Minggu, 27 September 2026 | 21:12
OPINI

Apa itu Seni?

Apa itu Seni?
Ilustrasi apa itu seni? (Dok Askara)

Oleh: Jaya Suprana

ASKARA - Pertanyaan ini terkesan sederhana, tapi telah membuat para filsuf bertengkar selama 2500 tahun, akibat manusia mustahil sempurna termasuk para filsuf yang paling cendekia. Wajar sampai masa kini belum ada manusia yang mampu mendefinisikan seni secara sempurna lengkap, utuh, komprehensif.

Kata "seni" dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta “sani” yang berarti pemujaan dan pelayanan. Akarnya sama dengan kata "seni" dalam bahasa Jawa Kawi. Sinonim ragam Krama Inggil : mboten migunani . Maka ada istilah bahasa Indonesia : seni yang bisa ditafsirkan sebagai air yang tidak berguna lagi.

Di linguistik Barat, kata “art” berasal dari Latin “ars” yang berarti keterampilan. Pada zaman prasejarah, seni tidak ada untuk "indah-indahan". Seni adalah teknologi survival. Lukisan di Gua Leang-Leang Maros (45.000 tahun lalu) atau Lascaux adalah mantra perburuan. Manusia menggambar bison agar bison itu bisa ditangkap. Seni adalah doa, bukan hiasan.

Di Mesir dan Yunani kuno, seni adalah alat negara dan agama. Patung seperti di Abu Simbel bukan untuk dinikmati, tapi membuat dewa hadir dan raja abadi.

Sejarah seni adalah sejarah pergeseran fungsi:

1. Seni sebagai Keterampilan (Abad Pertengahan): seniniman adalah tukang. Pelukis setara dengan tukang sepatu. Mereka tergabung dalam gilda.

2. Seni sebagai Mimesis (Renaissance - Abad 19): Sejak Aristoteles, seni didefinisikan sebagai peniruan alam . Semakin mirip lukisan dengan aslinya, semakin hebat seninya. Leonardo da Vinci dan Rembrandt adalah puncak ide ini.

3. Seni sebagai Ekspresi (Abad 19-20): Kamera ditemukan. Tugas meniru alam diambil alih mesin. Seniman memberontak. Van Gogh tidak lagi melukis apa yang ia lihat, tapi apa yang ia rasakan. Seni menjadi ekspresi batin.

4. Seni sebagai Ide (Abad 20-Sekarang): Marcel Duchamp memajang urinoir dan menyebutnya seni. Andy Warhol memajang kaleng sup. Joseph Beuys bikin pahatan sosial. Karlheinz Stockhausen mempergelar musik geometris dan serial aleatoris. Jaya Suprana pameran karya kartun 3 dimensi. Di sini seni bukan lagi soal keterampilan atau keindahan, tapi soal gagasan. Jika seorang seniman bilang itu seni, maka itu seni.

Untuk memudahkan, para ahli membagi seni menjadi 3 keluarga besar:

Seni Rupa (yang dilihat): Lukis, patung, grafis, fotografi, instalasi. Dinikmati dengan mata.

Seni Pertunjukan (yang dialami): Musik, tari, teater, film. Ada unsur waktu dan tubuh.

- Seni Sastra (yang dibayangkan): Puisi, prosa, drama. Menggunakan kata sebagai medium.

Di Indonesia, taksonomi ini dilengkapi dengan Seni Kriya dan Seni Tradisional yang tidak memisahkan fungsi dan keindahan. Batik, keris, atau tenun bukan hanya indah, tapi juga memiliki fungsi magis dan sosial.

Evolusi seni hari ini telah sampai pada fase dematerialisasi. Dengan AI, NFT, dan media sosial, seni tidak lagi butuh kanvas atau panggung. Siapa pun bisa menjadi seniman, dan apa pun bisa menjadi galeri.

Lalu, akhirnya apa itu seni ?

Satu di antara jawaban paling mendekati kesempurnaan adalah mungkin definisi  yang digagas filsuf Arthur Danto : Seni adalah apa pun yang komunitas seni sepakat sebagai seni. Seni bukan benda, tapi cara manusia memandang dan menafsirkan benda. Secara individual maupun konspirasional. Silakan Anda masing-masing bikin definisi sendiri, selama belum ada KUHP yang menggolongkannya sebagai kriminal.

 

 

Komentar