Kamis, 10 September 2026 | 01:35
NEWS

Gus Kikin, Ulama Berlatar Pelaut dan Momentum Maritim NU

Gus Kikin, Ulama Berlatar Pelaut dan Momentum Maritim NU
Ilustrasi Gus Kikin nahkoda baru NU (Dok Askara)

ASKARA - Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU masa khidmat 2026–2031 dinilai membawa perspektif unik bagi organisasi. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, itu memiliki pengalaman di dunia pesantren sekaligus latar belakang pendidikan dan profesional di sektor maritim.

Pengamat Maritim dari Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI Strategic Centre (ISC), DR. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, menilai pengalaman tersebut dapat menjadi modal penting dalam memimpin organisasi sebesar NU yang memiliki jaringan luas hingga kawasan pesisir dan kepulauan.

“Pengalaman Gus Kikin sebagai pelaut dan pengelola usaha maritim menjadi kekuatan tersendiri. Dunia pelayaran membentuk disiplin, ketepatan membaca arah, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan menjaga kerja sama seluruh awak untuk mencapai tujuan,” ujar Capt. Hakeng di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Dari Pelaut hingga Pengusaha Pelayaran

Sebelum aktif di dunia pesantren dan organisasi NU, Gus Kikin menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Ia kemudian menjalani praktik pelayaran di kapal niaga dan melanjutkan karier profesional di perusahaan pelayaran milik negara, PT Djakarta Lloyd.

Pada 1988, ketika berusia sekitar 30 tahun, Gus Kikin dipercaya menjadi Kepala Cabang Cilegon. Pengalaman tersebut kemudian dilanjutkan dengan kiprah di bidang usaha pelayaran.

Menurut Capt. Hakeng, pengalaman tersebut mempertemukan kemampuan manajerial dengan pemahaman tentang logistik, perdagangan, rantai pasok dan pengelolaan risiko.

“Ini menjadi modal yang relevan ketika NU ingin memperkuat kemandirian ekonomi umat,” katanya.

NU dan Potensi Ekonomi Biru

Capt. Hakeng menilai Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi ekonomi laut yang sangat besar. Karena itu, pembangunan nasional tidak seharusnya hanya berorientasi pada daratan.

Menurutnya, Gus Kikin memiliki posisi unik untuk menjembatani tiga dunia sekaligus: pesantren, ekonomi umat dan sektor maritim.

“Kehadiran ulama dengan latar belakang pelaut memberikan warna baru dalam kepemimpinan organisasi keagamaan. Ini bisa menjadi momentum bagi NU untuk memperluas perhatian terhadap ekonomi biru dan sektor maritim,” ujar Dewan Pakar Pengurus Pusat Pemuda Katolik Republik Indonesia tersebut.

Ia menambahkan, NU memiliki peran strategis dalam kehidupan kebangsaan. Dengan jaringan organisasi yang luas, termasuk di wilayah pesisir, NU berpotensi ikut mendorong pemberdayaan masyarakat nelayan, penguatan ekonomi pesisir, pendidikan kemaritiman hingga kesadaran menjaga laut.

Kepemimpinan Seperti Menakhodai Kapal

Pengalaman sebagai mantan nakhoda kapal super tanker juga membuat Capt. Hakeng melihat kepemimpinan PBNU melalui perspektif kemaritiman.

“Laut tidak selalu tenang. Ada gelombang, badai dan perubahan arus. Seorang nakhoda harus mampu menjaga kapal tetap berada di jalur tanpa kehilangan tujuan,” ujarnya.

Ia berharap kepemimpinan Gus Kikin dapat memperkuat konsolidasi dan rekonsiliasi, sekaligus menghimpun potensi warga Nahdliyin untuk berkontribusi lebih besar bagi pembangunan nasional.

Capt. Hakeng pun menyampaikan selamat atas amanah baru yang diberikan kepada Gus Kikin. Ia berharap perpaduan spiritualitas pesantren, profesionalisme dan pengalaman maritim dapat melahirkan gagasan konkret bagi kemandirian ekonomi umat sekaligus memperkuat kembali jati diri Indonesia sebagai bangsa maritim.

“Semoga kepemimpinan Gus Kikin membawa kebaikan bagi NU dan bangsa Indonesia, serta ikut mendorong Indonesia menjadi bangsa maritim yang kuat, mandiri dan berdaya saing global,” pungkasnya.

 

Komentar