Kamis, 10 September 2026 | 23:47
NEWS

UNICEF dan Dinkes Papua Selatan Perkuat Edukasi AIDS, TBC, Malaria dan Kusta

UNICEF dan Dinkes Papua Selatan Perkuat Edukasi AIDS, TBC, Malaria dan Kusta
Peserta kegiatan sensitisasi program AIDS, TBC, malaria dan kusta yang digelar UNICEF bersama Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Papua Selatan (Dok Winona)

ASKARA - Perlindungan anak tidak hanya berbicara tentang keamanan dan hak anak, tetapi juga memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang memahami kesehatan dan mampu mencegah penyakit. Semangat itu menjadi bagian dari kegiatan sensitisasi program AIDS, TBC, malaria dan kusta yang digelar UNICEF bersama Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Papua Selatan di Hotel Care In, Merauke, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan sehari tersebut mempertemukan berbagai unsur masyarakat yang memiliki peran penting dalam perlindungan dan kesehatan anak. Hadir tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, komunitas pemerhati anak Yayasan Kanisiwak, KPA Merauke, PKBI, TP PKK, Majelis Taklim, perwakilan kampung dari Distrik Tanah Miring dan Distrik Merauke, akademisi Universitas Musamus, Diskominfo Papua Selatan, FKUB, MUI, Klasis GKI dan GPI, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan KB Papua Selatan, kader Posyandu, serta perwakilan media RRI Merauke dan Askara.

Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk menyamakan pemahaman mengenai empat penyakit yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Peserta diajak membedakan mitos dan fakta, mengenali faktor risiko, memahami langkah pencegahan, hingga pentingnya menjalani pengobatan secara tuntas.

Sejumlah narasumber memberikan pemaparan berdasarkan data dan pengalaman layanan kesehatan di lapangan. Mereka antara lain Kepala Dinas Kesehatan Papua Selatan dr. Herlina Rahangiar, MARS, Head Officer UNICEF di Tanah Papua Iswahyudi, dr. Inge Silvia dari KPA Merauke, Agustinus Muyak, SKM, MKM, selaku Plh. Kabid Kesmas P2 Dinkes Papua Selatan, dr. Roike Dani Djou selaku penanggung jawab program kusta Dinkes Papua Selatan, serta Rizal selaku penanggung jawab program TBC Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke.

Dipandu Heince Mangesa dari UNICEF, diskusi berlangsung interaktif. Paparan mengenai mitos-fakta, faktor risiko, pencegahan, dan pengobatan memancing berbagai pertanyaan kritis dari peserta. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab narasumber dengan penjelasan berbasis data dan fakta.

Kepala Dinas Kesehatan Papua Selatan dr. Herlina Rahangiar menekankan pentingnya pesan kesehatan tersebut diteruskan kepada masyarakat melalui para pemangku kepentingan yang hadir.

“Harapan kami, pesan kunci terintegrasi yang kami presentasikan ini dapat disampaikan dengan baik oleh para stakeholder kepada komunitasnya. Bahwa keempat penyakit yang banyak menyerang anak-anak ini sesungguhnya dapat dicegah dan diobati dengan bergerak bersama. Empat penyakit ini bukan aib, kesalahan orang tua ataupun kutukan adat,” tegas Herlina kepada Askara.

Pesan serupa disampaikan Iswahyudi. Menurutnya, para peserta yang hadir memiliki peran penting sebagai jembatan informasi bagi komunitas masing-masing. Edukasi yang benar diperlukan agar masyarakat memahami cara memberikan dukungan kepada penderita, termasuk memastikan pengobatan tidak terputus.

“Bagaimana mematahkan stigma di masyarakat agar tidak membuat penderita merasa dihakimi tanpa dukungan, sehingga mereka bisa bangkit dan pulih,” ujar Iswahyudi.

Ia menambahkan, pemerintah melalui fasilitas pelayanan kesehatan telah menyediakan berbagai sarana, peralatan, dan pengobatan yang diperlukan. Tantangannya adalah memastikan masyarakat mengetahui dan mau mengakses layanan tersebut.

“Pemerintah sebagai penyedia layanan kesehatan telah memperlengkapi setiap faskes dengan peralatan dan pengobatan yang memadai. Tinggal bagaimana masyarakat dapat memanfaatkannya dan mengakses layanan tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, keberhasilan pengendalian penyakit tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Keluarga, tokoh agama, tokoh adat, komunitas, kader, lembaga pendidikan, hingga media memiliki peran dalam membangun pemahaman yang benar sekaligus mengurangi stigma.

Kegiatan kemudian ditutup oleh Agustinus Muyak dengan penandatanganan komitmen bersama seluruh stakeholder. Komitmen tersebut menjadi simbol kesediaan berbagai pihak untuk meneruskan edukasi dan bergerak bersama melalui komunitas masing-masing.

Mewakili Kepala Dinas Kesehatan Papua Selatan, Agustinus menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang mengikuti kegiatan hingga selesai.

“Kami berharap melalui acara hari ini kita terus menjalin komunikasi, saling mendukung, agar semakin banyak masyarakat yang teredukasi dengan informasi tentang AIDS, TBC, malaria dan kusta, sehingga tujuan eliminasi keempat penyakit tersebut dapat tercapai,” ujarnya.

Pada akhirnya, kegiatan tersebut membawa satu pesan penting: melawan penyakit bukan hanya dengan obat, tetapi juga dengan pengetahuan, kepedulian, dan keberanian mematahkan stigma. Terutama bagi anak-anak, lingkungan yang sehat dan masyarakat yang tidak menghakimi menjadi bagian penting dari perjalanan mereka untuk tumbuh dan meraih masa depan.

 

Komentar