Kamis, 06 Agustus 2026 | 02:09
OPINI

Orde Pagar

Orde Pagar
Ilustrasi Orde Pagar (Dok Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Negeri kita sedang gaduh. Bukan karena beras. Bukan karena listrik. Gaduhnya karena pagar. Ya, pagar. Benda yang tingginya 2 meter dan panjangnya entah berapa kilometer itu tiba-tiba jadi isu nasional. DPR rapat khusus. Pakar diundang. Buzzer perang. Warganet bikin meme. Semua demi pagar. Selamat datang di era baru. Setelah ORLA dan ORBA maka tiba saatnya: ORPA alias Orde Pagar.

Bab 1: Awal Mula - Dari Keamanan Jadi Ketakutan

Dulu pagar fungsinya simpel: biar kambing tetangga tidak masuk. Sekarang pagar fungsinya filosofis: biar "mereka" tidak masuk. "Mereka" siapa? Tergantung siapa yang ngomong. Bisa jadi investor. Bisa jadi rakyat. Bisa jadi masa depan. Yang jelas, setiap ada masalah, solusi pertama bangsa ini bukan "benahi sistem". Solusinya: tinggikan pagar. Korupsi? Pagarin KPK. Demo? Pagarin gedung. Terutama Gedung DPR. Data bocor? Pagarin server. Pakai password "123456". Aman.

Bab 2: Dua Kubu, Satu Semen

Muncul dua kubu besar di jagat maya:

Kubu #PagarAdalahHak

Argumennya: "Ini tanah saya. Saya mau pagar 10 meter juga boleh. Toh bayar PBB." Filosofinya: Kebebasan individu. Prinsip liberal. Faktanya: Tanahnya dulu dapat hibah.

Kubu #CopotPagarRakyat

Argumennya: "Itu akses umum! Laut itu milik nelayan!"

Filosofinya: Keadilan sosial. Prinsip konstitusi.

Faktanya: Rumahnya sendiri pakai pagar setinggi 3 meter + kawat berduri.

Lucunya, dua kubu ini sama-sama posting dari dalam pagar. Sambil ngopi. Sambil marah. Sambil tag 10 menteri.

Bab 3: Hikmah Pagar

Setelah sebulan polemik, kita dapat 3 pelajaran penting:

1. Pagar adalah cermin. Makin tinggi pagar kita, makin dalam ketakutan kita.

2. Pagar adalah ekonomi baru. Tukang las, tukang batu, konsultan pagar, sampai influencer "review pagar" naik semua.

3. Pagar paling tinggi adalah pagar diskusi. Kita jago banget bikin pagar antar kelompok. Yang beda pendapat langsung kita "pagar" dengan label: buzzer, kadrun, cebong, wokes.

Pemerintah bingung. Mau nurut rakyat, takut investor kabur. Mau nurut investor, takut rakyat demo.

Solusi tengahnya: bikin pagar transparan. Biar semua bisa lihat, tapi tetap tidak bisa masuk.

PenutupSiapa yang Kita Pagar Sebenarnya?

Ironis. Kita ribut soal pagar sepanjang 30 km.

Tapi kita diem soal pagar kemiskinan yang menjebak 25 juta orang.

Kita demo soal pagar laut. Tapi kita pasif soal pagar birokrasi yang bikin urus KTP 3 bulan.

Mungkin masalahnya bukan pagarnya.

Mungkin masalahnya: kita lebih nyaman ribut soal benda yang kelihatan, daripada masalah yang tidak kelihatan.

Jadi, tinggikan terus pagarnya.

Siapa tahu suatu hari kita sadar... yang kita pagar selama ini bukan "mereka".

Yang kita pagar adalah diri kita sendiri.

Di dalam. Sendirian. Aman. Tapi sesak.

 

Komentar