Bawa Beras Dibalas Peluru, Tiga Pegawai Tewas Ditembak OPM
ASKARA - Tiga pegawai Badan Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya tewas setelah rombongan mereka ditembaki orang tak dikenal di Kampung Muliama, Jayawijaya, Papua Pegunungan, Rabu (9/9). Peristiwa tragis ini bukan sekadar kabar kriminal. Ini adalah pukulan kemanusiaan yang menyayat hati, terlebih para korban sedang menjalankan tugas mendistribusikan bantuan pangan kepada masyarakat.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, penembakan terjadi sekitar pukul 15.47 WIT. Saat itu, delapan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya melintas di Kampung Muliama untuk menjalankan tugas pelayanan kepada warga. Rombongan kemudian diadang dan ditembaki oleh orang tak dikenal yang diduga terkait kelompok kriminal bersenjata (KKB).
Apa pun motif dan siapa pun pelakunya, pembunuhan terhadap manusia tidak dapat dibenarkan. Apalagi korban merupakan aparatur yang sedang bekerja membawa bantuan untuk masyarakat. Mereka datang bukan membawa senjata, melainkan membawa beras, sesuatu yang semestinya menjadi simbol kepedulian negara kepada rakyat.
Peristiwa ini juga mengirimkan pesan yang sangat mengkhawatirkan. Jika mereka yang datang membawa bantuan pangan saja tidak aman, bagaimana masyarakat dapat merasa terlindungi? Bagaimana tenaga kesehatan, guru, penyuluh pertanian, pekerja sosial, dan aparatur lainnya dapat menjalankan tugas jika jalan menuju kampung-kampung berubah menjadi ruang yang penuh ancaman?
Pemerintah tidak boleh membiarkan tragedi ini berlalu sebagai sekadar angka dalam laporan keamanan. Tiga orang telah kehilangan nyawa. Tiga keluarga kehilangan orang yang mereka cintai. Dan masyarakat Papua Pegunungan kembali dipaksa menyaksikan kekerasan yang tidak mereka kehendaki.
Penegakan hukum harus dilakukan secara tegas, profesional, dan terukur. Pelaku harus diburu dan diproses berdasarkan hukum. Namun pada saat yang sama, negara juga harus memastikan masyarakat sipil tidak menjadi korban berikutnya. Keamanan bukan semata-mata soal operasi dan senjata, tetapi juga tentang memastikan rakyat dapat bekerja, bepergian, bersekolah, berobat, dan menerima bantuan tanpa rasa takut.
Papua membutuhkan pembangunan, pendidikan, pelayanan kesehatan, pangan, dan kesempatan hidup yang lebih baik, bukan siklus kekerasan yang terus memakan korban.
Jangan biarkan kekerasan menjadi bahasa yang mengalahkan kemanusiaan. Papua adalah bagian dari Indonesia, tetapi lebih dari itu, Papua adalah rumah bagi manusia-manusia yang berhak hidup aman dan bermartabat. Tiga nyawa yang gugur hari ini harus menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan slogan. Ia harus diwujudkan dengan keberanian negara menegakkan hukum, melindungi rakyat, dan membuka jalan dialog serta kehidupan yang lebih baik.

Komentar