Kongres Umat Islam Indonesia Digelar Juli 2026
ASKARA— Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan menyelenggarakan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII pada 24–26 Juli 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta. Forum strategis yang mempertemukan unsur ulama, cendekiawan, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan Islam, serta berbagai elemen bangsa ini diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan umat, memperkokoh kehidupan berbangsa, dan merumuskan arah kontribusi umat Islam dalam pembangunan nasional berkelanjutan.
Kongres Umat Islam Indonesia VIII menjadi salah satu agenda nasional keumatan yang dinantikan berbagai kalangan. Mengusung semangat “Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat”, kegiatan ini dirancang sebagai ruang musyawarah, konsolidasi, dan perumusan rekomendasi strategis terhadap berbagai persoalan yang dihadapi umat, bangsa, dan negara dalam dinamika kehidupan kontemporer.
Ketua Dewan Pertimbangan MUI, K.H. Ma'ruf Amin, bersama jajaran pimpinan MUI dan panitia pelaksana akan menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan forum tersebut. Sejumlah tokoh nasional yang tergabung dalam kepengurusan MUI turut mengemban tanggung jawab menyukseskan agenda yang diselenggarakan setiap beberapa tahun sekali itu.
Dalam susunan kepanitiaan yang diumumkan, K.H. M. Anwar Iskandar dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI. Sementara itu, K.H. M. Cholil Nafis menjabat Wakil Ketua Umum, didampingi Buya H. Anwar Abbas dan K.H. Marsudi Syuhud sebagai Wakil Ketua Umum lainnya. Struktur kepanitiaan juga diperkuat oleh H. Misbahul Ulum sebagai Bendahara Umum dan Buya H. Amirsyah Tambunan sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan MUI.
Selain itu, Dewan Pertimbangan turut diperkuat oleh H. Zainut Tauhid Sa'adi sebagai Sekretaris Dewan Pertimbangan. Adapun kepanitiaan operasional kongres melibatkan berbagai unsur, antara lain H. Asrori S. Karni sebagai Sekretaris Organizing Committee (OC), M. Azrul Tanjung sebagai Ketua OC, H. Rofiqul Umam Ahmad sebagai Sekretaris Steering Committee (SC), serta Hj. Trisna Ningsih Yuliati Djuwaeli yang dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara OC.
Kongres Umat Islam Indonesia VIII diproyeksikan menjadi forum representatif yang menghimpun gagasan dan aspirasi dari berbagai organisasi Islam, lembaga pendidikan, pondok pesantren, akademisi, profesional, serta unsur masyarakat lainnya. Berbagai isu strategis diperkirakan akan menjadi perhatian dalam pembahasan kongres, mulai dari penguatan moderasi beragama, pembangunan sumber daya manusia unggul, pemberdayaan ekonomi umat, ketahanan keluarga, transformasi digital, hingga tantangan geopolitik global yang berdampak pada kehidupan umat Islam di Indonesia.
Para peserta kongres juga diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga aplikatif dan implementatif. Rekomendasi tersebut nantinya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah, lembaga negara, organisasi kemasyarakatan, serta seluruh komponen bangsa dalam merumuskan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat dan kemajuan Indonesia.
Di tengah berbagai tantangan nasional maupun global yang semakin kompleks, persatuan umat menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Karena itu, Kongres Umat Islam Indonesia VIII dipandang sebagai wahana penting untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah. Melalui dialog, musyawarah, dan pertukaran gagasan yang konstruktif, forum ini diharapkan mampu melahirkan solusi yang relevan bagi kemajuan umat dan bangsa.
Penyelenggaraan kongres di Jakarta juga memiliki makna strategis karena ibu kota merupakan pusat pemerintahan, ekonomi, dan kebijakan nasional. Kehadiran para ulama, cendekiawan, pemimpin organisasi Islam, serta tokoh masyarakat dari berbagai daerah diharapkan semakin memperkaya perspektif dan memperkuat semangat kebersamaan dalam membangun Indonesia yang berdaulat, adil, makmur, dan berkeadaban.
Dengan dukungan seluruh elemen umat Islam dan masyarakat Indonesia, Kongres Umat Islam Indonesia VIII diharapkan tidak hanya menjadi ajang seremonial semata, melainkan benar-benar menjadi titik tolak lahirnya gagasan besar, langkah nyata, dan komitmen bersama untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat, memperkuat persatuan bangsa, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung.

Komentar