Ketika Pengabdian Menjadi Kenangan, Nama Arsal Tetap Dikenang Warga Lumajang
ASKARA - Nama Kombes Pol. Dr. Muhammad Arsal Sahban mungkin bukan lahir dari tanah Lumajang. Ia berasal dari Kalosi, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Namun, bagi banyak warga Lumajang, sosok mantan Kapolres yang hanya bertugas sekitar 13 bulan itu ternyata masih membekas hingga kini.
Hal itu tergambar dalam riset yang dilakukan komunitas sejarah dan budaya independen Juru Lamadjang, yang baru saja merilis daftar tokoh paling berpengaruh di Lumajang dari berbagai zaman, mulai era klasik abad ke-13 hingga masa Reformasi.
Di antara puluhan nama yang masuk dalam daftar, Arsal Sahban menjadi satu-satunya tokoh pada kategori Era Reformasi hingga Sekarang yang bukan berasal dari Lumajang. Meski demikian, namanya justru muncul berulang kali saat tim peneliti berdialog langsung dengan masyarakat.
Komunitas Juru Lamadjang sendiri berdiri pada 2023 sebagai gerakan literasi sejarah dan budaya. Nama "Lamadjang" diambil dari nama kuno Kabupaten Lumajang yang tercatat dalam berbagai prasasti dan naskah sejarah. Selain aktif menggelar Jagongan Sejarah, walking tour, pameran arsip dan fotografi kuno, komunitas ini juga aktif mengedukasi masyarakat melalui media sosial.
Riset tokoh berpengaruh tersebut dikerjakan oleh M. Zainul M, Fahmi K, Agil Z, dan Perdana Anugrah bekerja sama dengan Untuk Bangsa Foundation. Penilaiannya tidak didasarkan pada popularitas atau jabatan semata, tetapi menggunakan lima indikator, yakni rekam jejak pengabdian, kredibilitas, jaringan sosial, kemampuan memengaruhi opini publik, serta dampak nyata yang masih dirasakan masyarakat.
Untuk memperoleh hasil yang objektif, tim tidak hanya menelaah dokumen sejarah, tetapi juga turun langsung ke sejumlah wilayah di Lumajang untuk menggali ingatan kolektif masyarakat.
"Kami mencoba menggunakan ukuran penilaian yang seobjektif mungkin. Ketika berdiskusi dengan warga di beberapa wilayah sampel, nama Bapak Arsal Sahban muncul begitu saja, terutama saat pembicaraan menyentuh soal keamanan," kata Perdana Anugrah.
Menurutnya, banyak warga yang masih mengingat masa kepemimpinan Arsal karena merasa kondisi keamanan saat itu jauh lebih baik.
"Warga dengan spontan mengatakan, 'enak zamannya Pak Arsal, masyarakat aman dan merasa dilindungi.' Jadi bukan sekadar karena beliau pernah menjabat, tetapi karena dampaknya masih dirasakan sampai sekarang," ujarnya.
Arsal Sahban menjabat sebagai Kapolres Lumajang sejak November 2018 hingga Desember 2019. Dalam waktu yang relatif singkat, ia dikenal gencar memberantas kejahatan jalanan, aksi begal, pencurian ternak, hingga aktivitas tambang pasir ilegal melalui pembentukan Tim Cobra.
Saat itu, Lumajang kerap mendapat stigma sebagai daerah rawan begal. Banyak warga mengaku takut bepergian pada malam hari, sementara pencurian sapi menjadi persoalan yang hampir setiap malam menghantui masyarakat pedesaan.
Upaya penegakan hukum yang dilakukan Tim Cobra dinilai berhasil menurunkan rasa takut masyarakat terhadap kejahatan atau fear of crime, sebuah istilah yang dikenal dalam kajian kriminologi.
Kesan masyarakat tersebut ternyata juga didukung oleh data resmi. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lumajang, jumlah tindak pidana pada 2019 tercatat sebanyak 312 kasus, menjadi angka terendah dalam rentang 2016 hingga 2024.
Pada 2016 tercatat 501 kasus, meningkat menjadi 549 kasus pada 2017 dan 676 kasus pada 2018. Setelah turun drastis menjadi 312 kasus pada 2019, jumlah tindak pidana kembali meningkat menjadi 356 kasus pada 2020, 589 kasus pada 2021, 1.378 kasus pada 2022, 1.402 kasus pada 2023, dan 1.194 kasus pada 2024.
Data tersebut menunjukkan penurunan hampir 54 persen pada 2019 dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara pada tahun-tahun setelah Arsal meninggalkan Lumajang, angka kriminalitas kembali meningkat hingga lebih dari empat kali lipat dibandingkan 2019.
Unggahan Juru Lamadjang mengenai daftar tokoh berpengaruh juga mendapat banyak respons dari masyarakat di media sosial. Sejumlah warganet mengaku masih mengingat kepemimpinan Arsal Sahban.
Akun @rozyeee_ menulis, "Panutan." Akun @denny_andirunisa berkomentar, "Pak Arsal, kangen." Sementara akun @mochasoleh menyebut Arsal sebagai salah satu tokoh Lumajang.
Menanggapi namanya masuk dalam daftar tersebut, Arsal menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada masyarakat Lumajang.
"Saya merasa sangat terhormat bisa dianggap sebagai bagian dari tokoh yang berpengaruh di Kabupaten Lumajang. Ini menjadi pengingat bahwa apa yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh, meskipun dalam waktu yang singkat, dapat meninggalkan kesan yang panjang. Lumajang akan selalu memiliki tempat tersendiri di hati saya," ujar Arsal.
Saat ini Arsal Sahban mengemban tugas sebagai Kasubdit II/Perbankan Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri. Ia juga masuk dalam tiga besar kandidat Polisi Berintegritas pada Hoegeng Awards 2026.
Dalam kategori Era Reformasi hingga Sekarang, Juru Lamadjang memasukkan sejumlah tokoh yang dinilai memberi kontribusi penting bagi Lumajang, antara lain A. Fauzi, Sjahrazad Masdar, Thoriqul Haq, Indah Amperawati, Agus Yudha Wicaksono, Umar Bashor, H. Rofik, Anang Ahmad, Arsal Sahban, Kaji Sing, Setiadi L. Halim, Dandhy D. Laksono, Habib Alwi Almuhdor, dan Wira Dharma.
Riset ini menjadi pengingat bahwa pengaruh seorang tokoh tidak selalu ditentukan oleh lamanya menjabat atau asal daerahnya. Bagi masyarakat Lumajang, yang paling membekas adalah jejak pengabdian yang nyata dan manfaat yang masih mereka rasakan hingga hari ini.

Komentar