Selasa, 01 September 2026 | 06:23
OPINI

Jangan Bunuh Burung Ajuk-Ajuk

Jangan Bunuh Burung Ajuk-Ajuk
Ilustrasi jangan bunuh Burung Ajuk-Ajuk (Dok Askara)

Oleh: Jaya Suprana

ASKARA - Di semesta ornitologi, ada satu keluarga burung yang jagoan meniru: Mimidae. Anggota terkenalnya di Amerika adalah  Mockingbird, atau dalam bahasa kita: Burung Ajuk-Ajuk.

Nama "ajuk-ajuk" pas sekali. Dia bukan cuma berkicau. Dia meng-ajuk. Suara mobil mundur, katak, anjing, bahkan alarm tetangga jam 4 pagi. Semua disalin. Ekornya panjang, bulunya abu-abu polos. Secara fisik biasa saja. Tapi secara vokal? Dia virtuoso.

Ajuk-ajuk jantan bisa hafal 200 jenis lagu dan mengulanginya sampai 2.000 kali dalam sehari. Tujuannya sederhana: menarik pasangan dan mempertahankan wilayah. Dia bernyanyi bukan untuk dipuji. Dia bernyanyi karena itu satu-satunya cara dia bertahan hidup. Di sinilah burung ini keluar dari kandang sains dan masuk ke sastra.

Harper Lee menamai mahakaryanya To Kill a Mockingbird. Di novel itu, Atticus Finch berpesan pada anak-anaknya: "Shoot all the bluejays you want, if you can hit 'em, but remember it's a sin to kill a mockingbird."

Kenapa dosa?

Karena ajuk-ajuk tidak melakukan apa-apa selain membuat musik untuk kita nikmati. Dia tidak merusak tanaman. Tidak mengganggu. Dia hanya ada, lalu bernyanyi. Lee memakai burung ini sebagai simbol: kepolosan yang disakiti oleh dunia. Tom Robinson, Boo Radley. Mereka seperti ajuk-ajuk. Tidak bersalah, tidak berbahaya, bahkan memberi kebaikan. Tapi tetap jadi sasaran prasangka.

Novel ini begitu mengguncang Amerika tahun 1960 sehingga meraih Hadiah Pulitzer. Tiga tahun kemudian difilmkan. Gregory Peck berperan sebagai Atticus Finch.  Pembawaannya tenang, berwibawa, dan menolak ikut berteriak dalam kerumunan. Penampilannya memenangkan Oscar Aktor Terbaik.  Sampai hari ini, adegan Peck berdiri di ruang sidang masih jadi kuliah etika gratis.

Jadi apa hubungan ornitologi dengan hukum dan Oscar? Sama-sama bicara tentang suara. Ajuk-ajuk bersuara dengan kicauan. Atticus bersuara dengan pembelaan. Keduanya sama-sama lemah jika diukur dengan kekuasaan, tapi kuat karena konsistensi dan konsekuensi ketulusan.

Ironisnya, di alam liar ajuk-ajuk sering bertarung habis-habisan menjaga sarangnya. Galak, tidak takut elang. Tapi di tangan manusia, dia jadi metafora untuk "jangan sakiti yang tak berdaya".

Maka setiap kali kita mendengar burung meniru sirine di pagi hari, mungkin itu bukan sekadar burung sembarang burung. Itu pengingat: di dunia yang ribut, masih ada makhluk hidup yang tugasnya hanya bernyanyi. Dan membunuhnya, entah secara harfiah atau kiasan, akan senantiasa menjadi dosa. Selaras makna mulia terkandung di dalam sila ke dua Pancasila yakni Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

 

Komentar