Filsafat 'Toy Story'
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Pada mulanya saya menonton Toy Story dengan niat sederhana yaitu mencari hiburan. Titik. Tidak lebih dan tidak kurang. Saya sama sekali tidak berniat merenungkan filsafat, apalagi mempersoalkan hakikat kesadaran. Namun, seperti sering terjadi, niat sederhana itu ternyata tidak selalu dipedulikan oleh karya kebudayaan yang bandel.
Dalam Toy Story, para boneka hidup, bercakap-cakap, bertengkar, saling iri, dan saling setia—tentu saja hanya selama tidak ada manusia di dekat mereka. Begitu manusia muncul, mereka segera membeku, kembali menjadi benda mati yang tidak bergerak sedikitpun. Kecuali digerakkan oleh manusia. Aturan ini tampaknya dibuat demi ketertiban semesta: manusia tidak boleh diganggu oleh fakta bahwa benda-benda di sekitarnya mungkin mampu berpikir lebih serius daripada dirinya.
Pada titik ini, saya teringat pada Chuang Tse, filsuf Taoisme, yang suatu hari bermimpi menjadi kupu-kupu, lalu bangun dengan kebingungan eksistensial: apakah ia manusia yang bermimpi menjadi kupu-kupu, atau kupu-kupu yang bermimpi menjadi manusia? Bedanya, Chuang Tse masih diberi hak untuk bingung. Para boneka Toy Story tidak. Mereka tahu persis bahwa mereka hidup, namun juga tahu bahwa pengetahuan itu tidak boleh bocor ke dunia manusia.
Ironisnya, para boneka itu justru jauh lebih konsisten secara ontologis dibanding kita. Mereka tidak pernah meragukan kesadarannya sendiri. Yang mereka ragukan hanyalah apakah masih ada tempat bagi mereka di hati pemiliknya. Persoalan eksistensial mereka bukan “siapa aku?”, melainkan “masih bergunakah aku?”. Pertanyaan yang, jika dipikir-pikir, sangat manusiawi.
Perdebatan klasik antara George Berkeley dan David Hume soal pohon tumbang di hutan belantara tiba-tiba terasa relevan. Berkeley berpendapat bahwa ada berarti dipersepsi ada. Jika tidak ada yang melihat atau mendengar, maka peristiwa itu seolah tidak pernah terjadi. Hume, dengan sikap lebih hemat emosi, mengatakan bahwa getaran udara tetap ada, meskipun tidak ada yang merasakannya sebagai suara. Toy Story tampaknya memilih jalan tengah yang nakal: para boneka tetap hidup, tetapi sebaiknya jangan sampai ketahuan.
Tokoh Woody dan Buzz Lightyear memberi contoh konkret bagaimana kesadaran tidak selalu membawa kebahagiaan. Woody sadar dirinya mainan dan menerimanya dengan kecemasan yang terkelola. Buzz justru sempat yakin bahwa ia pahlawan antariksa sungguhan—sampai kesadaran datang seperti palu godam. Namun, setelah sadar, hidupnya tidak otomatis menjadi lebih baik. Ia hanya menjadi boneka yang tahu terlalu banyak. Rupanya, pencerahan tidak selalu disertai kompensasi.
Filsuf Jerman kontemporer di Universitas Bonn Markus Gabriel berbicara tentang dunia sebagai kumpulan medan makna. Tidak ada satu dunia tunggal yang memonopoli kenyataan. Dalam konteks Toy Story, dunia manusia dan dunia mainan sama-sama sah, hanya saja yang satu mendapat hak bicara, sementara yang lain cukup tahu diri untuk diam. Barangkali di situlah terletak hakikat kebijaksanaan para boneka yakni mereka hidup tanpa perlu pengakuan.
Akhirnya, Toy Story mengajarkan satu hal sederhana yang mungkin kurang nyaman: bahwa kesadaran tidak selalu tampak pada mereka yang paling lantang, dan bahwa makna sering kali hidup justru di tempat yang kita anggap sepele. Film ini bisa dinikmati sebagai hiburan keluarga yang menyenangkan. Namun, jika kita bersedia sedikit usil terhadap diri sendiri, Toy Story juga bisa menjadi pengingat bahwa jangan-jangan, di dunia ini, bukan kita yang paling nyata ada hanya akibat kita yang paling sering melihat dan terlihat. Menyadari dan tersadarkan.

Komentar