Sabtu, 26 September 2026 | 13:35
NEWS

Kenangan Hengkie Jong Dilatih Guruh Soekarnoputra: Belajar Kecak, Menemukan Jiwa Budaya

Kenangan Hengkie Jong Dilatih Guruh Soekarnoputra: Belajar Kecak, Menemukan Jiwa Budaya
Guruh Soekarnoputra (Dok Hengkie)

ASKARA - Kepergian Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra meninggalkan banyak kenangan bagi mereka yang pernah bersentuhan langsung dengan dunia seni dan budaya yang diperjuangkannya.

Salah satunya Hengkie Jong. Ia mengenang masa ketika dirinya mendapat kesempatan berlatih bersama tim Swara Mahardhika, kelompok seni yang lekat dengan kiprah Guruh Soekarnoputra dalam mengembangkan seni pertunjukan Nusantara.

Bagi Hengkie, pengalaman tersebut menjadi salah satu perjalanan yang tidak terlupakan. Pasalnya, seumur hidup, baru saat itulah ia benar-benar belajar tari, termasuk Tari Kecak.

"Sempet dilatih beberapa bulan sama Tim Swara Mahardhika. Seumur-umur baru sekali itu belajar Tari Kecak," kenang Hengkie.

Latihan Tari Kecak ternyata bukan perkara mudah bagi orang yang tidak terbiasa menari. Salah satu latihan yang paling diingat Hengkie adalah bagaimana tubuh harus ditempatkan dalam posisi tertentu untuk membangun kekuatan dan kekompakan.

"Pundak dibuka lebar, dada membusung, posisi sejajar tahan selama 30 menit. Leher pegel banget," ujarnya.

Namun, rasa pegal itu justru menjadi bagian dari pengalaman yang kemudian membekas. Hengkie mengaku mendapatkan motivasi untuk terus mengikuti latihan hingga akhirnya tampil dalam sebuah pertunjukan di FISIP Universitas Indonesia.

"Tampil di FISIP-UI, tahunnya lupa," katanya.

Hengkie bahkan masih mengingat bagaimana persiapan penampilan kala itu. Wajah para penampil dipermak sedemikian rupa untuk kebutuhan pertunjukan hingga dirinya sendiri nyaris tidak mengenali wajahnya.

"Foto-fotonya enggak tahu sekarang di mana. Jijay, muka dipermak habis sampai enggak ngenalin muka sendiri," kenangnya sambil tertawa.

Namun, di balik kenangan ringan itu, Hengkie melihat ada sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar sebuah pertunjukan tari.

Baginya, pengalaman dilatih oleh tim Swara Mahardhika membuka kesadaran bahwa seni dan budaya Nusantara bukan sesuatu yang hanya bisa dipelajari oleh mereka yang sejak awal berkecimpung di dunia seni.

"Luar biasa sih dilatih untuk Tari Kecak. Cuma motivasi saja yang buat semangat. Ternyata orang awam bisa kok kenal tarian, budaya, bisa menjiwai kok," tuturnya.

Hengkie mengatakan, pengalaman tersebut juga membuatnya melihat kembali nilai-nilai bangsa yang terkandung dalam kesenian tradisional.

Ada kebersamaan, disiplin, ketekunan, kekompakan, sekaligus rasa bangga terhadap kebudayaan sendiri.

"Nilai-nilai bangsa yang mungkin sekarang sudah sulit kita temui," katanya.

Bagi Hengkie, itulah salah satu warisan penting yang pernah ditanamkan melalui kegiatan seni seperti Swara Mahardhika.

Ia pun berharap seni pertunjukan kolosal yang memadukan musik dan tari tidak berhenti menjadi kenangan masa lalu.

"Swara Mahardhika sekarang entah bagaimana. Musik dan tari kolosal itu mestinya bisa kita lestarikan," ujarnya.

Kenangan Hengkie menjadi potongan kecil dari perjalanan panjang Guruh Soekarnoputra dalam dunia seni. Di mata mereka yang pernah berlatih bersamanya, seni bukan sekadar pertunjukan di atas panggung.

Seni menjadi jalan untuk mengenal kebudayaan, membangun rasa percaya diri, dan merasakan kembali nilai-nilai yang tumbuh dari kekayaan Nusantara.

Hengkie juga masih mengingat sosok yang dahulu kerap mengabadikan berbagai kegiatan tersebut melalui dokumentasi.

"Seingat gue, dulu yang sering buat dokumentasi itu Cipuk," katanya.

Kini, ketika Guruh telah berpulang, kenangan-kenangan kecil seperti latihan Tari Kecak, tubuh yang harus bertahan dalam posisi selama 30 menit, wajah yang dipermak untuk tampil di panggung, hingga semangat belajar dari seorang awam menjadi bagian dari cerita tentang seorang seniman yang pernah mengajak banyak orang mendekat kepada budaya bangsanya sendiri.

Dan bagi Hengkie, pengalaman itu meninggalkan satu pelajaran sederhana, untuk mencintai budaya sendiri, seseorang tidak harus lebih dulu menjadi seniman. Cukup diberi kesempatan untuk mengenal, belajar, dan merasakan.

Komentar