Kenangan Bercengkerama dengan Puluhan Pemenang Nobel
Oleh: Prof. Ismunandar
ASKARA - Kemarin, saya diundang Kemendiktisaintek untuk ikut rapat persiapan keberangkatan delegasi Indonesia ke Lindau Nobel Laureate Meetings (LNLM) 2026. Undangan ini membawa kenangan panjang.
Dua puluh satu tahun lalu, saya termasuk 5 ilmuwan muda Indonesia yang pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Lindau — kota kecil cantik di tepi Danau Konstanz, Bavaria, Jerman. Waktu itu Indonesia baru saja merintis keikutsertaannya di forum bergengsi ini.
Yang membuat Lindau berbeda bukan sekadar siapa yang berbicara, melainkan cara mereka berbicara. Tidak ada podium yang mengintimidasi. Ada sesi Open Exchange — obrolan santai di mana ilmuwan muda duduk melingkar bersama seorang pemenang Nobel, berbagi cerita tentang kegagalan, laboratorium, dan mimpi. Ada Science Walks, jalan-jalan keliling pulau bersama para Laureate. Ada Laureate Lunches tanpa protokol kaku. Bagi 700 peneliti muda yang hadir setiap tahun di Lindau, ini bukan sekadar pertemuan akademik — ini transformasi cara pandang tentang sains sebagai panggilan hidup.
Indonesia juga pernah tampil sebagai tuan rumah International Day di Lindau — sebuah kehormatan tersendiri. Pada pertemuan ke-72 tahun 2023, ada penampilan tari dari Pesona Indonesia, makan malam Nusantara, dan saya (saat itu bertugas sebagai Dubes di UNESCO) berkesempatan memoderatori sesi tentang penanganan COVID-19 dan vaksin dalam negeri bersama Prof. Fedik Abdul Rantam (Unair) dan Dr. Antonia Saktiawati (UGM).
Kini tujuh ilmuwan muda kita — dari UPI, UI, ITB, UAD, Unhas, dan UNS — bersiap berangkat ke #LINO75, edisi peringatan 75 tahun yang menghadirkan sekitar 71 pemenang Nobel dan 600+ ilmuwan muda, 28 Juni–3 Juli 2026. Topik-topiknya sangat kekinian: AI dalam sains, komputasi kuantum, hingga "What Does It Mean to 'Understand' in the Age of AI?"
Mereka pasti sudah bersiap sepenuhnya pada apa yang menanti. Tapi saya tahu, yang mereka bawa pulang bukan hanya catatan ilmiah, melainkan keyakinan bahwa Indonesia punya suara yang layak didengar dalam percakapan sains dunia. Dan siapa tahu — suatu hari nanti, salah satu dari mereka kembali ke Lindau bukan sebagai peserta, melainkan sebagai pemenang Nobel. Rekan ilmuwan muda yang tertarik, bersiaplah mendaftar tahun depan!

Komentar