebut langsung dilarang memakannya. Tidak dilaporkan adanya keracunan. Hingga pemberitaan berkembang, belum ada penjelasan resmi mengenai asal cacing tersebut. Radar Pati, 24 September 2026.
Pada hari yang sama, persoalan muncul di SMK Bhina Tunas Bhakti Juwana. Seorang siswa menemukan ulat pada buah matoa dalam paket MBG. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan Prestasi Muhammad Nur Rohim membenarkan kejadian itu dan mengatakan laporan kemudian diteruskan kepada SPPG. detikJateng, 24 September 2026.
Masalahnya, ini bukan kejadian pertama di sekolah tersebut. Enam hari sebelumnya, 18 September, ulat ditemukan pada selada dalam menu MBG. Kepala SPPG Karangrejo Juwana Siswono Yoga Utama meminta maaf serta menyatakan akan mengevaluasi dan meningkatkan SOP. Dinas Kesehatan Pati juga mengevaluasi SPPG dan mengingatkan agar prosedur kebersihan dipatuhi. detikJateng dan Radar Kudus, 19 September 2026.
Pengulangan dalam rentang enam hari itulah yang membuat persoalan bergeser dari sekadar temuan benda biologis dalam makanan menjadi pertanyaan mengenai efektivitas pengendalian mutu. Mengapa kejadian serupa kembali ditemukan setelah evaluasi dan janji peningkatan SOP? Pertanyaan ini tidak serta-merta membuktikan seluruh pelaksanaan MBG bermasalah, tetapi menunjukkan adanya titik pengendalian yang perlu diperiksa.
Konteksnya semakin penting karena pada 10 September, BGN bersama Pemerintah Kabupaten Pati telah mengumumkan evaluasi menyeluruh terhadap 172 SPPG di kabupaten tersebut menyusul kasus keracunan makanan. Pemeriksaan mencakup fasilitas, kapasitas pelayanan dan kepatuhan terhadap SOP. SPPG yang dinilai tidak layak dapat direkomendasikan untuk dihentikan operasionalnya. BGN, 10 September 2026.
Secara nasional, persoalan higiene juga menjadi perhatian. Pada 16 September, BGN menghentikan sementara 1.276 SPPG yang belum memenuhi persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Sebanyak 821 masih dalam proses pendaftaran, 447 telah mendaftar tetapi belum memenuhi syarat kelayakan, sedangkan delapan belum terkonfirmasi statusnya. BGN, 16 September 2026.
Sehari sebelum kasus Pati mencuat, BGN kembali menegaskan bahwa SPPG yang tidak memenuhi ketentuan dapat dikenai suspend. Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana menyebut rata-rata 20 hingga 30 SPPG dikenai penghentian operasional sementara setiap hari berdasarkan hasil pengawasan. BGN, 23 September 2026.
Pengawasan memang tidak cukup berhenti pada dokumen SOP. Bahan baku harus disortir, dicuci dan diperiksa sebelum diolah atau disajikan. Titik kritisnya berada sepanjang rantai produksi: penerimaan bahan, penyimpanan, pengolahan, pemorsian hingga makanan meninggalkan dapur. Temuan di tangan siswa berarti ada sesuatu yang perlu ditelusuri pada rangkaian tersebut.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Iman Permana menilai pengawasan SPPG perlu dilakukan berlapis. Audit harus diikuti perbaikan, sedangkan sekolah dapat dilibatkan memberikan penilaian mengenai kebersihan makanan, kualitas menu, ketepatan pengiriman dan keluhan pelayanan. ANTARA, 24 September 2026.
Di sinilah Pati menjadi ujian penting. Evaluasi 172 SPPG sudah diumumkan, sebuah SPPG telah dievaluasi setelah temuan ulat, dan BGN memiliki mekanisme suspend. Yang perlu diketahui publik berikutnya bukan hanya siapa meminta maaf, melainkan di mana sumber masalah ditemukan, apa tindakan korektifnya, dan bagaimana memastikan kejadian serupa tidak berulang.
Makan bergizi bukan hanya persoalan protein, karbohidrat, vitamin dan kalori. Ada syarat yang lebih mendasar: makanan harus aman dikonsumsi. Cacing dan ulat di Pati bukan dasar untuk menggeneralisasi seluruh program MBG, tetapi cukup menjadi alasan untuk menguji pengawasannya. Sebab kepercayaan publik tidak dibangun dari banyaknya porsi yang dikirim, melainkan dari konsistensi memastikan setiap porsi aman ketika sampai di tangan anak.

Komentar