Jumat, 18 September 2026 | 22:34
NEWS

Meretas Jejak Sejarah Para Penjaga Negeri Menuju Vatikan

Meretas Jejak Sejarah Para Penjaga Negeri Menuju Vatikan
Wakil Uskup OCI, Romo Kolonel (Sus) Yos Bintoro, Pr., didampingi Letjen TNI (Purn.) Ignatius Yogo Triyono dan Marsda TNI (Purn.) Alfonsus Joko Takarianto foto bersama Nunsius Apostolik untuk Indonesia, Mgr. Walter Erbì (Dokpen OCI)

ASKARA - Dari sebuah pertemuan hangat di Nunsiatur Apostolik di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, sebuah perjalanan panjang mulai dirajut. Dari Indonesia menuju Lourdes, Prancis, dan diharapkan berujung di hadapan Paus Leo XIV di Roma.

Harapan itu disampaikan Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) dalam audiensi dengan Nunsius Apostolik untuk Indonesia, Mgr. Walter Erbì, Jumat (18/9/2026). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari persiapan OCI membawa sekitar 60 anggota kontingen umat Katolik TNI dan Polri mengikuti Pilgrimage Militaire International (PMI) pada 21 - 24 Mei 2027 di Lourdes.

OCI juga menyampaikan harapan memperoleh kesempatan audiensi dengan Bapa Suci pada 28 Mei 2027.

Audiensi dipimpin Wakil Uskup OCI, Romo Yos Bintoro, Pr., didampingi Letjen TNI (Purn.) Ignatius Yogo Triyono dan Marsda TNI (Purn.) Alfonsus Joko Takarianto.

Romo Yos menyampaikan, rencana membawa sekitar 60 anggota kontingen OCI merupakan tindak lanjut rekomendasi Ignatius Kardinal Suharyo, Uskup Agung Jakarta sekaligus Ordinaris Militer Indonesia, agar OCI membangun komunikasi dengan Takhta Suci.

“Kami ingin membawa semangat para penjaga negeri dari Indonesia ke Lourdes. Ini bukan sekadar perjalanan, tetapi perjalanan iman, persaudaraan dan pelayanan. Kami juga berharap dapat memperoleh kesempatan bertemu Bapa Suci untuk memohon berkat dalam menjalankan tugas menjaga keutuhan NKRI,” ujar Romo Yos.

Bagi OCI, perjalanan tersebut memiliki makna yang melampaui sebuah kunjungan internasional. Ada jejak sejarah panjang yang hendak disambungkan kembali.

Sejarah itu bermula ketika Vikariat Militer Indonesia didirikan pada 25 Desember 1949 oleh Paus Pius XII, yang kemudian mengangkat Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, sebagai uskup militer pertama Indonesia.

Lebih dari tujuh dekade kemudian, kontingen OCI diharapkan kembali menorehkan jejak sejarah melalui Lourdes. Di kota yang menjadi salah satu pusat ziarah umat Katolik dunia itu, para anggota militer dan kepolisian Indonesia akan bertemu dengan umat Katolik militer dari berbagai negara.

Mereka datang bukan hanya membawa seragam dan identitas institusi, tetapi juga membawa doa.

“Di Lourdes, kita akan hadir bersama para penjaga negeri dari berbagai negara dalam suasana doa. Di sana iman mempertemukan kita, sementara pelayanan menjadi bahasa bersama,” kata Romo Yos.

Tema PMI 2027, “Unis dans la foi, fidèles dans le service” atau “Bersatu dalam iman, setia dalam pelayanan”, menjadi pesan yang hendak dibawa OCI.

Dalam perjumpaan tersebut, delegasi Indonesia juga diharapkan dapat memperkenalkan wajah bangsa yang majemuk, kaya budaya, serta menjadikan perdamaian sebagai bagian penting dari kehidupan bersama.

Sementara rencana audiensi dengan Bapa Suci di Vatikan memiliki makna tersendiri. Pertemuan itu diharapkan menjadi kesempatan bagi delegasi OCI untuk memohon berkat dalam menjalankan tugas menjaga keamanan, kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI.

“Mereka yang bertugas menjaga keamanan dan kedaulatan negara juga membutuhkan kekuatan iman. Karena itu, perjumpaan dengan Bapa Suci kami maknai sebagai kesempatan untuk memohon berkat agar pengabdian kepada bangsa dan negara dijalankan dengan keteguhan hati,” ujar Romo Yos.

Semangat tersebut ditempatkan dalam cakrawala yang lebih luas, yakni cita-cita Indonesia sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, terutama tentang kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Dalam pertemuan tersebut, Mgr. Walter Erbì yang didampingi Sekretaris Eksekutif Nunsiatur, Mgr. Michael, mengungkapkan kegembiraannya melihat pelayanan Gereja yang hadir secara nyata di tengah umat Katolik dalam lingkungan TNI dan Polri.

Dalam dua pekan pertama menjalankan tugas di Indonesia, Mgr. Erbì juga menyampaikan kesannya terhadap kekayaan bangsa Indonesia, mulai dari keberagaman masyarakat, keramahan, keindahan alam hingga kekayaan budaya.

“Saya sangat gembira melihat pelayanan Gereja yang hadir di tengah umat, termasuk melalui OCI. Indonesia adalah bangsa yang kaya, dengan keberagaman, budaya dan masyarakat yang ramah. Kehadiran OCI merupakan bagian penting dari wajah Gereja di tengah kehidupan bangsa Indonesia,” ungkap Mgr. Erbì.

Dalam konteks itu, Mgr. Erbì menyatakan akan turut merekomendasikan kepada Bapa Suci agar delegasi Indonesia memperoleh kesempatan untuk diterima dalam audiensi.

Pertemuan di Nunsiatur kemudian ditutup dengan penyerahan buku sejarah “75 Tahun Pengabdian OCI bagi Tanah Air” kepada Mgr. Walter Erbì.

Buku tersebut menjadi simbol perjalanan panjang OCI dalam mendampingi umat sekaligus mengabdi kepada tanah air. Sebab, sejarah tidak selalu dibangun oleh peristiwa besar, tetapi juga oleh kesetiaan yang dijalani dari waktu ke waktu.

Sebuah plakat OCI turut diserahkan kepada Mgr. Erbì sebagai ungkapan selamat atas penunjukannya sebagai Nunsius Apostolik untuk Indonesia sekaligus tanda persaudaraan dan penghormatan.

Di balik buku dan plakat itu terselip sebuah harapan sederhana: agar pelayanan Mgr. Erbì di Indonesia senantiasa diberkati Tuhan dan menjadi jembatan persaudaraan antara Takhta Suci dan Gereja Katolik di Indonesia.

Perjalanan menuju Lourdes dan Vatikan itu memang belum dimulai.

Namun jejaknya telah diletakkan.

Dari sebuah meja perjumpaan di Nunsiatur Apostolik Jakarta, doa para penjaga negeri mulai dirajut, menuju Lourdes, dan bila Tuhan berkenan, hingga berhadapan langsung dengan Bapa Suci di Roma.

 

Komentar