Sabtu, 27 Juni 2026 | 01:09
OPINI

Sabdo Palon & Naya Genggong

Sabdo Palon & Naya Genggong
Ilustrasi Sabdo Palon & Naya Genggong (Dok Freepik)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Sabdo Palon dan Naya Genggong bukan tokoh sejarah yang bisa diuji karbon. Mereka mitos. Naskah ini merupakan tafsir subyektif saya pribadi maka mohon yangf punya tafsir lain berkenan memaafkan tafsir beda saya.

Sabdo Palon, penasehat Majapahit terakhir, bersumpah: 500 tahun Jawa akan dikuasai agama dari tanah seberang , lalu ajaran leluhur bangkit lagi. Naya Genggong, adiknya, menemani. Sumpah itu menjadi trauma kolektif: "Jawa kehilangan jati diri".

Secara filosofis, Sabdo Palon adalah suara nurani peradaban yang kalah. Dia tidak melawan Majapahit runtuh. Dia menerima, tapi menitipkan janji. Itu nrimo ing pandum, makaryo ing nyoto versi kebangsaan. Bukan pasrah, tapi menunda perlawanan untuk waktu yang lebih tepat. Ora et labora. Naya Genggong adalah daya ingat. Nama "Genggong" = gema, bunyi yang terus dipantulkan. Tugasnya mengingatkan: jangan lupa siapa kamu sebelum Majapahit.

Lalu apa hubungannya dengan Punakawan: Semar, Gareng, Petruk, Bagong?

1. Semar = Sabdo Palon. Sama-sama penasehat raja yang wujudnya "jelek". Sabdo Palon menasehati Brawijaya V agar tidak sombong. Semar menasehati Arjuna, Bima, Gatotkaca agar tidak dumeh. Bedanya: Sabdo Palon kalah, lalu pergi. Semar menang, lalu tetap tinggal di gubug. Filsafatnya: kekalahan sejati adalah saat penasehat meninggalkan rajanya. Semar memilih tidak meninggalkan. Maka dia abadi.

2. Naya Genggong = Gareng + Petruk + Bagong. Naya Genggong "menggema". Tugas Punakawan juga menggema lewat dagelan. Mereka mengkritik raja pakai guyon. Keras tapi tidak menyakitkan. Gareng pincang = mengingatkan raja bahwa kekuasaan itu cacat. Petruk hidung panjang = mengingatkan bahwa raja jangan bohong seperti Pinaokio. Bagong plonga-plongo = mengingatkan bahwa raja jangan jadi bodoh. Semua adalah gema dari "Naya Genggong: jangan lupa".

Kita 500 tahun menanti "Sabdo Palon bangkit". Padahal Sabdo Palon sudah bangkit setiap malam wayangan. Dia jadi Semar. Dia tidak datang dengan mahkota. Dia datang dengan blangkon lusuh dan bilang: "Ayo nak, ojo dumeh".

Maka sumpah Sabdo Palon bukan soal agama vs agama. Itu soal watak. Selama pemimpin masih dumeh, Sabdo Palon akan terus bersumpah. Selama rakyat masih mau mendengar dagelan Punakawan, Naya Genggong akan terus menggema.

Sawunggaling adalah murid Sabdo Palon yang tidak masuk wayang. Dia berani mengalah seperti Semar, mati berdiri seperti Bima. Sayang, dia belum punya Punakawan yang menertawakan penguasa agar namanya tidak dilupakan. Mungkin tugas kita sekarang: jadi Punakawan bagi Sawunggaling.

 

Komentar