Minggu, 28 Juni 2026 | 02:37
NEWS

Konsistori Luar Biasa Bahas Sinodalitas dan Wajah Imamat yang Lebih Injili

Konsistori Luar Biasa Bahas Sinodalitas dan Wajah Imamat yang Lebih Injili
Sesi Keempat Konsistori Luar Biasa (Dok Vatican)

ASKARA - Sidang pertama sesi keempat Konsistori Luar Biasa para Kardinal berlangsung pada Sabtu (27/6) sore pukul 16.00 waktu setempat di Aula Sinode Baru, Vatikan. Pertemuan membahas berbagai isu penting mengenai pendalaman sinodalitas, pembaruan pelayanan imamat, serta tantangan Gereja dalam menjalankan misinya di dunia saat ini.

Berdasarkan keterangan Kantor Pers Takhta Suci, jalannya sidang dipandu oleh Kardinal Joseph William Tobin dan diawali dengan laporan pengantar dari Kardinal Mario Grech.

Dalam pembahasan, sejumlah kardinal menyoroti pentingnya memperdalam dimensi asketis dan historis sinodalitas, sekaligus menghadirkan gambaran mengenai imamat yang semakin berakar pada semangat Injil dan terbebas dari praktik-praktik klerikalisme.

Para peserta juga mengingatkan agar proses konsultasi dalam kehidupan Gereja tidak menjadi terlalu rumit sehingga justru membebani tugas utama Gereja untuk memberikan kesaksian iman kepada dunia.

Meski demikian, para kardinal menegaskan bahwa baik struktur hierarki Gereja maupun seluruh Umat Allah memiliki peran masing-masing dalam proses mendengarkan dan membedakan kehendak Roh Kudus bagi Gereja.

Sidang juga memberikan perhatian khusus terhadap kontribusi Gereja-Gereja Katolik Timur. Pengalaman panjang komunitas-komunitas tersebut dalam menjalankan kehidupan sinodal dinilai menjadi kekayaan yang dapat memperkuat perjalanan seluruh Gereja universal.

Bagian pertama sidang berakhir sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Setelah jeda, agenda dilanjutkan dengan dialog bersama Paus Leo XIV. Dalam sesi tersebut, setiap peserta diberikan kesempatan berbicara hingga tiga menit untuk menyampaikan pandangan, masukan, maupun refleksi mengenai masa depan Gereja.

Konsistori Luar Biasa ini menjadi forum penting bagi para kardinal untuk memperkuat semangat kebersamaan, mendengarkan satu sama lain, serta mencari arah pastoral yang semakin relevan bagi Gereja Katolik di tengah tantangan zaman.

 

Komentar