Jumat, 11 September 2026 | 14:07
NEWS

Babak Baru Eksplorasi LTJ di Mamuju

Babak Baru Eksplorasi LTJ di Mamuju
Ilustrasi PT Perminas menjelasakan kepada masyarakat terkait rencana proyek mineral strategis (Dok Askara)

ASKARA - Di Blok Botteng, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, rencana eksplorasi Logam Tanah Jarang (LTJ) oleh PT Perminas (Persero) menghadapi kenyataan yang jujur harus diakui: sebagian warga menolak rencana pengeboran di lebih dari 30 titik yang dijadwalkan perusahaan. Penolakan ini sah dan berangkat dari alasan yang nyata, kekhawatiran terhadap lahan, sumber air, dan ruang hidup yang selama ini menopang kehidupan mereka.

Mengakui hal ini di awal adalah kesadaran bahwa kepercayaan publik hanya bisa dibangun di atas kejujuran, bukan narasi yang menutupi kenyataan. Dari titik itulah pertanyaan yang lebih penting muncul: bagaimana keberatan warga direspons, dan apakah prosesnya berjalan adil?

Mengapa Keberatan Warga Beralasan

LTJ bukan komoditas tambang biasa. Badan Geologi Kementerian ESDM memetakan potensi sumber daya tereka di tiga blok Mamuju, Botteng, Botteng Utara, dan Takandeang, dengan kadar oksida tanah jarang berkisar 2.578 hingga 4.571 ppm, salah satu cadangan potensial terbesar di Indonesia. Nilai strategis inilah yang membuat kegiatan eksplorasi mendapat perhatian nasional, sekaligus membuat kekhawatiran warga di sekitarnya menjadi wajar untuk diperhitungkan secara serius, bukan diposisikan sebagai hambatan yang harus "diluruskan."

Sejumlah warga di Botteng mempertanyakan kecepatan proses sosialisasi dibandingkan dengan waktu yang mereka butuhkan untuk memahami dampak jangka panjang eksplorasi terhadap lahan dan sumber air. Ini adalah pertanyaan beralasan yang seharusnya dijawab dengan data dan mekanisme yang jelas, tanpa menggunakan asumsi bahwa penolakan semata muncul dari kurangnya informasi.

Proses yang Sedang Dibangun

PT Perminas menjelasakan, kegiatan saat ini masih berada pada tahap eksplorasi dan penelitian awal, dengan payung Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi yang telah diterbitkan untuk Blok Takandeang maupun Botteng. Perusahaan menyampaikan bahwa jalan menuju tahap produksi, jika hasil eksplorasi terbukti layak secara teknis, ekonomis, dan lingkungan, membutuhkan waktu sekitar delapan tahun, jauh berbeda dari kesan bahwa pengeboran sampel identik dengan tambang berskala penuh yang segera beroperasi.

Sejauh ini, langkah konkret yang sudah berjalan di Desa Takandeang meliputi koordinasi rutin dengan pemerintah desa mengenai tahapan pengeboran, rencana penyediaan sarana air bersih bagi warga Dusun Paladda, prioritas perekrutan tenaga kerja lokal sesuai kebutuhan kegiatan, dan proses penyelesaian lahan warga yang terdampak langsung oleh titik pengeboran. Namun perusahaan juga mengakui bahwa pendekatan yang berhasil membangun kepercayaan di Takandeang belum sepenuhnya berhasil diterapkan di Botteng, tempat penolakan warga masih berlangsung, sebuah kesenjangan yang perlu menjadi bahan evaluasi, bukan disembunyikan.

Dalam forum orasi ilmiah bertema "Green LTJ" yang digelar di salah satu kampus setempat pada 5 September 2026, PT Perminas bersama BRIN memaparkan tahapan eksplorasi kepada akademisi, peneliti, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, dan perwakilan warga. Forum semacam ini penting bukan karena otomatis berarti seluruh peserta sepakat, melainkan karena ia membuka ruang bagi pertanyaan kritis untuk dijawab dengan data geologi dan kajian lingkungan secara langsung di hadapan publik, termasuk pertanyaan dari pihak yang skeptis terhadap rencana perusahaan.

Pandangan yang Seimbang

Pendiri Beranda Ruang Diskusi, Raldy Doy, lulusan Geologi UPN Yogyakarta, mengingatkan, keterbukaan informasi adalah kunci kepercayaan, bukan sekadar formalitas sosialisasi. "Kalau masyarakat bertanya tentang lingkungan, jawab dengan kajian lingkungan. Kalau bertanya mengenai kandungan mineral, jawab dengan data geologi. Kalau ada persoalan lahan, selesaikan secara terbuka dan adil," ujarnya.

Ia juga menegaskan, dialog tidak boleh disalahartikan sebagai alat untuk memperoleh persetujuan otomatis dari warga. "Ini bukan sekadar perusahaan mencari keuntungan berhadapan dengan masyarakat. Ada kepentingan negara karena LTJ merupakan sumber daya yang strategis. Tetapi kepentingan negara juga harus berjalan bersama kepentingan masyarakat dan perlindungan lingkungan," katanya, sebuah pengingat bahwa keberatan warga di Botteng tetap harus dihormati sebagai bagian sah dari proses ini, bukan rintangan yang harus dilewati.

Suara akademisi dan peneliti yang hadir dalam forum di salah satu perguruan tinggi lokal turut menjadi penyeimbang penting, mengingat pengolahan LTJ memerlukan kajian ilmiah yang kompleks, berbeda dari pengolahan komoditas tambang lain seperti emas, nikel, tembaga, atau bauksit, sehingga setiap klaim mengenai potensi maupun risiko perlu diuji secara terbuka, bukan diterima begitu saja dari satu pihak.

Ukuran Keberhasilan yang Sesungguhnya

Keberhasilan pengelolaan LTJ Mamuju tidak bisa diukur hanya dari nilai ekonomi yang dihasilkan atau kecepatan proses perizinan. Ukuran yang lebih jujur adalah apakah keberatan warga di Botteng benar-benar dijawab dengan tindakan nyata, bukan hanya klarifikasi komunikasi, dan apakah pendekatan yang terbukti bekerja di Takandeang bisa direplikasi secara konsisten di wilayah lain yang masih menyimpan keraguan.

Negara membutuhkan sumber daya strategis untuk memperkuat kemandirian teknologi. Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa keberatan mereka didengar dan direspons, bukan sekadar dicatat. Kedua kebutuhan ini tidak saling meniadakan, tetapi juga tidak akan berjalan seiring dengan sendirinya. Tetap membutuhkan komitmen aktif dari PT Perminas untuk terus membuka informasi, menjawab keberatan secara spesifik, dan menunjukkan melalui tindakan, bukan hanya pernyataan, bahwa kepentingan nasional dan kepentingan warga Mamuju dapat berjalan bersama.

Mamuju punya kesempatan menjadi contoh bagaimana proyek mineral strategis dikelola dengan kejujuran tentang tantangannya, bukan hanya optimisme tentang potensinya. Justru dengan mengakui bahwa belum semua pihak sepakat, PT Perminas memiliki peluang untuk menunjukkan bahwa kepercayaan publik dibangun melalui proses yang konsisten, bukan melalui narasi yang terlihat mulus di atas kertas.

 

Komentar