Terjerat Lingkaran Setan Judol-Pinjol, Saat Utang Jadi Bahan Bakar Judi
ASKARA - Harga kebutuhan hidup terus naik, sementara penghasilan tidak selalu bergerak secepat pengeluaran. Di tengah tekanan itu, tawaran pinjaman online muncul begitu mudah di layar ponsel.
“Pinjam Rp5 juta, cair 10 menit, tanpa jaminan.”
Awalnya mungkin hanya untuk menutup kebutuhan. Namun, persoalan menjadi jauh lebih berbahaya ketika uang pinjaman digunakan untuk bermain judi online (judol). Kalah, pinjam lagi. Berharap menang untuk menutup utang. Kembali kalah, kembali berutang.
Tanpa disadari, terbentuklah lingkaran setan judol-pinjol: pinjaman menjadi bahan bakar perjudian, sementara kekalahan memaksa seseorang mencari pinjaman baru.
Mantan Wakil Kepala PPATK yang kini aktif sebagai pelaku dan pemerhati sociopreneur, Agus Santoso, mengingatkan bahwa fenomena tersebut bukan lagi sekadar persoalan keuangan pribadi. Menurutnya, keterhubungan antara judi online dan pinjaman online telah berkembang menjadi persoalan sosial yang harus mendapat perhatian serius.
Tiga Tanda Mulai Terperangkap
Agus menguraikan sedikitnya tiga tanda seseorang mulai masuk ke dalam lingkaran tersebut.
Pertama, meminjam uang untuk membayar utang lama.
Gaji baru diterima, tetapi langsung habis untuk membayar cicilan. Beberapa hari kemudian uang kembali kosong dan pinjaman baru diajukan untuk menutup kewajiban sebelumnya.
Jika seseorang sudah memiliki beberapa aplikasi pinjaman aktif dan mulai menggunakan satu pinjaman untuk menutup pinjaman lainnya, kondisi tersebut patut menjadi alarm serius.
Kedua, uang pinjaman digunakan untuk berjudi.
Pertanyaan sederhananya: ke mana uang pinjaman terakhir digunakan?
Jika jawabannya untuk melakukan deposit atau top up judi online, maka persoalannya bukan lagi sekadar pinjaman. Seseorang telah menjadikan utang sebagai modal perjudian.
Judi online menawarkan ilusi keuntungan cepat dan janji “balik modal”. Ketika kalah, muncul dorongan untuk kembali bermain. Ketika menang, kemenangan sering kali justru digunakan untuk bermain lebih besar.
Siklus itu membuat seseorang terus mengejar kemenangan yang belum tentu datang.
Ketiga, kehidupan mulai dipenuhi tekanan, kebohongan dan rasa malu.
Tekanan pembayaran utang dapat merembet ke keluarga dan pekerjaan. Seseorang mulai berbohong kepada pasangan mengenai penggunaan uang, kehilangan konsentrasi saat bekerja, sulit tidur, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial.
Pada pinjaman ilegal, persoalan dapat semakin buruk karena munculnya ancaman, intimidasi, hingga penyalahgunaan atau penyebaran data pribadi.
“Ini bukan sekadar masalah uang. Ini sudah masuk ke persoalan sosial dan psikologis,” kata Agus, Minggu (30/8/2026).
Jangan Tutup Utang dengan Utang Baru
Agus menegaskan, jalan keluar pertama adalah menghentikan sumber masalah.
Pertama, putus akses terhadap judol. Hentikan aktivitas perjudian, hapus aplikasi atau akses yang digunakan dan jangan kembali melakukan deposit dengan alasan ingin mengembalikan modal.
Kedua, hadapi seluruh utang secara terbuka. Catat siapa pemberi pinjaman, berapa jumlah pokok, kewajiban pembayaran dan jatuh temponya. Jangan menambah utang baru hanya untuk menutup utang lama.
Jika memiliki pinjaman dari penyelenggara yang berizin, debitur dapat mencari informasi mengenai mekanisme penanganan kesulitan pembayaran dan restrukturisasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Ketiga, jangan menghadapi persoalan sendirian. Keluarga, lembaga resmi dan kanal pengaduan pemerintah dapat menjadi tempat meminta bantuan. Persoalan utang harus dihadapi dengan komunikasi terbuka, bukan disembunyikan.
Keempat, bangun kembali sumber penghasilan. Utang yang lahir dari judi tidak akan selesai dengan judi berikutnya. Jalan keluarnya adalah menghentikan perjudian dan membangun penghasilan yang nyata melalui pekerjaan maupun usaha produktif.
Mulailah dari sesuatu yang realistis. Berdagang, membuka jasa, mengikuti pelatihan keterampilan atau mengembangkan usaha kecil dapat menjadi pilihan sesuai kemampuan masing-masing.
Negara Harus Hadir, Masyarakat Harus Waspada
Menurut Agus, pemberantasan judol dan pinjol ilegal tidak cukup hanya dengan pemblokiran situs, aplikasi atau rekening. Edukasi, literasi keuangan, penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi masyarakat juga menjadi bagian penting untuk memutus mata rantai persoalan.
Sebab, selama masyarakat berada dalam tekanan ekonomi dan terus disodori tawaran uang cepat serta iming-iming keuntungan instan, godaan untuk masuk ke dalam lingkaran tersebut akan tetap ada.
Karena itu, keluarga, lingkungan RT/RW, sekolah, tempat ibadah, komunitas dan dunia usaha memiliki peran penting untuk membuka ruang bagi mereka yang sedang terlilit persoalan utang.
Seseorang yang terjerat judol-pinjol tidak selalu membutuhkan penghakiman. Bisa jadi, yang paling mereka butuhkan adalah seseorang yang mau mendengar, membantu menghentikan siklus utang dan menunjukkan jalan keluar.
Pesan Agus sederhana: jangan percaya pada jalan pintas untuk menjadi kaya.
Utang untuk membangun usaha produktif yang terukur dapat menjadi alat untuk meningkatkan kehidupan. Tetapi utang yang digunakan untuk berjudi justru dapat menjadi pintu menuju kehancuran ekonomi dan keluarga.
“Utang untuk mendukung usaha produktif adalah tangga untuk naik kelas. Tetapi utang untuk bermain judol adalah lompatan ke dalam jurang.”

Komentar