Banjir dan Longsor Aceh Tengah, Momentum Selamatkan Ekosistem Kopi Gayo
ASKARA - Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tengah tidak hanya meninggalkan kerusakan pada tanaman kopi. Bencana juga mengganggu kondisi tanah, sumber air, infrastruktur kebun, akses produksi hingga kehidupan sosial-ekonomi masyarakat petani.
Karena itu, pemulihan perkebunan kopi Arabika Gayo dinilai tidak boleh berhenti pada pembagian bibit dan penanaman kembali pohon yang rusak. Pascabencana harus menjadi momentum untuk membenahi sistem perkebunan secara menyeluruh.
Pandangan tersebut disampaikan Putra Junrapico, penggiat Kopi Gayo sekaligus Founder Gayo Coffee Origin Institute. Menurutnya, persoalan paling strategis setelah bencana bukan sekadar menghitung berapa banyak pohon kopi yang tumbang atau berapa luas kebun yang rusak.
“Yang harus kita selamatkan bukan hanya pohon kopinya, tetapi ekosistem kebunnya dan kehidupan petaninya. Kalau kita hanya mengganti tanaman yang rusak tanpa memperbaiki tanah, tata air dan sistem budidayanya, maka kita hanya menunggu bencana berikutnya,” ujar Putra, Jumat (14/8/2026).
Jangan Sekadar Tanam Bibit
Menurut Putra, rehabilitasi lahan harus menjadi prioritas. Kebun yang mengalami longsor dan erosi tidak bisa diperlakukan sama dengan kebun yang hanya mengalami kerusakan tanaman.
Hilangnya lapisan tanah atas, bahan organik dan struktur tanah membutuhkan proses pemulihan yang disesuaikan dengan tingkat kerusakan serta kondisi biofisik masing-masing kawasan.
Kondisi geografis dataran tinggi Gayo yang banyak berada di wilayah perbukitan dan lereng juga membuat konservasi tanah dan air menjadi bagian penting dalam pemulihan.
Sistem budidaya ke depan perlu memperhatikan kontur lahan, tanaman penutup tanah, rorak, teras konservasi, vegetasi penguat lereng dan pohon penaung. Dengan pendekatan tersebut, kebun kopi tidak hanya menjadi tempat menghasilkan komoditas, tetapi sekaligus berfungsi sebagai bagian dari perlindungan lingkungan.
Membangun Kebun yang Lebih Tangguh
Putra menilai paradigma rehabilitasi juga perlu diubah. Pemulihan tidak cukup hanya mengganti tanaman yang mati dengan bibit baru.
Penggunaan bibit berkualitas memang penting, tetapi harus ditempatkan dalam sistem budidaya yang tepat. Pengelolaan tanah, air, naungan, pemupukan organik dan pengendalian organisme pengganggu tanaman harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Kita jangan sekadar membangun kembali kebun seperti sebelum bencana. Kita harus membangun kebun yang lebih tangguh daripada sebelumnya. Inilah prinsip build back better yang harus kita terapkan pada perkebunan kopi Gayo,” katanya.
Menurut dia, ukuran keberhasilan rehabilitasi juga tidak boleh berhenti pada jumlah bibit yang dibagikan atau luas lahan yang ditanami kembali.
Ukuran yang lebih penting adalah ketika kebun kembali produktif, pendapatan petani pulih, biaya produksi terkendali dan keluarga petani kembali memiliki kepastian ekonomi.
Data Menjadi Kunci
Putra juga mendorong penguatan data kerusakan kebun. Aceh Tengah membutuhkan basis data spasial mengenai perkebunan kopi yang terdampak bencana.
Data tersebut idealnya mencakup lokasi, luas kebun, tingkat kerusakan tanaman, kerusakan lahan, aksesibilitas hingga tingkat kerawanan bencana.
Dengan data yang akurat, intervensi pemerintah maupun bantuan dari berbagai pihak dapat diarahkan secara lebih tepat sasaran.
Pada saat yang sama, kelembagaan petani juga harus diperkuat. Petani tidak boleh hanya diposisikan sebagai penerima bantuan, tetapi menjadi aktor utama dalam proses rehabilitasi.
Kelompok tani, koperasi dan kelembagaan ekonomi petani perlu diperkuat agar mampu mengelola kebun, sarana produksi, pascapanen hingga pemasaran secara lebih mandiri.
Jangan Kehilangan Identitas Kopi Gayo
Pemulihan pascabencana juga harus tetap menjaga identitas dan kualitas Kopi Arabika Gayo.
Menurut Putra, bencana tidak boleh menjadi alasan untuk mengubah sistem produksi secara serampangan. Varietas, mutu, ketertelusuran, lingkungan produksi serta karakter khas Kopi Gayo harus tetap dipertahankan.
Sebab Kopi Gayo bukan sekadar tanaman perkebunan. Ia merupakan bagian dari identitas ekonomi dan kehidupan masyarakat Aceh Tengah serta memiliki reputasi sebagai salah satu kopi spesialti Indonesia di pasar nasional maupun internasional.
Karena itu, pemulihan membutuhkan kerja bersama. Pemerintah pusat dan daerah, petani, perguruan tinggi, pelaku usaha, koperasi, lembaga penelitian hingga masyarakat perlu berada dalam satu ekosistem pemulihan.
“Bencana memang membawa kerusakan, tetapi di balik itu ada kesempatan untuk memperbaiki cara kita membangun perkebunan kopi. Mari kita pulihkan tanahnya, kita sehatkan kebunnya, kita kuatkan petaninya dan kita jaga masa depan Kopi Gayo,” ujar Putra.
Bagi Aceh Tengah, pemulihan pascabencana bukan sekadar mengembalikan apa yang telah hilang. Ini kesempatan untuk membangun kembali perkebunan kopi yang lebih kuat, lebih sehat, lebih ramah lingkungan dan lebih siap menghadapi perubahan iklim.
Sebab jika yang dibangun kembali hanya pohon kopinya, sementara tanah, air dan kehidupan petaninya dibiarkan rapuh, maka bencana berikutnya tinggal menunggu waktu.

Komentar