Jumat, 28 Agustus 2026 | 13:21
NEWS

Hari Kedua Muktamar NU, Ribuan Peziarah Padati Makam Gus Dur

Hari Kedua Muktamar NU, Ribuan Peziarah Padati Makam Gus Dur
Memasuki hari kedua pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Jumat (28/8/2026), ribuan warga Nahdliyin dari berbagai daerah terus berdatangan ke Kabupaten Jombang, Jawa Timur. (Dok Erfan)

ASKARA - Memasuki hari kedua pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Jumat (28/8/2026), suasana religius tidak hanya terasa di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sebagai pusat berlangsungnya muktamar. Arus warga dan muktamirin juga terlihat meningkat di Kawasan Makam Masyayikh Pondok Pesantren Tebuireng.

Momentum Muktamar ke-35 NU yang berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Jombang membawa dampak tersendiri terhadap jumlah peziarah yang datang ke makam para ulama pendiri dan tokoh besar NU, termasuk makam Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari serta KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Muhammad Ali Bahrudin, salah seorang petugas makam yang telah bertugas sekitar satu setengah tahun, mengatakan peningkatan jumlah peziarah mulai terasa sejak Muktamar ke-35 NU berlangsung.

Menurut pria yang akrab disapa Ali itu, mayoritas peziarah yang datang merupakan warga Nahdliyin dan muktamirin dari berbagai daerah di Indonesia yang menyempatkan diri berziarah di tengah agenda Muktamar NU.

“Kalau di momen Muktamar seperti sekarang ini, peziarah yang datang cukup banyak. Dalam sehari kurang lebih bisa mencapai sekitar 500 sampai 1.000 orang,” ujar Ali saat ditemui di kawasan Makam Masyayikh Tebuireng, didampingi Ajib, Jumat (28/8/2026).

Ia mengatakan, para peziarah yang datang tidak hanya berasal dari Jawa Timur atau wilayah Pulau Jawa. Banyak di antaranya datang dari daerah yang cukup jauh, seperti Kalimantan dan Sulawesi.

Hal tersebut, menurut Ali, dapat dilihat dari pertanyaan para peziarah yang masih mencari lokasi makam tokoh-tokoh tertentu di kawasan tersebut.

“Mayoritas memang datang dari daerah jauh. Banyak yang bertanya, makam Mbah Hasyim sebelah mana, makam Gus Dur yang mana. Dari pertanyaan-pertanyaan itu, kami bisa melihat bahwa banyak yang datang memang pertama kali berziarah ke sini,” ungkapnya.

Untuk memberikan pelayanan kepada para muktamirin dan warga Nahdliyin, pengelola Pesantren Tebuireng juga menerapkan kebijakan khusus selama momentum Muktamar ke-35 NU.

Kawasan Makam Masyayikh Tebuireng dibuka selama 24 jam untuk memudahkan para peziarah yang datang dari berbagai daerah. Kebijakan tersebut diberlakukan selama rangkaian Muktamar ke-35 NU dan menjadi bagian dari pelayanan Pesantren Tebuireng kepada para peserta, tamu, serta masyarakat yang ingin berziarah.

Pada hari-hari biasa, terdapat pengaturan waktu tertentu bagi masyarakat yang hendak melakukan ziarah. Namun, khusus selama pelaksanaan Muktamar NU, akses menuju kawasan makam dibuka penuh mengingat tingginya potensi kedatangan warga Nahdliyin dari berbagai penjuru Tanah Air.

Ali menjelaskan, kompleks Makam Masyayikh Tebuireng merupakan tempat peristirahatan terakhir keluarga Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari, mulai dari putra, putri, cucu hingga cicit beliau, serta sejumlah santri dan tokoh yang memiliki hubungan dengan Pesantren Tebuireng.

Salah satu tokoh yang dimakamkan di kawasan tersebut adalah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden keempat Republik Indonesia sekaligus cucu KH Hasyim Asy'ari.

Selain menjadi tujuan ziarah religius, keberadaan makam para masyayikh tersebut memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan perjalanan Nahdlatul Ulama. Karena itu, momentum Muktamar ke-35 NU turut mendorong banyak warga untuk mengenang sekaligus mendoakan para pendiri dan tokoh yang telah memberikan kontribusi besar bagi NU dan bangsa Indonesia.

Bagi Ali, meningkatnya jumlah peziarah selama Muktamar ke-35 NU menjadi gambaran kuatnya hubungan warga Nahdliyin dengan para ulama pendahulu.

Ia berharap Muktamar ke-35 NU dapat menjadi momentum penting bagi perjalanan organisasi ke depan.

“Harapan kami, Muktamar ini menjadi langkah bagi Nahdlatul Ulama untuk semakin baik ke depannya, semakin maju dan terus berbenah sebagai organisasi umat Islam terbesar. Semoga juga dipimpin oleh pemimpin yang tepat, yang mampu membawa kemajuan bagi NU dan memberikan kemaslahatan bagi umat,” tuturnya.

Muktamar ke-35 NU sendiri menjadi forum permusyawaratan tertinggi organisasi untuk merumuskan arah perjalanan dan program Nahdlatul Ulama ke depan. Ribuan utusan dan warga Nahdliyin dari berbagai daerah hadir di Jombang, menjadikan kota santri tersebut pusat perhatian nasional selama rangkaian muktamar berlangsung.

Di tengah padatnya agenda persidangan dan pertemuan para muktamirin di Tambakberas, Tebuireng menjadi salah satu tujuan penting yang tidak terpisahkan dari perjalanan spiritual warga NU.

Ziarah ke makam Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, Gus Dur, dan para masyayikh Tebuireng pun menjadi bagian dari perjalanan banyak muktamirin dalam menyambut serta mengiringi berlangsungnya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang.

 

Komentar